Sedang Membaca
Apa Ritual yang Dilakukan Muhammadiyah Setelah Salat Idul Fitri?
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Apa Ritual yang Dilakukan Muhammadiyah Setelah Salat Idul Fitri?

Mu'arif

Setelah prosesi salat Id dan khutbah selesai, kaum muslimin dianjurkan untuk bersilaturahim dan saling maaf memaafkan, yang diselenggarakan di tanah lapangan itu juga. Mengapa tanah lapangan menjadi pilihan bagi Muhammadiyah untuk menyelenggarakan silaturahim Syawalan?

Merujuk pada artikel yang ditulis Yunus Anis dapat ditemukan motif serta argumentasi di balik silaturahim Syawalan.

Pertama, membangun kembali relasi sosial melalui praktik silaturrahim, memohon maaf, dan saling mendoakan. Yunus Anis menulis:

Boekankah hari raja itoe goena bermaaf-maafan dan saling memintak ampoen kepada kawannja; tetapi ialah harinja do’a mendo’akan keselamatan di antara kaoem Moeslimin dan mengharap soepaia termasoek di dalam kemenangan dan kesentosaan; seperti jang tersiar dari dahoeloe dipergoenakan di negeri-negeri Islam, Mekah, Madinah, d.l.l.

Kedua, menghindari praktik pemborosan seperti hura-hura, bakar petasan, dan lain-lain.

Soenggoeh salah sekali dan keloear dari garis kebadjikan orang jang menghormati Hari-Raia dengan membakar wangnja dan memboeang harta bendanja di dalam kerojalan atau meniroe-niroe di dalam perboeatannja lain bangsa karena adalah dari larangannja Agama Islam jaitoe moebazdzdir,” tulis Yunus Anis.

Baca Juga

Ketiga, efektivitas silaturahim dan optimalisasi syiar Islam. Cukup menarik dalam hal ini karena Yunus Anis mengungkap suatu peristiwa unik silaturahim Syawalan di Jawa Tengah yang berakhir selama 15 hari karena harus datang dan berkunjung ke sanak keluarga dan tetangga yang begitu banyaknya.

Dengan pertimbangan efektivitas dan optimalisasi penyelenggaraan silaturahim Syawalan, maka sebaiknya digelar pertemuan akbar yang sudah barang tentu membutuhkan area yang luas atau di tanah lapangan.

Soepaia kita kaoem Moeslimin tidak terlampaoe memboeang waktoe di dalam memoeliakan hari raia, baiklah di tiap-tiap negeri itoe diadakan pertemoean oemoem oleh pendoedoeknja; jang disitoe dapat tiap2 orang akan berdjoempa dengan semoea sahabatnja dengan moedah dan tidak mengeloearkan ongkos jang banjak,” tulis Yunus Anis.

Baca Juga:  Buya Hamka dan Sepenggal Narasi “Islam Nusantara”

Kaloe tidak begitoe, hari raia akan blerotan selama 15 hari atau lebih, seperti jang telah kedjadian di mana-mana negeri, teroetama di Djawa Tengah.” []

Lihat Komentar (0)

Komentari