Sedang Membaca
Bubur India dan Pergeseran Budaya di Pekodjan Semarang
Penulis Kolom

Alumni Pondok Pesantren Salaf Apik Kaliwungu dan sekarang Kuliah di UIN Semarang.

Bubur India dan Pergeseran Budaya di Pekodjan Semarang

Bubur India dan Pergeseran Budaya di Pekodjan Semarang

Semarang merupakan kota yang berdiri sejak lama, yang tentunya banyak jejak dari peninggalan sejarah dan peradaban yang ada. Terutama tersebarnya agama Islam, misalnya di kawasan Pekodjan kota Semarang. Sebuah daerah yang memiliki tumpah ruah keberagaman dari berbagai suku dan agama kumpul rukun menjadi satu di sebuah kampung.

Banyak orang bilang kawasan Pekodjan adalah kampung Arab sebab banyak keturunan orang timur tengah. Namun sebagian yang lain menyebutnya kampung India karena di setiap bulan Ramadhan ada tradisi bubur India. Pekodjan sebenarnya berasal dari kata “Kodja” yang berarti kampung orang-orang Kodja. Menurut masyarakat situ, koja adalah suku blasteran antara India-Pakistan.

Mereka mendarat di Indonesia untuk berdagang dan menyebarkan agama Islam prosesnya tidak jauh beda dengan orang-orang Yaman yang masuk ke tanah Jawa. Kemudian membuat perkampungan dan menerapkan budaya daerahnya, namun setelah berkembangnya zaman budaya mereka berhasil di akulturasikan dengan budaya lokal Jawa.

Sejarah kuno suku kodja datang ke Semarang berawal dari Gujarat India untuk berdagang (niat utama), sambil berdagang mereka menyebarkan agama Islam. Lalu banyak orang Gujarat itu menikah dengan orang lokal yaitu Indonesia, Kodja itu bukan (keturunan) Arab tapi antara blasteran antara India Pakistan lalu namanya suku Kodja dan jadilah Pekodjan.” Ungkap Desi salah satu warga keturunan Kodja.

Kawasan Pekodjan sendiri terdiri dari beberapa perkampungan yaitu, Pekojan Tengah, Petolongan, Bustaman dan kampung Begog. Selain Bu Desi, kami juga bertemu dengan Ali Baharun salah satu pengelola Masjid Jami’ Pekodjan, beliau menyampaikan bahwa kedatangan orang-orang Kodja ke Semarang diperkirakan sudah lama sejak Belanda menjajah Indonesia sebelum Jepang.

Wah kalo itu sejak jaman Belanda mungkin sebelum Jepang udah lama, antara arab sama Kodja kan pendatangnya sini, dulunya kan pendakwah juga pedagang. Jaman dulu, jaman Belanda kan mungkin dikotak kotakkan biar gampang.” terang Ali Baharun.

Baca juga:  Wisata Kuliner: Mengangkat Keistimewaan Becek

Pengkotak-kotakan kampung di Semarang seperti ini kemungkinan besar dilakukan pada era pemerintahan Belanda. Kita bisa melihat kondisi Semarang sekarang banyak kampung yang notabenya membawa identitas seperti kampung Arab, kampung Pecinan dsb.

Selain itu, di Pekojan ini mempunyai ikonik yang sangat terkenal, yaitu Masjid Djami Pekodjan. Masjid yang konon tertua di Semarang ini sudah ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya di kota Semarang sebagai bangunan peninggalan leluhur. Apabila dilihat dari arsitektur bangunannya, masjid ini memiliki akulturasi tiga unsur budaya, yaitu Jawa, Arab dan India.

Kalau sejarah masjid ini di namai pekojan ya kan dulu yang mengelola orang-orang dari suku Kodja” sambung Ali Baharun

Masjid yang dulunya dikelola orang-orang Kodja ini berdiri sejak seabad yang lalu dan direnovasi kembali pada tahun 1986 seperti yang tertera di dokumen yang telah diabadikan. Masjid ini berdiri di atas tanah wakaf seluas 3515 M², dengan luas bangunan asli, seluas 16 M².

Makam Ulama Perempuan Syarifah Fathimah

Bagi yang pertama kali berkunjung ke Masjid Jami Pekodjan, mungkin akan terheran-heran ketika masuk pada bagian sisi masjid, ada beberapa nisan makam tak bernama dan letaknya tidak beraturan. Tidak hanya disisi kiri masjid saja, disisi kanan masjid dekat makan Syarifah Fatimah dan pohon Bidara pun juga ada beberapa makam serupa.

Makam-makam ini adalah bekas makam dari warga sekitar yang dahulunya tinggal di sekitar masjid. Karena sebelum menjadi bangunan masjid, bangunan ini merupakan mushola kecil dan pemakaman umum untuk warga sekitar yang mewakafkan tanah untuk tempat ibadah. Saat berada di masjid sempat wawancara dengan warga bernama Alwi. Ia bersedia untuk menceritakan sejarah perkembangan masjid ini.

