Sedang Membaca
Sabilul Muhtaj: Syarah Berbahasa Jawa al-Muqaddimah al-Hadhramiyyah Karangan Kiai Anwar Mertapada Cirebon (1860)
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Sabilul Muhtaj: Syarah Berbahasa Jawa al-Muqaddimah al-Hadhramiyyah Karangan Kiai Anwar Mertapada Cirebon (1860)

Ahmad Ginanjar Sya'ban

Ini adalah dua halaman pembuka dari manuskrip kitab Sabîl al-Muhtâj karangan Kiai Anwar b. Abdullâh b. Asrâ al-Syirbûnî al-Jâwî, seorang ulama asal Desa Mertapada, Cirebon, Jawa Barat (Kiai Anwar Mertapada), yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Pesantren Buntet, salah satu pesantren tertua di Cirebon yang masih berdiri dan berkembang hingga saat ini.

Kitab ini ditulis dalam bahasa Jawa aksara Arab (Pegon) dan diselesaikan penulisannya pada Ramadan 1277 H (bertepatan 1860 M). Kitab Sabilul Muhtaj merupakan terjemahan sekaligus penjelasan (syarah) berbahasa Jawa atas matan (teks) al-Muqaddimah al-Hadhramiyyah fî Fiqh al-Sâdah al-Syafi’iyyah karangan seorang ulama besar asal Yaman, Syaikh al-Faqih ‘Abdullah b. ‘Abd al-Rahman Ba-Fadhal al-Hadhrama al-Syafi’i (w. 918 H/ 1512 M).

Teks al-Muqaddimah al-Hadhramiyyah sendiri merupakan salah satu acuan yang sangat populer dalam bidang kajian fikih madzhab Syafi’i di dunia Islam, khususnya bagi kalangan pemula. Selain dikenal dengan al-Muqaddimah al-Hadhramiyyah, teks tersebut juga memiliki beberapa nama lainnya, yaitu Muqaddimah Ba-Fadhal, al-Mukhtashar al-Kabar, dan juga Masail al-Ta’lîm.

Atas kepopulerannya, ada banyak kitab syarah (comment/penjelasan) atas teks al-Muqaddimah al-Hadhramiyyah, di antaranya adalah al-Manhaj al-Qawwim ‘ala Masa’il al-Ta’lim karangan Syekh Ibnu Hajar al-Haitami al-Makk (w. 973 H/ 1565 M), juga Busyra al-Karim ‘ala Masail al-Ta’lim karangan Syaikh Sa’id b. Muhammad Ba-‘Asyin (w. 1270 H/ 1853 M).

Bagi kalangan pesantren tradisional di Nusantara (pesantren NU), keberadaan teks al-Muqaddimah al-Hadhramiyyah dan beberapa kitab syarahannya yang disebutkan di atas tentu tidaklah asing. Kitab-kitab tersebut banyak dikaji di beberapa pesantren tradisional hingga kini, khususnya di wilayah pulau Jawa dan Madura. Saya sendiri pernah mengaji kitab Syarah al-Manhaj al-Qawwim ‘ala Masa’il al-Ta’lim karangan Syekh Ibnu Hajar al-Haitami secara bandongan—meski tidak sampai khatam—pada bulan puasa tahun 2000 di Pesantren Lirboyo, Jawa Timur.

Baca juga:  Sabilus Salikin (36): Karamah atau Keramat

Kitab Syarh al-Manhaj al-Qawwim tersebut kemudian diulas secara panjang lebar dalam bentuk hasyiah (great comment) oleh seorang ulama Nusantara asal Tremas (Pacitan, Jawa Timur) yang bermukim dan mengajar di Mekkah pada awal abad ke-20 M, yaitu Syekh Muhammad Mahfuzh b. ‘Abdullâh b. ‘Abd al-Mannan al-Tarmasî al-Jawi al-Makki (dikenal dengan Syaikh Mahfuzh Tremas, w. 1920).

Hasyiah atau komentar karangan Syaikh Mahfuzh Tremas tersebut memiliki dua buah nama (judul), yaitu (1) Ta’mim al-‘Amim ‘ala Syarh al-Manhaj al-Qawwim ‘ala Masa’il al-Ta’lim, dan (2) Mauhibah Dzi al-Fadhal ‘ala Syarh Muqaddimah Ba-Fadhal. Meski demikian, nama yang lebih popular dari kitab hasyiah karangan Syekh Mahfuzh Tremas itu adalah Hasyiah al-Tarmasi.

Kembali ke manuskrip kitab Sabilul Muhtaj karangan Kiai Anwar Mertapada, yang merupakan terjemahan dan syarah berbahasa Jawa Pegon atas teks al-Muqaddimah al-Hadhramiyyah. Saya belum menemukan informasi lebih lanjut mengenai sosok Kiai Anwar Mertapada.

