Sedang Membaca
Kitab Nazam al-Ajurumiyyah Berbahasa Sunda Karya KH. Ishaq Farid Cintawana (Tasikmalaya)

Dosen di UNU Jakarta. Selain itu, menulis buku dan menerjemah

Kitab Nazam al-Ajurumiyyah Berbahasa Sunda Karya KH. Ishaq Farid Cintawana (Tasikmalaya)

Fb Img 1579564991267

Berikut ini adalah halaman sampul dan halaman pertama dari kitab “Nazhom al-Âjurûmiyyah” berbahasa Sunda aksara Arab (Sunda Pegon) karya seorang ulama besar Sunda abad ke-XX, yaitu KH. Ishaq Farid (w. 1987) dari Pesantren Cintawana, Tasikmalaya, Jawa Barat.

“al-Âjurûmiyyah” sendiri merupakan kitab yang sangat populer dalam radisi keilmuan Islam. “al-Âjurûmiyyah” berisi kajian dasar-dasar ilmu tata bahasa Arab (ilmu nahwu). Kitab ini dikarang oleh seorang ulama asal Maroko, yaitu Abû ‘Abdillâh Muhammmad b. ‘Abdullâh b. Dâwud al-Shanhâjî, atau yang dikenal dengan Ibn Âjurûm (w. 723 H/ 1323 M).

Kitab “al-Âjurûmiyyah” terhitung sebagai salah satu kitab rujukan terpenting dalam ilmu nahwu, khususnya bagi kalangan pemula. Para ulama tata bahasa Arab generasi setelah Ibn Âjurûm banyak menulis karya terkait teks kitab “Âjurûmiyyah” ini, baik dalam rupa (penjelasan), hâsyiah (ulasan panjang), nazhaman (puisisasi).

Di antara para ulama itu adalah Syaikh Abû Zaid ‘Abd al-Rahmân al-Makûdî (w. 807 H/ 1405 M) yang menulis “Syarh al-Makûdî ‘alâ Muqaddimah al-Âjurûmiyyah, Syaikh Khâlid al-Azharî al-Mishrî (w. 905 H/ 1495 M) yang menulis “Syarh al-Azharî ‘alâ al-Âjurûmiyyah”, Syaikh al-Hathâb al-Ra’înî (w. 906 H/ 1496 M) yang menulis “Mutammimah al-Âjurûmiyyah”, Syaikh Yahyâ al-‘Imrîthî (w. 989 H/ 1581 M) yang menulis “al-Durrah al-Bahiyyah fî Manzhûmah al-Âjurûmiyyah”, Syaikh Ahmad Zainî Dahlân (w. 1885) yang menulis “Syarh Mukhtashar Jiddan ‘alâ Muqaddimah al-Âjurûmiyyah”, Syaikh ‘Abd al-Salâm b. Mujâhid al-Nabrâwî yang menulis “al-Kawâkib al-Jaliyyah fî Nazhm al-Âjurûmiyyah”, dan masih banyak yang lainnya.

Di Nusantara, kitab keramat ini masih dipelajari, diajarkan, dingajikan, dan dihapalkan di banyak pesantren tradisional. Bahkan, tak sedikit ulama besar Nusantara yang kemudian menuliskan kitab terkait Âjurûmiyyah ini, juga dalam bentuk syarah (penjelasan), hâsyiah (ulasan panjang), nazhaman (puisisasi), dan juga terjemahan ke dalam pelbagai rumpun bahasa Nusantara (Melayu, Jawa, Sunda, Madura, Bugis, dan lain-lain) beraksara Arab.

Baca juga:  Di Balik Sejarah Kodifikasi Ilmu Nahwu: dari 'Athaf Surah at-Taubah hingga Politik

Di antara karya ulama Nusantara yang berkaitan dengan kitab al-Âjurûmiyyah adalah kitab “Fath Ghâfir al-Khathiyyah [Syarh] ‘alâ al-Kawâkib al-Jaliyyah fî Nazhm al-Âjurûmiyyah” karya Syaikh Nawawi Banten (w. 1897 M), juga kitab “[Hâsyiah] Tasywîq al-Khallân ‘alâ Syarh Mukhtashar Jiddan” karya Syaikh Ma’shum b. Salim Semarang (ditulis tahun 1884 M), juga kitab “al-Qawâ’id al-Nahwiyyah fî Nazhm al-Âjurûmiyyah” karya KH. Burhan Cijawura Bandung (w. 1991 M). Kesemua karya ulama tersebut ditulis dalam bahasa Arab.

