Sedang Membaca
Kado Tahun Baru dari Si Tir Teheran
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Kado Tahun Baru dari Si Tir Teheran

Afifah Ahmad
Kado Tahun Baru dari Si Tir Teheran 2

Pertikaian yang terjadi di dunia ini, karena manusia

tak mengenal esensi agamanya. Sebab risalah tertinggi

setiap agama adalah saling mendekatkan manusia

melaui jalan cinta dan perdamaian.

(Sebouh Sarkissian, Uskup Agung Armenia  di Teheran)

Berjalan di kawasan Si Tir Teheran, kita mungkin akan merasakan aroma keragaman di Iran. Pasalnya, di jalan inilah berdiri tempat ibadah berbagai umat berbeda. Ada Masjid Ibrahim, Sinagog Yahudi Chaim, kuil Zoroaster, dan gereja Santa Maria.

Bila dilihat di peta, lokasi ini tepat berada di pusat kota Teheran atau biasa disebut Teheran klasik. Di sekitar jalan ini juga berjajar gedung-gedung tua yang sebagian besar sudah difungsikan menjadi museum. Bersama rombongan tur kebudayaan, beruntung saya bisa menyisir jalan bersejarah ini.

Rombongan kami berjumlah sekitar 20 orang dengan latar belakang beragam. Ada yang berprofesi sebagai wartawan, perawat, penulis, mahasiswa, pedagang, sampai ibu rumah tangga. Ada juga Mahan, 7 tahun, peserta paling cilik yang datang bersama ibunya. Kami dipertemukan oleh satu keinginan yang sama, mengenal lebih jauh tentang etnis Armenia Teheran yang hampir semuanya adalah umat Kristiani. Maka, begitu tiba di kawasan Si Tir, kami langsung memasuki kompleks gereja Santa Maria.

Masood Athri, pemandu tur kami, segera melakukan koordinasi dengan para pengurus gereja. Biasanya, tidak semua turis bisa masuk ke tiap ruangan, mereka hanya diizinkan melihat bagian museum saja. Tapi, dengan izin khusus yang dikantongi pihak tur, kami sangat beruntung bisa masuk ke berbagai ruangan, termasuk ruang inti gereja. 

Menurut Athri yang juga seorang jurnalis, gereja yang dibangun sejak April 1937 ini, awalnya adalah pusat keuskupan Armenia di Iran, sebelum akhirnya dipindah ke gereja Sarkis Agung tahun 1970-an.

Sebenarnya, ada dua gereja lain di Teheran yang usianya lebih tua. Sebelum tiba di kawasan Si Tir ini, rombongan kami sempat menyinggahi kedua gereja tersebut, Santa Thaddeus dan Doulab. Gereja Thaddeus, adalah gereja tertua di Teheran yang dibangun sekitar tahun 1868. Lokasinya berada di antara gang-gang kecil di area Grand Bazaar.

Awalnya, gereja itu hanya sekedar tempat untuk sembahyang. Tapi, dalam perkembangan selanjutnya difungsikan juga untuk berbagai kegiatan sosial. Saat kami berkunjung, ada banyak lansia yang ditampung dalam kompleks gereja tersebut. Sementara Doulab merupakan gereja mungil yang berada di area pemakaman khusus umat Kristiani.

Mahan dan Film The Son of Maryam

Tak ada sejarah khas tentang gereja kecil Doulab, kecuali letaknya di area pekuburan. Menurut Athri, gereja ini lebih banyak difungsikan untuk upacara pemakaman. Meski kecil dan tak terkenal, kami justeru menyimpan kesan khusus di sini. Setelah berkeliling melihat-lihat makam para tokoh Iran terkemuka dari kalangan Armenia, ruangan gereja ini seperti memberi kehangatan kepada para peserta dari serbuan angin musim gugur.

Mahan langsung antusias bertanya banyak hal. Barangkali, ini adalah pengalaman pertamanya memasuki gereja. Ia seperti ingin tahu berbagai atribut gereja yang baginya tampak asing. Maryam, ibu Mahan menjelaskan dengan telaten.

Ah…Mahan mengingatkan saya pada tokoh Rahman dalam film  Pesar-e Maryam atau The Son of Maryam”. Film yang berdurasi 60 menit ini, bercerita tentang persahabatan Rahman, anak kecil pengantar susu, dengan seorang pendeta di sebuah desa terpencil di Iran.

