Sedang Membaca
Saat Agama Dijadikan Alat oleh Ustadz Bejat
Penulis Kolom

Pencinta literasi Islam dan santri di Pascasarjana UIN Jakarta.

Saat Agama Dijadikan Alat oleh Ustadz Bejat

079787300 1594782249 Woman Hand Sign Stop Abusing Violence Human Rights Day Concept 53476 172

Hati mana yang tidak ngilu ketika mendengar santri-santri yang seharusnya berlajar agama kepada gurunya malah diperkosa? Bahkan, korbannya tidak hanya satu, melainkan 12 santri hingga melahirkan 8 anak. Kejadian ini sudah berlangsung sejak tahun 2016. Lebih parahnya lagi, anak yang dilahirkan disebut sebagai anak yatim piatu dan dijadikan alat untuk meminta dana ke sejumlah pihak.

Bejat dan tak berakhlak. Itulah cara saya untuk menggambarkan pelaku. Semoga para korban bisa mendapatkan pendampingan untuk memulihkan diri dari ingatan pahit dan traumatik itu. Dan untuk pelaku, semoga dihukum seberat-beratnya oleh pihak berwajib.

Begitu malang nasib perempuan di negeri ini. Tentu, ingatan kita masih hangat dengan beberapa kasus sebelumnya yang berkaitan dengan pelecehan seksual, entah dilakukan oleh seorang dosen, polisi, dan kali ini oleh seorang ustadz. Na’udzubillah min dzalik. Kejadian-kejadian ini juga semakin meyakinkan kita betapa pentingnya RUU Pidana Kekerasan Seksual (PKS) untuk segera disahkan.

Pertanyaan penting yang perlu segera dijawab sekarang adalah, “Apakah ajaran agama sudah tidak mempan lagi masuk ke benak dan hati para pelaku bejat ini?” Dalam konteks ini adalah ajaran agama Islam.

Saya ingin mengajak pembaca untuk ngobrolin salah satu problem akut keagamaan yang tanpa disadari masuk dalam benak seorang laki-laki, yakni budaya patriarki. Mau jujur atau tidak, di masyarakat kita, pandangan patriarkhi atau menganggap perempuan sebagai makhluk nomer dua, sebagai objek, dan makhluk domestik masih sangat kentara.

Baca juga:  Gus Dur dan Gusmao Merekatkan Indonesia-Timor Leste

Budaya patriarki ini pada gilirannya menyebabkan beberapa kasus seperti kekerasan rumah tangga (KDRT), angka pernikahan dini, stigma mengenai perceraian, dan tentu kekerasan seksual.

Budaya patriarki memang bisa datang dari mana saja, akan tetapi, pemahaman keagamaan yang kurang tepat juga menjadi salah satu faktor utama. Kurang jelas apa, misalnya, sebagian para pendakwah yang sering menganggap merempuan sebagai makhluk “nomor dua” dalam segala urusan dengan berpegang QS. An-Nisa:4:34?

ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعْضَهُمْ

Kurang jelas apa, misalnya, para suami yang hanya berbekal satu hadist lalu menganggap istrinya durhaka dan dilaknat malaikat ketika tak mau diajak berhubungan intim di tengah malam?

Kurang jelas apa, misalnya, para lelaki yang selama ini menganggap perempuan adalah sumber segala fitnah? Entah karena suaranya, cara berpakaiannya, atau bahkan karena kodrat fisiknya. Kata mereka, perempuan lah yang menjadi sumber utama laki-laki tergoda dan melakukan pelecehan seksual.

Wahai lelaki, mari lihat bagaimana al-Qur’an berpesan. Q.S. an-Nur:24:30:

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا۟ مِنْ أَبْصَٰرِهِمْ وَيَحْفَظُوا۟ فُرُوجَهُمْ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا يَصْنَعُونَ

Katakanlah kepada para laiki-laki mukmin, hendaklah mereka menjaga pandangan (jangan jelalatan) dan kemaluannya. Karena itu lebih suci bagi mereka. Kira-kira begitu pesan utama ayat ini.

Baca juga:  Kita (Sebetulnya) Bisa dan Mampu Berbahasa Indonesia dengan Baik, Cuma Malas Saja

Ayat di atas dalam urutannya juga diletakkan lebih awal dibandingkan ayat yang berpesan kepada perempuan agar menjaga perhiasan, kemaluan dan cara berpakaiannya. Lihat Q.S. an-Nur 24:31:

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَٰرِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ …الأية

Kita tidak bisa menyalahkan perempuan begitu saja. Bila kita melihat berbagai kitab tafsir, seperti al-Munir karya Wahbah Az-Zuhaili misalnya, dikatakan bahwa pesan dua ayat di atas jelas, yakni kedua belah pihak harus sama-sama menjaga pandangannya. Tidak hanya perempuan saja yang menjadi penyebab terjadinya kekerasan seksual. Bagaimana misalnya dengan kasus pemerkosaan 12 santriwati oleh seorang ustadz tadi? Kurang tertutup apa para santriwati yang masih polos itu?

Jelas, itu karena dia tak kuat menahan nafsu kebinatangannya. Padahal, ajaran agama datang untuk mencegah para lelaki agar tak terperosok pada dosa besar ini. Bukan malah sebaliknya, menjadikan label ustadz untuk memuluskan tindakan amoral dan tak beradab. Di sini kita lagi-lagi harus belajar, jangan mudah terkesima dengan tampilan luar mereka yang sering berbalut agama, karena isinya terkadang penuh murka dan nafsu belaka.

Terakhir, Tuhan memberi kita nafsu agar kita bisa melebihi derajat Malaikat (simbol kesucian), atau sebaliknya, melebihi derajat syeitan (simbol kekufuran).

Baca juga:  Harmoni dalam Bingkai Muktamar NU

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top