Penulis Kolom

Pengajar di Salatiga.

Darwis Abu Ubaidah dan Tafsir Al-Asas  

Sampul Depan Buku Tafsir Al Asas 120604132155 547

Dari masa ke masa, tafsir di Indonesia mengalami perkembangan yang pesat. Hal ini dilihat dari banyaknya metode dan corak yang digunakan untuk menuliskannya. Di awal munculnya tafsir di Indonesia, penulisan tafsir masih menggunakan metode tahlili dengan penjelasan yang sangat singkat.

Kemudian pada awal abad ke 20 muncullah berbagai macam literatur tafsir yang mulai ditulis oleh kalangan Muslim Indonesia. Beberapa diantaranya mulai menulis tafsir dengan tema tertentu. Salah satu tafsir yang ditulis dengan menggunakan tema tertentu adalah tafsir Al-Asas karya Darwis Abu Ubaidah.

Biografi H. Darwis Abu Ubaidah.

Darwis bin Abdur Razaq atau lebih lebih populer dengan Darwis Abu Ubaidah, lahir pada hari Rabu, 25 Februari 1966. Lahir di sebuah desa kecil yang berpenduduk kurang lebih 600 jiwa, berjarak kurang lebih 150 km dari kota Pekanbaru, Riau.

Beliau menempuh pendidikan Madrasah Ibtidaiyah Negeri dan Pondok Pesantren Darun Nahdhah Thawalib, Bangkinang pada tahun1982-1987, dengan mengikuti ujian Negara di Madrasah Tsanawiyah Negeri, Kuok, 1986.

Setelah itu, melanjutkan ke Madrasah Aliyah Negeri pekanbaru, 1989. Usai sekolah di Madrasah Aliyah Negeri Pekanbaru, beliau merantau ke Jakarta sembari melanjutkan pendidikan di Lembaga Da’wah Islam (LPDI) Jakarta, 1989-1990.

Pada tahun yang sama, beliau juga belajar di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta dengan mengambil program bahasa. Pada tahun 2009, beliau juga berhasil menyelesaikan pendidikan S2 di Universitas Islam “45” (UNISMA) Bekasi, Program Magister Manajemen Pendidikan Islam.

Baca juga:  Sabilus Salikin (25): Islam, Iman, dan Ihsan

Mengenal Dekat Tafsir Al-Asas.

Latar belakang penulisan tafsir al Asas, menurut pemaparan penulis adalah adanya keinginan untuk menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan persoalan-persoalan pokok dalam wilayah Islam, Iman dan Ihsan. Tidak hanya itu, Darwis ingin menjelaskan fenomena-fenomena ke-Indonesia-an agar lebih mudah dipahami langsung oleh umat Muslim di Indonesia.

Jika melihat dari makna karya tafsirnya, Al Asas artinya adalah dasar atau sendi, juga bisa diartikan pondasi yang dengannya sebuah bangunan akan berdiri dengan tegak. Dalam tafsir ini dijelaskan ayat-ayat yang berkaitan dengan dasar-dasar keislaman dan sendi-sendi keimanan.

Di dalamnya diawali dengan pembicaraan masalah iman kemudian masalah Islam seperti mendirikan sholat dan membayar zakat dan kemudian dilanjutkan lagi dengan masalah ihsan seperti berbuat baik kepada kerabat, anak yatim dan lainnya.

Dalam mengambil ayat-ayat yang kemudian dimasukkan ke dalam karya tafsirnya ini, beliau memilih dengan penuh pertimbangan dan kehati-hatian. Hal ini dilakukan untuk menghindari adanya subjektifitas dari penulis, walaupun kesan tersebut tidak dapat dihindari.

Tafsir al Asas terdiri dari 13 bagian dan diakhiri dengan penutup. Bagian 1 membahas surah al-Fatihah [1]: 1-7 dengan judul “keagungan surah al-Fatihah”. Bagian 2 yaitu surah al-Baqarah [2]: 62 “Kewajiban Mengikuti Syariat Muhammad”. Bagian 3, QS. al-Baqarah [2]: 177 “Sendi-sendi Keimanan dan Keislaman”.