Tiap pagi, Rahman bekerja mengantar susu ke rumah-rumah penduduk, termasuk ke gereja yang berada di kampung tersebut. Suatu hari, Romo sedang tidak di tempat. Rahman kecil mencarinya sampai ke ruangan kebaktian. Ia terkejut dan aneh memandangi simbol-simbol agama yang selama ini terasa asing baginya.

Lalu dengan penuh rasa takut, ia berlari dan menjauh meninggalkan gereja. 

Namun, kecemasan itu tak berlangsung lama. Berkat kebaikan Romo yang selalu mengantar bunga-bunga segar ke pekuburan, termasuk makam ibu Rahman yang bernama Mariam, ia pun perlahan mulai membuka diri.

Persahabatan Rahman makin erat, di saat sang Romo mulai jatuh sakit. Tiap hari Rahman datang ke ruangannya untuk membantu orang tua sebatang kara ini. Di sela-sela jadwal mengaji, mengumandangkan azan, dan mengempel lantai masjid. Ia juga menyempatkan untuk menyeka debu di gereja, menyalakan lilin, dan memperbaiki atribut yang rusak.

Film yang diproduksi rumah sastra dan seni anak ini, berhasil menyentil nurani saya yang kadang belum adil menyikapi perbedaan. Dan sekarang, Mahan kecil juga kembali mengingatkan pesan penting ini.

Salam Damai dari Gereja Santa Maria

Tak seperti gereja di Doulab yang senyap, kompleks gereja Santa Maria di Si Tir ini terasa lebih hangat. Keberadaan museum Artak Manookian mengundang para wisatawan untuk singgah. Athir, mengajak kami berkeliling ruangan sambil menjelaskan kehidupan komunitas Armenia dan umat kristiani di Iran.

Menurut Athir, jumlah seluruh etnis Armenia ada sekitar 70 sampai 80 ribu. Mereka memiliki dua perwakilan di parlemen. Di Teheran sendiri setidaknya ada tujuh gereja dan 25 sekolah khusus. Mereka juga diberikan kewenangan untuk menyelenggarakan acara ritual sesuai dengan aturan yang berlaku dalam agamanya.

Sebenarnya isi museum  sendiri, sudah banyak bercerita tentang etnis Armenia di Iran. Dari mulai sejarah gereja-gereja yang ada di Iran, berbagai koleksi atribut yang digunakan dalam acara ritual penting, juga informasi agenda nasional dan internasional yang pernah dilakukan komunitas Armenia.

Bagian yang cukup penting dalam museum ini adalah koleksi pribadi milik Artak Manookian, uskup agung di masanya yang banyak berjasa bagi perkembangan etnis Armenia di Iran. Koleksi baju-baju adat perempuan Armenia juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung museum.

Setelah puas berkeliling museum, peserta dengan tertib memasuki ruangan gereja inti. Bangunan gereja ini memang terasa tua, tapi ruangannya tetap terjaga asri dan bersih. Saya duduk di barisan bangku pertama yang langsung menghadap ke altar. Perlahan lagu-lagu pujian dalam bahasa Armenia mengalun lewat pengeras suara. Hari itu sedang tidak ada acara khusus.

Baca Juga

Hanya terlihat satu dua oranh yang sedang berdoa. Mata saya menyapu sekeliling ruangan. Lukisan bunda Maria yang sedang memangku Almasih menjadi magnet tersendiri. Lukisan lainnya yang hampir ada di tiap gereja di Iran adalah, lukisan jamuan makan malam terakhir.

Dari sudut ruangan gereja Maria ini, saya teringat ucapan Sebouh Sarkissian, pemimpin keuskupan Armenia di Teheran dalam sebuah jamuan buka puasa yang ia selenggarakan. Menurutnya, dunia ini penuh pertikaian karena manusia menjauh dari agama dan Tuhannya, karena tiap agama memiliki ajaran untuk mendekatkan sesama.

“Agama Islam sendiri membawa misi kemanusiaan,” tambahnya sambil mengutip surat Hujarat ayat 13: “Wahai manusia, kami ciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kamu saling mengenal.”

Maka bahagia rasanya saat saya mendapat kesempatan untuk mengenal kehidupan etnis Armenia di kompleks gereja Maria kawasan Si Tir ini. Semoga menjadi bekal untuk bisa lebih adil dalam memandang dan menyikapi perbedaan. 

Selamat hari kelahiran Almasih. Semoga kita tak pernah jemu untuk menyuarakan perdamaian, sekelabu apapun langit harapan di atas kita.
 

Teheran, 30 Desember 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top