Sedang Membaca
Humor Pesantren: Selera Humor Kiai Madura
M Faizi
Penulis Kolom

Penyair, tinggal di Pesantren Annuqoyah, Sumenep

Humor Pesantren: Selera Humor Kiai Madura

097548900 1452078301 Bocah Solat

Suatu hari, Kiai Syam melihat Muninggar—yang tidak pernah salat kecuali lebaran—duduk di teras masjid Kiai Ramsi (sebut saja begitu), sehabis Jumatan.

“Wah, alhamdalah, kamu sudah insyaf,” sapa Kiai Syam seraya menepuk bahu Muninggar, seusai salat jamaah. Muninggar hanya mesem. “Apa sekarang kamu sudah sadar? Takut kepada Allah?” lanjut Kiai Syam.

“Bukan begitu,” jawab Muninggar. “Jumat yang lalu, waktu Kiai Ramsi ngimami Jumatan di masjid ini, saya lewat depan mihrab. Rupanya, Kiai Ramsi itu melihat saya melintas melalui tingkap mihrab. Habis itu, sorenya, saya ditamparnya sama beliau, katanya saya ndak tahu malu.” 

“Jadi kamu salat karena…?”

“Saya takut ditampar lagi sama beliaunya.”

Anekdot di atas adalah cerita nyata, terjadi di salah satu tempat, di Madura. Saya mendengarnya dari dua sumber bonafid, tsiqqah kalau versi periwayatan rijalul hadis. Tapi, sebagai cerita rakyat yang mengandung humor, ia mungkin saja terjadi di tempat lain, dengan tokoh dan latar yang berbeda meskipun strukturnya sama, baik kebetulan sama atau direkayasa agar sama. 

Sebenarnya, jika orang bilang bahwa orang Madura itu lucu, mungkin karena dianggap spesies “animal humoricum”, saya malah ragu. Nyatanya, mereka ini ndak lucu-lucu amat. Pada contoh di atas, kelucuan muncul sebagai efek, ya, efek kepolosan, lugu, sikap apa adanya. Namun, di luar itu, yang membuat kelucuan mereka ini terdongkrak adalah topangan Gus Dur melalui anekdot-anekdotnya sebagai selingan ceramah. Hal lainnya adalah karena Cak Nun, dulu, secara berantai pernah menulis anekdot Madura dan dimuat di rubrik khusus “Mati Ketawa Ala Madura” di Majalah Humor, nyaingin rubrik “Mati Ketawa ala Rusia” di majalah yang sama.  

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Dalam peta humor Nusantara, orang Madura itu berada di tengah-tengah, maksud saya dalam hal menjadi korban keusilan suku yang lain. Di timur ada orang Maluku dan di barat ada orang Aceh. Mereka berdua sering jadi korban suku yang lain (siapa suka yang lain itu?  Tanya sendiri, Anda dapat mengira-ngira). Keduanya sering menjadi bulan-bulanan sentral lelucon berbasis satire atau keluguan. Ternyata, keluguan adalah modal dasar lucu-lucuan.  

Dalam teori folklor, cerita lucu masuk ke dalam kategori oral tradition. Di  Nusantara, ia sering kali tumpang-tindih. Hal ini wajar jika kita mengacu pada pendapat Vladimir Propp. Empat butir amatan Propp tersebut adalah:

(1) Fungsi adalah unsur yang tetap dan tidak berubah di dalam sebuah dongeng

Pesan Kerudung Bergo

(2) Fungsi di dalam sebuah dongeng berjumlah terbatas

(3) Urutan fungsi di dalam dongeng selalu sama

(4) dongeng selalu mempunyai kesamaan struktur.

Menurut Propp dalam Morfologi Cerita Rakyat (1979: 1924), pada dasarnya, setiap cerita akan mempunyai konstruksi, dan tiap konstruksi terdiri dari beberapa unsur, seperti unsur pelaku, perbuatan, dan penderita. Ketiga unsur itu dapat dikelompokkan lagi pada dua bagian,  yakni “unsur yang tetap” dan “unsur yang berubah”. Adapun “unsur yang tetap” adalah perbuatan dan tindakan, sementara “unsur yang berubah” adalah unsur pelaku dan penderitanya. 