Bagian 4 tentang surah al-Baqarah [2]: 183-187, “Kewajiban Berpuasa dan Keutamaan Beri’tikaf’. Bagian 5 yaitu surah al-Baqarah [2]: 196, “Kerjakan Haji dan Umroh karena Allah”. Bagian 6 yaitu surah al-Baqarah [2]: 224 tentang “Kedudukan Sumpah di Dalam Islam”. Bagian ke 7 yaitu surah al-Baqarah [2]: 278-281 tentang “Bahaya Riba dalam Berpiutang”.

Baca juga:  Kitab Kecil Warisan Habib Utsman

Bagian 8 tentang surah al-Maidah [5]: 6 tentang “Bersuci dan Berbagai Persoalannya”. Bagian 9 menjelaskan surah al-Maidah [5]: 35 tentang “Takwa, Wasilah dan Jihad.” Bagian 10 yaitu surah at-Taubah [9]: 75-76 tentang “Membela Tsa’labah bin Hathib Al-Ansari”. Bagian 11 yaitu surah al-Furqan[25]: 2 tentang “Qadha dan Qadar”.

Bagian 12 yaitu surah Fathir [35]: 32 tentang “Tiga Golongan Umat Muhammad saw”. Bagian 13 yaitu surah Al-Maun [107]: 4-6 tentang “Ancaman bagi Orang-Orang yang Melalaikan Sholat”. Tiap-tiap bagian terdiri dari beberapa poin, dan pada tiap poin mengandung sub-sub bahasan yang memberikan penjabaran terhadap penyampaian materi yang dimaksud.

Jika melihat dari susunan kitab atau bagian-bagian kitab yang ada, maka kitab Tafsir Al-Asas ini menggunakan metode penjelasan ayat yang telah dipilih kemudian dijabarkan dengan menggunakan rujukan tema dari setiap ayat. Tafsir Al-Asas termasuk kepada tafsir kontemporer karena ditulis dan diterbitkan pada tahun 2012.

Tafsir Al-Asas ini juga mengutip pendapat beberapa ulama terdahulu kemudian beliau memberikan kesimpulan dari beberapa pendapat yang dikutipnya. Mengenai isi dari Tafsir Al-Asas, menurut pembacaan Penulis, tafsir ini ditulis dengan  corak fiqih karena banyak dari sub bahasan yang ada dalam tafsir lebih kepada bidang fiqihnya.

Seperti dalam contoh bagian pertama yang menjelaskan tafsir al Fatihah. Dalam tafsirnya, Darwis juga membahas mengenai pembacaan al-Fatihah ketika sedang sholat. Maka hal ini yang menjadi alasan penulis menyebut corak tafsir ini adalah fiqih. Begitu juga ketika membahas Surah al Maun, beliau membahas  kelalaian atas kewajiban sholat.

Baca juga:  Mengenal Kitab Pesantren (5): Tanqih al-Qaul al-Hasis fi Syarh Lubab al-Hadis Karya Muhammad bin Umar al-Nawawi al-Bantani

Mendirikan Sholat; Sebagai Contoh.

Sholat sebagai ibadah dan dzikir dapat dijumpai dalam firman Allah pada surah Thaha [20]: 14. Keutamaan sholat yang dikatakan sebagai benteng dan perisai bagi pelakunya dari berbagai perbuatan keji dan munkar dijelaskan pada Surah al Ankabut[29]: 45.

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu yaitu Al Kitab dan dirikanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakaan.”

Sholat dan dzikir adalah dua hal yang erat kaitannya satu sama lain. Karena sholat akan berupaya untuk senantiasa dzikir atau mengingat Allah. Dan orang yang banyak mengingat Allah akan merasa selalu diperhatikan oleh Allah swt. Kondisi merasa diawasi Allah inilah yang oleh hadis Nabi disebut Ihsan.

Firman Allah Surah al-Ankabut [29]:45 dapat dijadikan dasar dan pegangan yang sangat kuat dan tegas tentang keutamaan sholat bagi pelakunya. Suatu hal yang tidak boleh dilupakan bahwa sholat adalah ibadah yang paling pertama dihisab kelak di akhir kiamat.

 

 

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top