Sedang Membaca
Nasruddin Hoja dan Gus Dur

Nasruddin Hoja dan Gus Dur

Zaim Ahya

“Orang yang masih terganggu dengan hinaan dan pujian manusia, dia masih hamba yang amatir.”

Kata-kata Gus Dur di atas–yang juga terpampang di kantor PBNU–mengingatkan penulis pada kisah Nasruddin Hoja dan anaknya ketika menunggang keledai. Atau penulis menemukan gambaran dari kalimah-kalimah di atas pada kisah Nasruddin.

Suatu ketika Nasruddin naik keledai disertai anaknya yang berjalan kaki. Melihat hal demikian, orang-orang mengatakan Nasruddin egois, dan tak kasihan kepada anaknya. Harusnya anaknya yang naik keledai, Nasruddin jalan kaki.

Nasruddin pun berganti posisi dengan anaknya. Ia jalan kaki, anaknya naik keledai.

Melihat posisi demikian, orang-orang berkomentar lagi. Kata mereka, sungguh tak pantas pemandangan tersebut. Masak yang tua jalan kaki, sedang yang muda naik keledai.

Nasruddin pun meminta anaknya turun, dan berjalan bersama sambil menuntun keledai mereka.

“Nasruddin itu apa tidak punya otak, keledai kok dituntun, tidak dinaiki” orang-orang berkomentar lagi.

Mendengar komentar tersebut, Nasruddin akhirnya memutuskan naik keledai bersama anaknya.

Pikir Nasruddin langkahnya sudah aman. Ternyata tidak.
“Apa Nasruddin itu tak punya rasa belas kasihan. Keledai yang tak seberapa besar, ditunggangi dua orang?” kata beberapa orang

Orang-orang yang melihat kejadian itu berkomentar. Kata mereka, Nasruddin sungguh tak memiliki sifat kasih sayang pada hewan. Satu keledai, ditunggangi dua orang. Dia dan anaknya. Sungguh terlalu!

Baca juga:  Humor Gus Dur tentang Soeharto Naik Haji

Begini salah, begitu salah, Nasruddin dan anaknya memilih membopong keledai mereka di sisa perjalanan sampai ke tujuan.

Baca Juga
Petualangan Gus Dur Muda di Kairo

Kisah di atas penulis sadur dari buku Nasruddin Hodja Kumpulan Humor yang terjemahkan dari The Pleasantries of the Incredible Mulla Nasruddin karya Idries Shah.

Kisah Nasruddin di atas memberikan gambaran, betapa susah dan menderitanya hidup kalau terlalu ambil hati dengan komentar orang, padahal jelas-jelas apa yang dia lakukan punya dasar. Atau berbuat sesuatu hanya karena celaan dan pujian manusia. Dalam bahasa Gus Dur, yang seperti ini, disebut hamba yang “amatiran”.

Ada syi’ir dari kitab Hidayatul Azkiya‘, dalam bab Ikhlas, yang tampaknya sesuai dengan konteks ini, atau paling tidak nyerempet:

Iman seorang hamba tidak menjadi sempurna # sehingga (padangan) manusia dan onta (atas amalnya) sama baginya

Jadilah celaan dan pujian meraka tak ada beda # Tak takut atas cacian karena Tuhan yang Maha Mulia

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top