Dulunya sekitar masjid adalah makam, namun sudah direlokasi.” ungkap Alwi

Di tangan kepengurusan Akuan (keturunan orang Gujarat) masjid ini mengalami kemajuan dan pada tahun 1305 H. Oleh keluarga Akuan, masjid ini direnovasi dengan bangunan yang lebih kokoh dengan lantai dari marmer dan sebagian dinding dilapisi keramik yang konon didatangkan dari negeri Cina.

Baca juga:  Ziarah Makam sebagai Zikir Maut

Pada saat itu perkembangan di daerah tersebut makin lama makin ramai di tambah lagi di daerah tersebut juga sebagai tempat perdagangan yang ramai segingga masjid ini pun perlu diadakan perombakan dan penambahan bangunan untuk menampung jemaah yang semakin banyak, tapi sayangnya perombakan itu harus menggusur sebagian area pemakaman yang ada di sekitar masjid. sampai saat ini dapat kita lihat beberapa makam di sekitar masjid yang nisannya mempunyai nama maupun tanpa nama.

Ada satu makam yang di waktu tertentu banyak dikunjungi oleh peziarah yaitu makam “Syarifah Fatimah binti Sayed Husain bin Ahmad al Idrus” beliau sangat diyakini sebagai wali Allah swt. Menurut penuturan ibu Desi Syarifah Fathimah adalah ulama perempuan yang sering membuka pengajian dan memberikan pencerahan untuk masyarakat.

Syarifah fatimah adalah orang arab, orang pinter atau ulama’ perempuan dahulu.” imbuh Desi

Syarifah Fatimah adalah penyebar agama islam atau pendakwah putri yang walat pada 5 Jumadil Akhir 1290 H, selain sebagai penyebar agama Syarifah Fatimah juga sangat dikenal sebagai penyembuh, sayangnya beliau wafat dalam usia yang masih muda.

Kalo ini belum nikah ini Syarifah Fatimah, ini juga di hauli setiap tahun.” ungkap Abbas

Budaya Kodja dan Bubur India

Orang-orang Kodja yang datang dari gujarat tentunya mempunyai banyak tradisi dan budaya yang sampai sekarang dikembangkan di Pekojan ini.

Tradisi yang masih diterapkan disini adalah biasanya kalau acara nikahan masih pakai rebana, mantennya pake pakaian india, kalau bulan maulid ada sunatan massal, lalu ada bazar makanan khas Kodja, kalau orang Kodja suka makanan yang cenderung manis. Mau dibikin wisata kuliner seperti semawis namun khusus makanan Kodja. Adatnya orang Kodja adalah selueurh orang Kodja diseluruh indonesia kalau lebaran pasti disini (halal bi halal), nisfu sya’ban di masjid pekojan habis isya’ itu maaf2an ke yang lebih tua (miniatur lebaran)”. sahut desi

Baca juga:  Gurihnya Keberagaman dalam Sepiring Lontong Cap Go Meh

dan satu lagi menikah sesama orang Kodja untuk menjaga nasab”. imbuhnya

Ternyata di Pekodjan ini masih banyak tradisi yang masih dilestarikan, seperti pernikahan khas orang Kodja ini, yang konon katanya setiap orang Kodja harus nikah dengan orang Kodja. Namun tradisi pernikahan ini sudah hampir pudar dan bahkan tidak lagi menjadi sakral karena sebagian orang Kodja sudah banyak yang merantau kuliah dan memiliki prinsip baru bahwa menikah dengan siapa saja boleh.

Berpengaruh pada nasab, karena banyak orang Kodja dapet orang Jawa, namun nasab darah Kodjanya sudah nggak ada. Sekarang udah banyak beradaptasi antara orang Kodja dan tidak, juga karena pengaruh zaman, orang sekarang lebih modern, jodoh itu tidak harus sesama orang Kodja, tapi kalau sesama orang Kodja lebih gampang dengan tradisiniya karena sama, wawasannya lebih terbuka aslinya menikah itu kan nggak harus sama orang Kodja, dan itu termasuk tradisi yang hilang karena perkembangan zaman.” tambah Desi

Selain itu ada tradisi bubur India yang hanya disediakan umum setiap bulan Ramadhan. Menurut warga sekitar bubur India ini diolah oleh generasi keempat suku Kodja. Terbuat dari campuran rempah-rempah pilihan, mulai potongan jahe, salam, daun pandan, irisan bawang bombay dan yang bikin sedap karena terdapat campuran kayu manis dan cengkeh di dalamnya.

Hari demi hari tradisi-tradisi relijius orang Kodja mulai luntur karena terhempas dari modernitas zaman namun tak mengurangi sedikitpun semangatnya untuk tetap menjaganya.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top