Zaim Ahya
Penulis Kolom

Lahir di Batang, 1989. Penulis Lepas, Pegiat di Idea Institut Semarang. Tinggal di Kendal, Jawa Tengah.

Salah Baca Arab Pegon dan Humor yang Mengiringinya

Dalam suatu pengajian, Kiai Dimyati Rois pernah menyampaikan kisah unik.

Ada seorang kiai memberi terjemah kata “al-maidanu” (الميدان) dengan “alon-alon” (bahasa Jawa, artinya “pelan-pelan”). Sontak, terjemah yang keliru itu memantik santri minta klarifikasi:

“Maaf, kiai. Bukannya ‘al-maidanu’ (الميدان) itu maknanya alun-alun.”

Menanggapi pertanyaan santri yang kritis itu, kata Kiai Dimyati, kiai tersebut berkilah:

“Ya, maksudnya kalau berjalan di alun-alun itu harus alon-alon (pelan-pelan) karena biasanya sesak manusia.”

Kisah dari Kiai Dimyati Rois ini membuat kami para santri tertawa. Yang demikian ini terjadi lantaran “alun-alun” dan alon-alon” dalam huruf pegon tertulis sama: الون-الون, bisa dibaca alun-alun dan alon-alon.

Kisah semacam di atas populer di dunia pesantren . Hampir sama tapi dengan materi yang lain, penulis pernah memperoleh kisah bahwa suatu hari seorang kiai memberi makna “al-ardhu” (الارض) dengan “bom”, karena bumi dan bom ketika ditulis dengan Arab pegon memang serupa (بومي/بوم).

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Dan lagi-lagi, menurut cerita humor ini, ketika ada santri yang bertanya, kiai selalu bisa berkilah: “ya, maksudnya bumi yang dibom”.

Salah baca makna Arab pegon ini belum lama ini juga saya alami. Salah seorang kawan santri ketika memberi makna التشبيك mengucapkan dengan lantang: “ngapuranjang”, padahal yang benar adalah “ngapurancang”, sebuah metode dalam meratakan air ketika mebasuh tangan saat berwudhu. Memang kalau ditulis dengan huruf Arab pegon terdapat keserupaan:”عافورانجاع”

Baca juga:  Geliat Buku di Mosul Pasca ISIS

Baru-baru ini, dan ini masih hangat dan humornya sangat terasa, saya mendapatkan kisah, kata “al-bahimatu (البهيمة) diberi makna dengan “rumah makan”. Ketika ditanya, bukankah biasanya diberi makna “rumangkang” yang dalam bahasa Indonesia berarti hewan berkaki empat, pertanyaan itu dijawab dengan: “ya maksudnya di rumah makan itu banyak hewan-hewan berkaki empat yang telah dimasak.”

Begitu kira-kira salah satu humor di pesantren, yang bahannya dari kesalahan baca makna Arab pegon. Apakah kisah-kisah di atas benar-benar terjadi?

Mungkin saja ada, karena masuk akal jika peristiwa itu terjadi. Saya dan para pembaca aksara Pegon bisa membayangkan kekeliruan itu. Atau mungkin kisah di atas hanya sekedar anekdot untuk melakukan autokritik dengan salah satu ciri khas pesantren (humor) terhadap dunia pendidikan, baik di pesantren atau pun yang lain, supaya tetap terbuka dengan kebenaran, dan menjaga tradisi kritis.

Pesan Kerudung Bergo
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
1
Terhibur
1
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top