Sedang Membaca
Tak Ada Mauludan tanpa Baayun Maulud di Banjarmasin
Penulis Kolom

Founder alif.id. Magister Kajian Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia. Pernah menjadi wartawan Harian Bernas dan Harian Kompas. Menyukai isu-isu mengenai tradisi, seni, gaya hidup, dan olahraga.

Tak Ada Mauludan tanpa Baayun Maulud di Banjarmasin

Baayun Maulud (Foto: Instagram/nchoy_fff)

Tiga lapis kain

HM Hendrawan dkk dalam buku Materi Muatan Lokal Kebudayaan Banjar (2011) menerangkan tentang ayunan tiga lapis yang harus digunakan dalam Baayun Maulud.

Lapisan atas menggunakan kain sarigading (sasirangan). Lapisan tengah adalah kain kuning (kain belacu yang diberi warna kuning dari saripati kunyit). Lapisan bawah tapih bahalai (kain panjang wanita).

Pada tali ayunan diberi hiasan berupa anyaman janur berbentuk burung-burungan, ular-ularan, ketupat bangsul, halilipan, kambang sarai, rantai, hiasan berbentuk buah-buahan dan kue tradisional seperti cucur, cincin, kue gelang, pisang, dan lain-lain.

Setiap orangtua yang maayun (mengayun) anaknya pada upacara ini harus menyerahkan piduduk yaitu sebuah sasanggan yang diisi beras kurang lebih 3,5 liter, sebiji gula merah, sebiji kelapa, sebiji telur ayam, benang, jarum dan sebongkah garam serta uang perak (uang koin).

Upacara baayun maulud ini merupakan upacara tahunan yang diadakan bersama-sama oleh warga masyarakat. Pesertanya tidak terbatas pada anak-anak di kampung setempat, tetapi berdatangan dari berbagai daerah di Kalimantan.

Dalam upacara Baayun Maulud ini dibacakan beberapa syair seperti syair barzanji, syair syarafal anam, dan syair diba’i. Anak-anak yang akan diayun dalam upacara tersebut baru dibawa ke masjid menjelang tibanya pembacaan asyrakal dan si anak langsung dimasukkan ke dalam ayunan yang telah disediakan. Tepat saat pembacaan asyrakal, anak yang ada dalam ayunan diayun secara perlahan, yakni dengan menarik selendang yang diikat pada ayunan tersebut.

Baca juga:  Pesantren di Mata Rendra

Maksud diayun pada saat itu adalah untuk mengambil berkah atas keluhuran dan kemuliaan Nabi Muhammad SAW yang kelahirannya diperingati saat itu. Semua anak yang diayun dalam masjid tersebut didoakan oleh pemuka agama dan seluruh peserta upacara. Mereka semua berharap dan berdoa agar anak-anak tersebut kelak menjadi ummat yang taat, bertakwa kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.

Upacara Baayun Maulud dilaksanakan pada pagi hari dimulai pukul 10.00 WITA bertepatan dengan tanggal 12 Rabiul Awal, hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Baayun Maulud merupakan pencerminan rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya serta kepada Nabi Muhammad SAW yang membawa rahmat ke muka bumi ini disambut dengan puji-pujian yang diucapkan dalam syair-syair yang merdu.

Kain sasirangan (Foto: netralnews)

Tata cara Baayun Maulud

Berikut ini adalah tata cara teknis baayun maulud yang secara garis besar dibagi menjadi dua tahap yaitu persiapan dan pelaksanaan. Tahap persiapan merupakan tahap pembuatan berbagai peralatan yang diperlukan untuk upacara tersebut.

1. Pembuatan ayunan

Ayunan berupa tapih bahalai (kain sarung wanita tanpa dijahit) yang ujungnya diikat dengan tali atau pengait. Kain ayunan itu terdiri atas tiga lapis. Dahulu salah satu kain diisyaratkan berupa kain sasirangan dengan motif bahindang (pelangi).

2. Hiasan ayunan

Hiasan ayunan terdiri dari janur pohon nipah atau janur pohon kelapa atau pohon enau. Jenis-jenis hiasan yang disiapkan antara lain berbentuk: tangga puteri, tangga pangeran, payung singgasana, patah kangkung, kambang sarai, gelang-gelang atau rantai, dan hiasan lainnya bisa ditambahkan seperti buah pisang, kue cucur, kue cincin, dan sebagainya.

Baca juga:  Sunat: Tradisi, Agama, dan Medis

3. Piduduk

Piduduk adalah syarat upacara yang berupa bahan-bahan mentah yang terdiri dari 3,5 liter beras, 1 biji gula merah, sedikit gaaram, dan untuk anak wanita ditambah minyak goreng. Piduduk ini melambangkan tentang kehidupan, misal; beras agar paras muka lebih baik, kelapa dan gula agar setiap pembicaraannya lamak (gurih) dan manis, garam artinya setiap pembicaraannya selalu berwibawa, sedangkan minyak goreng bagi wanita melambangkan harapan supaya segala hal mendapat perhatian.

4. Sesaji

Sesaji adalah perlangkapan (syarat upacara) berupa barang masak yaitu telur dan nasi lamak (nasi ketan bersantan).

Pada pagi hari yang ditentukan, ayunan yang telah dihiasi diisi dengan batu pipih, digantungkan di tempat upacara yaitu ruangan bagian depan. Setelah semua undangan hadir, maka dimulailah acara Maulid Nabi. Naskah syair-syair yang dibacakan tergantung pada keinginan bersama, bisa kitab Maulid Al-Barzanji, Syaraful Anam, Dibai’, atau Maulid Al-Habsyi.

Menjelang larik asyrakal, anak yang akan diayun dibawa ke tempat upacara dan setelah batu pipih yang ada di ayunan tadi dikeluarkan, maka barulah anak tersebut dimasukkan ke dalam ayunan.

Pada waktu pembacaan asyrakal, seluruh peserta upacara berdiri, anaknya yang ada di dalam ayunan itu mulai diayun perlahan-lahan, yaitu dengan menarik selendang yang telah dikaitkan pada pangkal ayunan.

Baca juga:  Argumentasi Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw

Pada saat pembacaan doa, ayunan ini dihentikan, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan awal-awal yang diulang 7 kali. Selesai pembacaan awal-awal maka berakhirlah upacara baayun maulud. Namun, bagi keluarga dan masyarakat tertentu ada yang dilanjutkan dengan batapung tawar dan naik turun tangga manisan (tebu) atau acara batumbang.

Menurut aturan adat, dalam upacara terdapat beberapa pantangan atau larangan, di antaranya:

  1. Hiasan janur yang tidak diperkenankan lagi menyerupai burung.
  2. Anak yang diaayun tidak boleh dalam keadaan tertidur sewaktu pelaksanaan baayun maulud sedang berlangsung.
  3. Saat upacara berlangsung semua wanita dilarang memasuki ruang baayun di dalam masjid.

Miranda pernah menemui penyelenggara Baayun Maulud untuk menanyakan mengenai larangan perempuan masuk masjid.

Penyelenggara dari Museum Lambung Mangkurat dan Masjid Sultan Suriansyah Banjarmasin menegaskan, wanita diperbolehkan ikut masuk untuk mengayun anak.

Artinya, tradisi ini mengalami dialektika dan perubahan diterima karena memang rasional. Bagaimana pun anak kecil (balita) lebih dekat dengan ibunya dari ayahnya, bahkan untuk “sekadar” menggoyang ayunan.

Begitulah ketika tradisi dirayakan dengan sepenuh penghayatan. Tak akan ada “mauludan” tanpa baayun maulud di Banjarmasin……

Halaman: 1 2
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top