Teladan Dari Imam Syafi’i

Abdillah Mubarak Nurin
Akhlak Art

Suatu hari, beberapa orang yang dengki dengan Imam Syafi’i merencanakan sesuatu untuk memancing kemarahan sang imam. Bersama dengan seorang tukang jahit mereka bersepakat membuatkan Imam Syafi’i sebuah pakaian yang buruk dan akan menghadiahkannya kepadanya.

Baju itu dibuat dengan  lengan baju yang satu sangat pendek dan satunya lagi panjang. Ketika baju itu dihadiahkan kepada sang imam, beliau sudah dapat membaca maksud dari orang-orang dan tukang jahit tersebut yang ingin membuatnya marah. Lantas dengan tenang Imam Syafi’i berkata kepada tukang jahit:

[blockquote align=”none” author=”Imam Syafi’i”]“Semoga Allah memberi balasaan atas kebaikanmu, sungguh baju ini sangat bagus, engkau membuat lengan baju kanan pendek sehingga aku tidak perlu lagi menyingsingkannya ketika hendak menulis, dan kau telah melebarkan tangan kirinya sehingga cukup untuk menyembunyikan kitab-kitab yang sering kubawa.”[/blockquote]

Abu Abdullah Muhammad bin Idris asy-Syafi’i atau yang lebih kita kenal dengan Imam Syafi’i dilahirkan di kota Gaza di sebelah selatan Palestina pada tahun 150 H (767 M). Imam Syafi’i merupakan salah satu imam besar mazhab.

Pada usia 7 tahun beliau telah menghafal seluruh isi Alquran, menginjak usia ke 10 beliau juga menghafal kitab Al-Muwaththa karangan Imam Malik yang berisi kurang lebih 1180 hadis, dan pada umur 15 tahun Imam Syafi’i dipercaya menjadi Mufti Mekkah. Imam Syafi’i wafat pada bulan Sya’ban tahun 204 H, di usia 54 tahun.

Cerita yang saya tuliskan di atas merupakan teladan yang sangat indah dari Imam Syafi’i, beliau menampilkan jiwa yang besar dan penuh kesabaran, beliau tidak tergoda untuk menunjukkan kemarahannya (atau jangan-jangan memang tak ada sedikit pun rasa marah dan dendam yang beliau simpan kepada orang-orang yang dengki pada beliau), bahkan sang imam mengucapkan doa “Semoga Allah memberi balasan atas kebaikanmu.”

Baca juga:  Dari Syekh Yusuf, Nelson Mandela, hingga Gus Dur

Teladan dari Imam Syafi’i tersebut sepertinya sangat jauh dari perangai keseharian kita. Bagaimana tidak? Menyikapi hal-hal yang sepele saja terkadang emosi kita langsung meluap-luap. Amarah kita begitu cepat mencuat ke permukaan ketika ada hal-hal yang tidak disenangi. Kita bagai rumput kering yang mudah terbakar. Tak hanya itu, selain sulitnya mengekang amarah, kita juga senang menyimpan dendam dan sangat sibuk memikirkan cara balas dendam.

Sisi menarik lainnya yang dapat kita temukan dalam cerita di atas ialah disaat sang imam mengatakan, “sungguh baju ini sangat bagus, engkau membuat lengan baju kanan pendek sehingga aku tidak perlu lagi menyingsingkannya ketika hendak menulis”. Imam Syafi’i memang merupakan salah satu ulama yang sangat produktif dalam menulis, sepeninggalnya di usia 54 tahun dia meninggalkan karya tulis kurang lebih 113 kitab dari berbagai disiplin ilmu, seperti fiqih, tafsir, sastra, serajah, dan ushul fiqih. Bahkan menurut Ibnu Zaulaq, Imam Syafi’i mengarang sekitar dua ratus buku.