Saya sendiri mendapatkan kopian manuskrip ini dari al-Fadhil Saudara Agung Ramadan dari Mertapada Cirebon, mahasiswa Pascasarjana Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta pada Jumat (9/3/2018). Agung Ramadan mengatakan jika manuskrip asli kitab ini berada pada paman beliau, yang masih keturunan dari Kiai Anwar Mertapada.

Dalam kata pengantarnya, pengarang mengatakan jika ia menuliskan karya ini atas dorongan beberapa koleganya yang memerlukan pemahaman secara lebih mendalam dan gamblang dalam bahasa ibu dan keseharian mereka, yaitu bahasa Jawa (dialek Cirebonan), atas teks kitab al-Muqaddimah al-Hadhramiyyah yang notanbene berbahasa Arab. Kiai Anwar Mertapada menulis:

Baca juga:  Nasib Aksara Pegon di Bali

فيقول العبد الفقير المعترف بالذنب محمد أنوار بن عبد الله بن أسرى الشربوني. فقد سألني بعض الأولاد أن أصنع ترجمة لطيفة تسهل الفهم للجاوي وتخرج من متن بافضل مع شرحه قليلا قليلا

Maka berkatalah seorang hamba yang fakir yang mengakui dosa-dosanya, Muhammad Anwar anak Abdullah anak Asra dari Cirebon. Sesungguhnya telah meminta kepadaku sebagian anak-anak (pelajar) agar aku membuat sebuah terjemah yang sederhana yang memudahkan pemahaman mereka dalam bahasa Jawa yang menjelaskan matan Bâ-Fadhal serta memberikan penjelasan atasnya sedikit-sedikit.

Baca Juga

Pengarang menyebut memulai penulisan kitab Sabilul Muhtaj ini pada pagi hari 1 Ramadan 1276 Hijri, lalu menyelesaikannya pada waktu asar 7 Sya’ban berikutnya (1277 Hijri).

Ketika dikonversikan dengan penanggalan Gregorian (Masehi), maka didapati jika permulaan masa menulis kitab tersebut pada 1859, dan berakhir pada 1860. Kiai Anwar mertapada menulis:

اندينيغ توم كني يرت اغ ترجمة ايكي اغ تغكل كفغ فيت اغ ديناني ويه عصر سكغ ولن شعبان هجرة سيو روغ اتوس فيتوغ فول فيت اندينغ اويت يرات اغ تغكل نيسن ايسوكي ولن رمضان هجرة سيو روغ اتوس فيتوغ فول ننم اغ مرتفد

Andining tumekane nyerat ing terjemah iki ing tanggal kaping pitu ing dina nem wayah asar saking wulan Sya’ban Hijrah sewu rong atus pitung puluh pitu, andining awit nyerat ing tanggal isnen isuke wulan Ramadan Hijrah sewu rong atus pitung puluh enem ing Mertapada/ Adapun selesai menulis terjemah ini pada tanggal hari enam waktu asar dari bulan Sya’ban Hijrah tahun 1277. Adapun mulai menulisnya pada tanggal Senin pagi bulan Ramadan Hijrah 1276 di Mertapada).

Baca juga:  Sabilus Salikin (77): Sejarah Tarekat Rifa'iyah di Indonesia

Yang menarik, masa penyelesaian kitab ini yang bertepatan pada Ramadan 1277 Hijri (1860 Masehi) tidak lama setelah masa wafatnya Syaikh Sa’id b. Muhammad Ba-‘Asyin, penulis kitab Busyra al-Karim, yang merupakan syarah berbahasa Arab atas teks yang sama (al-Muqaddimah al-Hadhramiyyah), yaitu pada 1270 H (1853 M). Ini artinya, baik Kiai Anwar Mertapada ataupun Syekh Sa’id bin Muhammad Ba-‘Asyin, merupakan dua ulama yang hidup di satu zaman.

Bogor, 12 Maret 2018

Lihat Komentar (1)
  • Assalamualaikum wr wb. Mohon maaf sebelumnya . Perkenalkan saya Mahmud Yunus Mustofa dari Batang. Saya sedang menyelesaikan tesis mengenai kitab aisyul bahri yang ditulis Kiai Anwarr Batang. Menurut bebrapa sumber yang saya himpun. Beliau berasal dari Cirebon. Apakah ada kemungkinan Kiai Anwar Batang ini adalah Kiai Anwar Mertapada? Mohon penjelasanya pak Dosen. Mohon maaf ini nmer WA saya sudi kiranya pak dosen meluangkan waktu untuk memberikan pengarahan kepada saya.

Komentari