Selain karya berbahasa Arab yang berkaitan dengan “al-Âjurûmiyyah”, para ulama Nusantara lainnya juga ada yang menulis dalam bahasa-bahasa seperti Melayu, Jawa, Sunda, dan lain-lainnya sebagai syarah dan terjemahan dari kitab tersebut. Di antaranya adalah kitab “al-Nibrâsiyyah Syarah al-Âjurûmiyyah” dalam bahasa Jawa Pegon karya KH. Bisri Musthofa Rembang (w. 1977), juga kitab “al-Fawâ’id al-Tsamînah fî Tarjamah al-Âjurûmiyyah” karya KH. Zainuddin Rahmat Lasem (w. ?), juga kitab “Taisîr al-Thullâb fî Tarjamah al-Âjurûmiyyah wa Tarkîb I’râbihâ” dalam bahasa Jawa Banten karya KH. Khoiruddin Salwan (w. ?), kitab “Tashîl al-Mubadi’în fî Tarjamah al-Âjurûmiyyah wa Tarkîb I’râbihâ bi al-Lughah al-Sundawiyyah” dalam bahasa Sunda karya KH. Hasanuddin Syafi’i Cikupa (w. ?), dan lain sebagainya masih banyak lagi.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Di antara karya ulama Nusantara lainnya yang terkait dengan “al-Âjurûmiyyah” adalah kitab “Nazham al-Âjurûmiyyah bi al-Lughah al-Sundâwiyyah” karya KH. Ishaq Farid Cintawana ini.

Baca juga:  Kekuatan Nama-nama Islam

Meski merupakan karya puisisasi berbahasa Sunda Pegon, namun KH. Ishaq Farid Cintawana memulai kitab nazhamannya ini dalam bahasa Arab. Beliau menulis dalam metrum (bahr) “rajaz”:

الحمد لله الذي قد صيّر # من عُلم النحوَ مفيدا للورى
ثم الصلاة والسلام ما جرى # شمس على أفضل كل من درى
محمد وآله وصحبه # وكل مقتف على آثره
وهذه المنظومة النحوية # سلكتها مسلك الآجرومية
واللهَ أرجو أن يكون نافعا # للمبتدي وأن يكون رافعا

Pesan Kerudung Bergo

(Segala puji milik Allah yang telah menjadikan # orang yang mengerti ilmu nahwu dapat bermanfaat bagi kemanusiaan
Shalawat dan salam sepanjang adanya matahari # semoga senantiasa tercurah kepada orang terbaik yang dikenali
Yaitu Nabi Muhammad beserta keluarga dan sahabatnya # dan kepada setiap orang yang mengikuti jalannya
Ini adalah puisi ilmu nahwu # yang aku susun berdasarkan kitab Âjurûmiyyah
Kepada Allah aku berharap agar karya ini bermanfaat # bagi para pelajar pemula dan menjadi pahala yang terangkat)

Setelah itu, KH. Ishaq Farid melanjutkan menulis “Bab Kalam Jeung Kalimah” (Bab Kalam dan Kalimat) dalam bahasa Sunda Pegon:

كلام لفظ مركب تور مفيد وضع # جونتو العلم نافع جع تواضع
أري لفظ أيتا سورا أكسرائن # أري مركب لفظ أنو رغكفن
أري مفيد أنو ميري هرتي تمت # وضع بسا عرب دمقصود كاسبت

(Kalam lapad murokkab tur mupid wado # contona [العلم نافع] jeung tawado
Ari lapad eta sora aksara’an # ari murokkab lapad anu rangkepan
Ari mupid anu mere harti tamat # wado basa Arab dimaksud kasebat
##
Kalam adalah “lafaz yang murakkab dan mufid juga wadha” # contohnya [العلم نافع] dan juga tawadha’
Adapun lafaz adalah suara yang beraksara-an # adapun murakkab adalah lafaz yang berangkapan
Adapun mufid adalah yang memberi faidah pemahaman arti secara sempurna # wadha’ sendiri berasal dari bahasa Arab, yang mana maksud tujuannya dapat tersebut)

Baca juga:  "Rumah di Tanah Rempah", Buku Perjalanan tentang Tradisi Rempah Nusantara

Tidak ada keterangan kapan kitab “Nazhom al-Âjurûmiyyah” karya KH. Ishaq Farid ini diselesaikan. Tidak ada juga keterangan nama percetakan yang mencetak kitab ini. Jumlah keseluruhan halaman kitab adalah 26 (dua puluh enam) halaman. Saya sendiri mendapatkan kitab ini dari KH. Fahmi Mubarok b. KH. Ali Imron, keluarga pengasuh Pesantren al-Istiqomah dan Pesantren Baitul Arqom Pacet Bandung, saat silaturahim anjangsana pesantren-pesantren Sunda bersama para dosen Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta pekan lalu (13-16 Januari 2020).

KH. Ishaq Farid (1924-1987) sendiri merupakan pengasuh Pesantren Cintawana yang berada di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Pesantren ini terhitung sebagai salah satu pesantren tertua di Sunda, didirikan tahun 1917 oleh KH. Muhammad Thoha (w. 1945) yang merupakan ayah dari KH. Ishaq Farid.

Jaringan keilmuan KH. Ishaq Farid tersambung dengan ulama-ulama besar Sunda yang hidup di paruh pertama abad ke-XX, seperti KH. Syuja’i Kudang Tasikmalaya (w. 1966), KH. Ahmad Sanusi Gunungpuyuh Sukabumi (w. 1950), dan lain-lain.

Wallahu A’lam

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
3
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
2
Terkejut
1
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top