“Kasus yang berubah” inilah yang banyak terjadi di sini, dalam anekdot-anekdot lucu yang beredar di masyarakat. Orang Madura, dan begitu pula Aceh dan Maluku, sering dipertukarkan sebagai subjek dalam humor dan anekdot. Mereka kerap menjadi korban keusilan stigmatif atas nama proyek kelucuan masyarakat Nusantara. Penjelasan bagian paragraf ini apakah sudah bikin mumet atau belum? 

Dulu, sebelum ada media sosial, saya sering mendengar “guyon kere” (lucu sampai batas kasar dan rasis) dari orang per orang, melalui transmisi lisan, cerita tutur. Masyarakat bebas berekspresi, bahkan terkadang masuk ke ranah yang vulgar dan subversif. Tapi, sejak masuk zaman screenshot atau tangkapan layar di mana dengan mudahnya orang merekam, tingkat kelucuan menurun drastis. Orang-orang takut. Mau lucu pun, orang harus “main aman” karena kalau sampai masuk penjara hanya karena ingin menjadi bagian dari penyebar kelucuan, maka ia tidak lucu lagi.

Dulu itu, kalau kita menyampaikan lelucon SARA, juga enggak ada yang protes karena semua orang pada dasarnya suka kelucuan. Humor adalah cara manusia menunjukkan kecerdasan dalam bentuk yang lain, kemampuan mencipta, sebab membuat setetes air mata pun mereka tidak bisa.

Sebab itu, manusia selalu mengeksplorasi kelucuan hingga ambang batas, sebab cerita lucu yang terlalu sering diulang akan terus berkurang nilai ke-keren-an dan ke-kere-annya. Sekarang? Mana berani orang lucu sembarangan. 

Kiai-kiai di Madura itu, kalau melucu, biasanya juga berani, tapi sekarang rada-rada jaim. Alasannya, ya, itu tadi. Terlalu lucu bisa masuk penjara karena semuanya harus dilaporkan ke dan oleh media sosial, kayak notifikasi saja! Jangankan melucu, menghukum siswa berdiri di kelas karena tidak hafal saja bisa dilaporkan ke otoritas terkait kok. Cerita lucu di sekolah kini sudah mulai habis. Siswa semakin pintar, tapi semakin kaku.

Akan tetapi, kalau humor kiai memang sedikit istimewa, khususnya di Madura, bahkan kadang rada berat dipahami non-santri, apalagi awam. Lucunya kadang bersifat ilmiah. Penceramah yang sedang moncer di Madura saat ini (sekadar menyebut contoh: Kiai Musleh Adnan dan Kiai Zainurrahman Hammam) suka melontarkan humor jenis ini dari atas atas panggung, khususnya dalam acara Haflatul Imtihan, yaitu acara akhir sanah atau tutup tahun ajar di madrasah.

Contoh yang populer adalah humor Nahwu (ilmu tata bahasa Arab) untuk kasus santri yang membaca “wa illa, fala” (artinya: jika bukan [seperti itu], maka tidak [bisa]) menjadi “wal afla” (nonsense, tak ada maknanya) atau redaksi statemen ambigu yang dimirip-miripkan hadis, padahal ia adalah humor Sharraf (morfologi). Contoh  من قال تحت الشجر بطل وضوءه yang kalau dicek melalui Google Translate artinya adalah; “barangsiapa yang berkata-kata di bawah pohon, maka batal wudu’-nya”, padahal yang dimaksud adalah “tidur di bawah pohon”. Kelucuan di sini ilmiah karena humornya memanfaatkan kemungkinan konjugasi (perubahan bentuk kata قال  yang berbeda-beda).  

 

Baca juga:  Gus Dur: Tradisi Pengetahuan dan Kemanusiaan Pesantren
Pesan Kerudung Bergo
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
1
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top