Sedang Membaca
“Tellasan Topa” di Madura, Lebaran Paska Lebaran
Penulis Kolom

Peminat budaya Madura, aktif juga di pemberdayaan masyarakat.

“Tellasan Topa” di Madura, Lebaran Paska Lebaran

Selera Makan Kakek-Nenek 3

Jika Anda mau makan ketupat di Madura, datanglah seminggu setelah Hari Raya Idul Fitri. Di setiap rumah pasti disediakan ketupat untuk disantap para tamu, bisa dengan lauk opor ayam atau disuguhi suto ketupat yang diatasnya ditaburi irisan-irisan daging ayam, mihon, kecap serta sambel kemudian diguyuri kuah bening yang sudah dicampur beragam rempah.

Itulah suasana “Tellasan Topa'” (Lebaran Ketupat) di Madura yang tahun ini dirayakan hari rabu (12/6).

“Telasan topa'” ini tradisi lama yang hingga sekarang masih dilestarikan oleh orang Madura. Dulu, menjelang lebaran ketupat , para anggota keluarga di setiap rumah sibuk menyiapkan ketupat. Sejak membeli daun pohon siwalan atau janur kelapa hingga diteruskan menganyam “orong” (bungkus ketupat). Hampir setiap orang Madura bisa menganyam orong ketupat, karena sejak kecil memang diajari oleh anggota keluarga yang kebih tua. Banyak juga antar tetangga berkumpul di suatu rumah dan menganyam orong ketupat bersama-sama. Suasana waktu itu benar-benar akrab dan guyub.

Ketika tiba “tellasan topa'” antar tetangga saling berbagi ketupat. Ketupat yang diantar ke rumah tetangga biasanya dilengkapi dengan lauk, kadang daging sapi, tapi yang banyak opor atau ayam (kampung)goreng. Bisa juga dalam bentuk soto ketupat seperti yang saya sebut di awal tulisan ini.

Baca juga:  Kisah Kedermawanan Bangsa Arab di Bulan Ramadan

Tak jelas, bagaimana sejarah “tellasan topa'” ini bemula dan siapa penggagasnya. Karena itu juga tak terungkap kira-kira apakah tujuan perayaan “tellasan topa'” ini diadakan. Cuma saya meyakini lebaran ini hasil kreativitas para wali penyebar Islam di Madura.

Meski menduga-duga setidaknya saya menemukan dua alasan kenapa ada “tellasan topa'” . Pertama, sebagai lebaran bagi orang Madura yang melanjutkan puasa syawal selama 6 hari terhitung sejak keesokan hari raya Idul Fitri. Saya meyakini “tradisi nyawal” ini biasa dilakukan oleh para penyebar Islam dulu.

Kedua, di Madura lalu lintas silaturrahim kepada sanak saudara dan tetangga pada hari raya Idul Fitri biasanya sangat padat dalam rentang 1 minggu. Nah, pas tiba 1 minggu setelah hari raya Idul Fitri dipungkasi lebaran ketupat dimana semua tetangga, khususnya para ibu-ibu, berkumpul kembali dirumah para tokoh agama dengan membawa ketupat dan bersama memakannya di situ. Selain itu, antar tetangga juga saling berbagi ketupat.

Dua alasan itulah yang saya duga kenapa “tellasan topa'” diadakan dulu. Bukan berarti setelah “tellasan topa'” orang Madura tidak boleh silaturrahim kepada sanak saudaranya. Tetap silaturrahim dilakukan meski sudah dianggap sedikit terlambat momentumnya. Istilah orang Madura “bharui lah…” (sudah basi).

Hingga saat ini “tellasan topa'” masih lestari. Di desa-desa budaya saling berbagi ketupat masih dilakukan. Memang, dalam merayakannya ada pergeseran. Misalnya, “orong” ketupat banyak yang tidak lagi membuatnya sendiri, tapi dengan mudah bisa membeli “jadinya” di pasar. Saya menduga anak-anak muda Madura sekarang pasti banyak yang tidak tahu lagi membuat “orong” ketupat.

Baca juga:  Islam dan Fikih Tradisi Lokal

Pergeseran lain juga tampak pada lokus merayakannya. Seingat saya sejak era 80-an banyak orang Madura (terutama masyarakat urban atau orang desa yang sok urban) merayakannya di pantai-pantai tempat wisata. Jika di Sumenep di pantai Lombang atau Salopeng. Tentu bagi pelaku wisata peluang ini adalah pasar. Biasanya ada even-even seperti musik dangdut dan lain sebagainya.

Suasana pun nampak besing dan tidak lagi hikmat. Anak-anak muda memanfaatkan “tellasan topa'” ini untuk konvoi dengan deru motor yang membuat “tuli” telinga. Seringkali mereka ugal-ugalan dan kurang memperhatikan sesamanya. Mobil pribadi menderu diiringi suara musik yang tak kalah nyaringnya. Atau mobil dengan bak terbuka yang mengangkut rombongan orang lengkap dengan sound sistemnya. Bahkan tak jarang anak-anak muda trek-trekan dan setiap lebaran ketupat selalu memakan korban. Entah luka atau nyawa melayang. Suasananya benar-benar hingar dan sangat profan.

Saya jadi ingat petuah tetangga yang beberapa bulan lalu sudah meninggal. Ketika main ke rumah saya, beliau bilang bahwa, ketupat disebut ketupat karena ada isinya. Kalau tidak isinya namanya “orong” (bungkus ketupat yang masih melompong). Nah, “oreng” (orang/manusia) yang tidak ada isinya atau hanya mementingkan wujud lahiriahnya hakikatnya bukan “oreng” (orang) tapi “orong” .

Semoga “tellasan topa'” yang terus dipelihara hingga kini tidak terjerembab hanya merayakan “orong”. Bagi orang Madura, selamat merayakan “tellasan topa'” , mari santap ketupatnya sambil mengunyah petuah tetangga saya.

Baca juga:  Salam Persaudaraan dari Dusun
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top