Saya masih begitu ingat beberapa tahun yang lalu ketika menemani abah mengisi pembacaan manakib di salah satu rumah warga. Abah melontarkan pertanyaan yang sederhana, namun cukup menarik, “Mengapa orang-orang besar seperti Imam Syafi’i, Syekh Abdul Qadir al-Jailani, dan Syekh Samman al-Madani begitu dikenang dan selalu dibacakan sejarah-sejarah kehidupannya? Kata beliau,” melihat para jamaah hanya diam, abah melanjutkan, “hal tersebut dikarenakan mereka-mereka itu (para ulama) menulis, mereka berkarya.”

Baca juga:  Gus Dur Senang Tidur di Lantai; Meniru Siapa?

Iya, berkat para ulama dahulu yang tidak pelit menuangkan ilmu-ilmu pengetahuannya dengan menulis, sehingga kita mendapatkan kemudahan untuk mengetahui lautan-lautan ilmu melalui kitab-kitab atau buku. Kita mengenal Imam Bukhari dengan karya masyhurnya, Jami as-Sahih atau Sahih Bukhari, yang hampir 7.000 lebih menghimpun hadis Rasulullah. Kita juga mengenal Abu Hamid al-Ghazali dengan karya terbesarnya, Ihya Ulum al-Din (Kebangkitan Ilmu-ilmu Agama), buku yang menyajikan aspek-aspek keislaman, dari mulai fikih, teologi, hingga tasawuf. Kita juga mengenal dengan Ibnu Ishaq, seorang penulis biografi pertama dan paling berpengaruh mengenai kehidupan Nabi Muhammad saw. tanpa biografi monumental Ibnu Ishaq, menurut Muhammad Moljun Khan, pengetahuan dan pemahaman tentang sirah Rasulullah akan jauh lebih miskin daripada sekarang ini.

Baca Juga

Dalam Alquran, terdapat salah satu surah yang diberi nama al-Qalam, yang artinya pena. Menurut Djohan Effendi dalam bukunya Pesan-pesan Alquran (Serambi, 2012), surah tersebut menjadi sebuah isyarat agar kaum muslimin menjadi umat terdidik. Selain itu, Djohan Effendi juga menuliskan bahwa surah al-Qalam sangat dekat kaitannya dengan surah al-‘Alaq yang pertama kali diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw. yang menyuruh Nabi untuk membaca dan memberitakan bahwa Tuhan mengajari manusia agar mempergunakan pena sebagai alat penyebaran ilmu pengetahuan yang belum dikuasai manusia. Surah tersebut juga menjelaskan bahwa pena dan literatur sangat penting bagi kemajuan umat manusia sebagai makhluk berakal.

Baca juga:  Musdah Berjumpa Para Tokoh Lintas Agama di Wuppertal Jerman

Hal  serupa juga diungkapkan Ziauddin Sardar dalam bukunya Ngaji Quran di Zaman Edan (Serambi, 2014), bahwa membaca dan menulis itu penting bukan hanya bagi masyarakat terdidik yang hendak dibangun Alquran, melainkan juga untuk menciptakan kebudayaan, menghasilkan pengetahun baru dan, jadinya, membangun satu peradaban dinamis yang maju.

Penekanan akan pentingnya penulisan sesuatu, kata Ziauddin Sardar juga dilakukan Nabi Muhammad saw. sendiri. Dan salah satu tindakan pertama yang Nabi saw. lakukan saat tiba di Madinah ialah menulis satu konstitusi bagi warga kota yang menjamin keamanan dan kemerdekaan beragama, menetapkan sistem pajak, dan mekanisme penyelesaian konflik.

Dari penjelasan dua tokoh di atas tersebut, sepintas terbaca bahwa sebuah peradaban akan tenggelam apabila budaya membaca dan menulis tak lagi dilakukan. Dan tentang ungkapan yang sudah cukup sering kita dengar bahwa umat Islam saat ini telah mengalami kemunduran, tak terkecuali dalam hal literasi, barangkali tak bisa kita pungkiri. Wa Allah A’lam.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top