Sedang Membaca
Di Balik Buku Guruku Orang-Orang dari Pesantren
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Di Balik Buku Guruku Orang-Orang dari Pesantren

Ayung Notonegoro
Guruku Orang-Orang dari Pesantren dalam bahasa Jepang di Chuo University Tokyo (Foto: Twitter/@lukmansaifuddin)

KH. Saifuddin Zuhri merupakan salah seorang tokoh yang sangat produktif untuk menulis. Di tengah aktivitasnya yang padat sebagai pejuang, politisi nasional, pengurus teras PBNU, dan seabrek kesibukan lainnya, kiai kelahiran 1 Oktober 1919 itu menghasilkan beberapa karya tulis yang luar biasa. Karya yang dibaca hingga dewasa kini.

Salah satu karya terpenting Kiai Saifuddin adalah “Guruku Orang-Orang dari Pesantren”. Sebuah buku otobiografi yang menceritakan tentang hal ikhwal pesantren dan segenap perjuangannya dalam mewujudkan kemerdekaan Republik Indonesia.

“Sebuah buku yang bertujuan untuk membangun pengertian masyarakat terhadap Pondok Pesantren, sebuah persemaian pendidikan Islam yang merakyat yang sering diartikan umum secara salah bahkan disertai penilaian yang negatif. Sekaligus buku tersebut untuk menggugah kembali rasa hormat kepada guru, tokoh yang mencintai anak didik seperti anaknya sendiri, padahal tidak ada ikatan darah keturunan barang setetes,” demikian tujuan menulis buku tersebut sebagaimana diungkapkan Kiai Saifuddin dalam bukunya yang lain, Berangkat dari Pesantren.

Buku yang terbit pada 24 Juni 1974 itu memiliki cerita yang menarik, mulai dari awal penulisannya hingga proses penerbitannya. Dalam pengantar penulisnya, Kiai Saifuddin mengaku didorong oleh Asrul Sani, seorang sastrawan sekaligus politisi dari NU. Asrul menyarankan agar ia menulis novel tentang alam pesantren.

Baca juga:  Sanjungan dan Syarah atas Kitab Al-Hikam

Baca juga:

Awalnya Kiai Saifuddin keberatan karena tak pernah menulis novel. Akan tetapi, ia suka menuliskan tentang peri kehidupan orang lain. Seperti halnya saat menulis biografi KH. Abdul Wahab Hasbullah. Dari diskusi bersama Asrul Sani di kantor DPR tersebut, akhirnya muncullah karya otobiografi tersebut.

Kiai Saifuddin pun mulai menggarap kisah hidupnya di pesantren yang telah 40 tahun lamanya berlalu itu. Mulai dari saat-saat akan masuk ke Madrasah Al-Huda Nahdlatul Ulama di kampungnya, Sukaraja, Purwokerto. Cerita pun berlanjut dengan sangat menarik hingga kelak sampai kisah di palagan perjuangan di tingkat Nasional.

Setelah naskah buku tersebut selesai, Asrul Sani mengajak Kiai Saifuddin untuk keperbitan Pustaka Jaya yang dikepalai oleh Ajip Rosidi. Ada cerita menarik dari Ajip sebagaimana ditulis dalam otobiografinya “Hidup Tanpa Ijazah (Pustaka Jaya, 2008)” tentang penerbitan tersebut.

Menurut Ajip naskah tersebut cukup baik untuk diterbitkan. Hanya saja perlu ada penyuntingan agar bisa dibaca lebih lancar. Sebenarnya Ajip hendak menyunting sendiri, tapi karena ia tak begitu kenal baik dengan Kiai Saifuddin, ia menyarankan orang lain untuk melakukannya.

Ia adalah Mahbub Djunaidi, penulis yang dikenal cukup dekat dengan Kiai Saifuddin. Selain sama-sama NU juga sama-sama pernah di surat kabar Duta Masyarakat. Saifuddinlah yang merekrut Mahbub dan tak tak lama kemudian jadi pemimpin redaksi setelah Saifuddin.

Usul tersebut diterima dengan senang hati oleh Kiai Saifuddin. Singkat cerita naskah itu pun diserahkan ke Mahbub untuk disunting. Mahbub pun menyanggupi dan berjanji akan melakukannya dengan cepat.

Baca juga:  Haul Mbah Muchit: Sang Kiai Pencinta Literasi

Tetapi setelah sekian lama Mahbub tak segera menyerahkan hasil suntingannya tersebut. Setiap ditagih ia berkilah:

Baca Juga
Kaum Santri Zaman Now

“Entar, enggak sabaran bener sih lu. Kalo udah selesai gue anterin.”

Janji tinggal janji, naskah suntingan tersebut tak kunjung diantar. Ajip begitu kecewa. Lebih-lebih ketika mengetahui bahwa buku “Guruku Orang-Orang dari Pesantren” itu justru diterbitkan oleh PT Al-Ma’arif Bandung.

Saat itu, Mahbub memang dipinta oleh Baharthah untuk menjadi direktur Al-Ma’arif. Sehingga naskah-naskah yang ada dirumahnya pun diterbitkan semuanya. Termasuk naskah milik Kiai Saifuddin yang akan disuntingnya itu. Akan tetapi, menurut Ajip, naskah yang diterbitkan tersebut tak ada bedanya dengan naskah awal dari Kiai Saifuddin. Artinya, tak ada penyuntingan sama sekali.

Saat dikonfirmasi perihal perbuatannya tersebut, Mahbub dengan enteng menjawab, “Pokoknya jadi buku! Dibaca orang! Pengarangnya juga seneng bukunya terbit.”

Meski cukup menjengkelkan bagi Ajip, tapi “kenakalan” Mahbub tersebut, menyelamatkan satu mutiara histografi Islam Nusantara. Andai saja tak pernah diterbitkan Al-Ma’arif, mungkin naskah itu akan lenyap karena tak kunjung selesai disunting.

Lihat Komentar (0)

Komentari