Sedang Membaca
Dakwah Sebagai Media Transformasi Sosial (3): Menjembatani keragaman dan menguatkan kemanusiaan

Dakwah Sebagai Media Transformasi Sosial (3): Menjembatani keragaman dan menguatkan kemanusiaan

Musdah Mulia
Dakwah Sebagai Media Transformasi Sosial (2): Menghidupkan Nilai-nilai Moral, Meningkatkan Kualitas Spiritual

Sebelumnya, saya sungguh mengapresiasi semua upaya yang telah dilakukan banyak pihak untuk meningkatkan kualitas dakwah di Indonesia, termasuk seminar internasional yang dilakukan UIN Sunan Kalijaga hari ini. Saya mengakui banyak kemajuan telah dicapai terkait peningkatan kualitas dakwah berkat kerja keras banyak pihak, khususnya para pegiat dakwah.

Namun, harus pula diakui bahwa keberhasilan yang ada belum memenuhi harapan, khususnya dikaitkan dengan kondisi obyektif umat Islam. Menurut saya, reformulasi dakwah mendesak dilakukan agar dakwah mampu menjembatani keragaman dan menguatkan kemanusiaan (bridging diversity and enriching humanity).

Dalam reformulasi dakwah, setidaknya ada lima unsur dakwah yang harus ditingkatkan kualitasnya, yaitu:

1. Unsur Pelaku Dakwah (Dai/Daiyah)

Seorang pelaku dakwah, siapa pun dia, selayaknya memiliki pengetahuan, keterampilan dan pengalaman yang memadai terkait dakwah. Para pelaku dakwah bukan hanya memiliki kompetensi, melainkan yang terpenting adalah integritas dan semangat kemanusiaan (Muhammad Abu Zahrah, al-Da’wah ila al-Islam. Dar al-Fikr al-Arabi, t.thn. halaman 138-140).

Mereka harus punya komitmen menebarkan interpretasi keagamaan yang baru yang lebih humanis, demokratis dan rasional selaras dengan kondisi obyektif masyarakat yang dihadapi (Q.S. Ibrahim, 14: 4) Dalam konteks Indonesia, dibutuhkan dai yang mengerti falsafah Pancasila dan Konstitusi, serta nilai-nilai universal hak asasi manusia.

Baca juga:  Islam Moderat Harus Berbenah

Selain itu, juga mengenali nilai-nilai kearifan lokal yang sudah membudaya di masyarakat  Umat Islam membutuhkan dai yang mampu menghidupkan nilai-nilai moral dalam diri individu dan masyarakat sehingga masyarakat terdorong untuk selalu berpikir positif dan aktif berkarya demi kemaslahatan semua manusia. Jika nilai-nilai moral tersebut hidup dan aktif, manusia terdorong melakukan upaya-upaya amar ma’ruf nahy munkar dengan cara-cara yang santun dan beradab sesuai kapasitas masing-masing.

Umat Islam membutuhkan dai yang berkomitmen memajukan masyarakat dengan menebar kasih-sayang dan merajut perdamaian (Q.S. al-Shaf, 61:30). Bukan dai yang pemarah, senang memprovokasi masyarakat dengan ujaran kebencian dan permusuhan serta menggiring umat kepada kehancuran peradaban.

Baca Juga

2. Unsur Penerima Dakwah (Mad’u, Audience).

Masyarakat penerima dakwah, walaupun sesama umat Islam, namun kondisi mereka sangat beragam: antara lain beragam etnis, ras, bahasa, adat-istiadat, gender, tingkat intelektual, pemahaman keislaman, dan pilihan politik.

Dakwah seharusnya mengedukasi mereka menjadi lebih spiritual dan beradab melaui upaya menghidupkan nilai-nilai moral agama. Jika penerima dakwah terdiri dari orangorang yang berpikiran terbuka, kritis, dinamis, senang belajar, ingin berubah, dakwah merupakan pemicu yang akan mempercepat terjadinya transformasi masyarakat.

Baca juga:  Tersesat dalam Agama

Sebaliknya, jika penerima dakwah terdiri dari orang-orang yang skeptis, apatis, mudah diprovokasi, tidak kritis dan tidak rasional, maka kegiatan dakwah tidak banyak membantu mereka melakukan transformasi. Jika demikian kondisinya, maka dakwah akan berubah bentuk dari tuntunan menjadi tontonan dan menjadikan penerima dakwah sebagai obyek tontonan atau bahkan hanya menjadi obyek politik untuk pemenangan partai atau kelompok tertentu.

Halaman: 1 2 3
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top