Sedang Membaca
Inspirasi Dakwah Milenial Mba Ienas 4 (Habis)

Inspirasi Dakwah Milenial Mba Ienas 4 (Habis)

Ienas Tsuroiya
Baca juga:  Inspirasi Dakwah Milenial Mba Ienas (3)

Setelah melewati hari yang panjang, bersiap sebelum Subuh hingga semua rangkaian acara di hari Jumat itu kelar beberapa menit setelah pergantian hari, kami tidur dengan nyenyak. Wonosobo ternyata ngga sedingin yang saya bayangkan. Kami tidur dengan nyaman, tanpa butuh selimut atau jaket tebal.

Pagi-pagi, tak lama setelah salat Subuh, di meja depan kamar sudah tersedia teh anget, tempe kemul dan resoles. Tak ada tamu lain di lantai dua rumah pak kiai itu. Jadi kami langsung saja ngeteh sambil menikmati suara para santri dari kejauhan, baca shalawatan kemudian nadzoman (menghafal kitab nahwu shorof dengan cara berdendang).

Setelah badan terasa hangat, barulah kami bergantian mandi dan bersiap untuk acara berikutnya, dialog bersama KMF (Keluarga Matholiul Falah).

Sebelum ke tempat acara, kami mampir ke rumah Mas Farid Gaban, mantan wartawan senior yang sekarang “hijrah”, meninggalkan hiruk-pikuk ibukota dan kembali ke alam. Di rumahnya yang asri di tepi Jalan KH. Abdurrahman Wahid, tak jauh dari Ponpes Al Mubaarok, Manggisan, dia memelihara ayam, ikan dan budidaya jangkrik. Ya, jangkrik, yang menurut penelitian terbaru, dagingnya berkhasiat untuk kesehatan.

Berbekal peta Google, kami kemudian menuju tempat acara, yaitu di Masjid Zainur Rozaq, di dusun Sarimulyo, Kalibeber. Melewati jalanan kampung yang sempit, sempat nyasar. Tapi nyasar yang menyenangkan, karena pemandangannya begitu indah. View gunung dan sawah yang bikin betah. Kalau saja ngga diburu waktu, pengen deh duduk berlama-lama di situ.

Sebelum ke tempat acara, kami diterima di rumah KH. As’ad Al-Hafidz. Acaranya berjudul “dialog interaktif” , sayang karena keterbatasan waktu, akhirnya malah tak ada sesi tanya jawab. Tapi saya lihat para peserta cukup puas dengan paparan Mas Ulil Abshar Abdalla yang lumayan lengkap.

Seperti biasa, sebelum pamitan, kami harus makan dulu di rumah Pak Kiai. Meski perut belum lapar, tetap ngga bisa menolak permintaan tuan rumah.

Kami mampir ke rumah Mas Arif, yang punya home industry minuman berbahan carica (buah semacam pepaya tapi lebih kecil). Sholat dan makan (lagi!) kali ini tak bisa menolak karena sang istri telah memasak sop kikil kambing spesial.

Perjalanan kembali ke Jogja berbeda dengan waktu berangkat ke Wonosobo kemaren. Kali ini yang nyetir mas Arif. Setirannya lebih halus dan jalannya santai. Pasti dia takut kena komplain mbak admin. Tapi memang saya jadi bisa tidur sejenak. Yang nyetir sih tetap saja, sambil ngobrol eh, wawancara terselubung..

Sesampai di Yogya, kami langsung menuju Perumahan Nogotirto. Sebelumnya sudah janjian via WA dengan mas Alim, yang akan menemani kami sowan Buya Syafii Maarif. Janjian sholat Maghrib berjamaah di masjid Nogotirto yang tak jauh dari rumah beliau.

Sekitar pukul 17.00, kami sampai di rumah mas Alim, ditemui istrinya, mbak Ranie Artika. Mbak Ranie ini yang fotonya ketika sedang membersihkan gerja St. Ludwina pasca serangan, sempat viral di media sosial. Dia juga aktivis Srikandi Lintas Iman. Sebelum ada kasus penyerangan gereja di Yogya itu, saya ngga kenal mbak Ranie. Berteman dengan sang suami di facebook pun belum lama. Tapi entah kenapa, begitu bertemu, langsung merasa akrab. Saya langsung minta ijin untuk mandi dan ganti baju.

Baca juga:  Inspirasi Dakwah Milenial Mba Ienas (2)

Tepat saat azan Maghrib, kami bersama menuju masjid. Dan setelah usai salat, kami sowan Buya Syafii, dan ngobrol cukup lama. Mas Munjid dan Wiwin juga ikut bergabung. Kami pamit setelah azan Isya berkumandang.

Cukup lama kami di rumah Mas Alim. Bapak-bapak pindah ke ruang tengah untuk nobar sepakbola (entah klub mana yang main saat itu, saya ngga tahu). Karena Mba Ranie malam itu berangkat ke Purwokerto naik kereta, Mas Alim mencoba membujuk kami untuk menginap di rumahnya.. nyari teman:))

“Dari sini lebih dekat ke Stasiun Tugu dibandingkan dari rumah Mas Munjid..”

Baca Juga

Tapi kami sudah terlanjur janji sama Mas Munjid dan Wiwin. Akhirnya, setelah makan malam dengan lauk sate, tongseng dan gule, kami pun pamitan.

Begitu nyampe di rumah Mas Munjid, bapak-bapak langsung menuju rumah Mas Imam Aziz yang memang tetanggaan sama Mas Munjid. Saya minta ijin ngga ikutan, karena harus mulai packing. Terutama mengemas oleh-oleh dari Wonosobo. Yang pernah mondok pasti familiar dengan istilah I-èN alias buah tangan. Istilah “i-èn” ini bisa berarti oleh-oleh dari santri untuk pak kiai, bisa juga diartikan sebagai oleh-oleh yang diberikan pak kiai untuk tamunya. Setelah urusan packing beres, barulah saya bisa tidur nyenyak.

Keesokan paginya, setelah sholat Subuh kami langsung bersiap pamit. Tapi tuan rumah memaksa kami sarapan dulu. Sambil sarapan, ngobrol bareng mas Munjid dan Martha, pendeta Kristen Mennonite yang kebetulan tinggal sementara di rumah mas Munjid selama ikut program belajar bahasa Indonesia.

Saking asyiknya ngobrol, berangkat ke stasiun mepet banget waktunya. Untung masih keburu. Dan masih sempat pula bertemu Mas Alim yang mengantarkan bakpia titipan sang istri.

Dengan demikian, berakhirlah sudah perjalanan singkat kami di Jogja dan Wonosobo. Singkat, tapi penuh makna. Terima kasih pada semua pihak yang telah membantu kami selama perjalanan ini. Jazaakumullah ahsanal jaza..

Selengkapnya

Baca juga:  Inspirasi Dakwah Digital Mba Ienas 1
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top