Sedang Membaca
Sepanjang Apakah Toleransi dan Keadaban Kita di Jalan Raya?
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Sepanjang Apakah Toleransi dan Keadaban Kita di Jalan Raya?

Setyaningsih

Sejak belia, bermula dari jalanan yang paling dekat di keseharian, orang-orang berani menadah konflik sekaligus harmoni. Jalan mengambil peran sebagai pengasuh dan pengasah cara beretika atau bersikap. Akhir-akhir ini, kita sering mendapati jalanan kampung berbenar menjadi lebih ramah.

Warga kampung ingin berdaulat bahwa jalan kampung memiliki cara menjadi toleran dengan gayanya, tidak hanya jalan-jalan kota yang berdaulat dengan segala tata rambunya.

Ada yang menggambari jalan kampung dengan gambar dua dan tiga dimensi berupa jembatan di atas jurang atau kubangan besar yang misterius. Gambar tiga dimensi ini segera menarik perhatian sekaligus sewaktu-waktu bisa menginsafkan para pengendara yang mengebut. Psikologi mereka “dipermainkan” oleh jurang yang tampak nyata. Gambar di jalan tegas berkata, “berhati-hatilah!” Kata lebih tegas dari plakat, “Hati-hati banyak anak-anak!”

Di jalanan, orangtua dan anak tidak merasakan ancaman yang membahayakan jiwa serta raga. Tidak ada hal yang perlu ditakutkan dari jalan. Anak secara tidak langsung menjadi pembelajar tentang di jalan, bukan hanya pembelajar cara berjalan.

Kita sering merasakan kekhawatiran sejak jalanan kampung yang kecil sekalipun. Anak-anak sekolah dasar sudah dibiarkan menaiki sepeda motor dan memang sengaja diajari sebelum penempaan etika berjalan dalam diri.

Mereka cenderung tergoda menjadi superior sebagai pengguna jalan karena berada di atas kendaraan bermesin; ngebut, ngetril, atau mengeraskan suara mesin. Orangtua terlalu menyepelekan.

Pengguna jalan tanpa kendaraan dan kaum bersepeda menjadi pihak yang harus selalu mengalah dan dikalahkan. Jalan gagal mengabarkan keberadilan lewat rutinitas harian yang pasti menggunakan jalan.

Jalan dibangun bukan saja sebagai infrastruktur yang melancarkan mobilitas. Pihak kepolisian dipastikan tidak hanya mengurusi keperluan SIM yang melegalkan seseorang dewasa berkendara dan menggunakan jalan raya.

Baca Juga:  Kita Sebelum Dilahirkan

Selain anjuran berhati-hati di jalan dari orangtua dan guru, pihak kepolisian melengkapi dengan safari keselamatan di pelbagai institusi pendidikan kanak. Aneka permainan, alat transportasi mini, ataupun adegan rekonstruksi di jalan diperagakan dan dipermainan. Anak-anak diharap menjadi para calon pengguna jalan yang bijak, dari menaati peraturan, mengenali rambu, dan saling berbagi dengan sesama pengguna.

Majalah anak Si Kuncung edisi No.8 (XVII, 1974) pernah memuat tulisan “Polantas Cilik” oleh Syaiful Bakhri, Padang. Sekilas dari ilustrator garapan Timboel Soedradjat, tampak lima anak sedang berada di jalan untuk menjadi pembelajar jalan. Di sana juga ada Polisi Lalu Lintas yang diceritakan, “Terlihat polisi itu cekatan. Enak saja tangannya melambai dan mengacung, memberhentikan kendaraan serta menyuruh kendaraan dari jurusan lain berjalan.”

Giliran lima anak, Rusli, Tono, Ati, Sri, dan Budi menyimak dan mempraktekkan. “Anak-anak itu memperhatikan dengan seksama. Tampak tangan Polisi itu yang satu diacungkan ke muka dan yang satunya lagi membuat sudut siku. Lalu, ia memutar lagi ke kanan. Peluit sekali-kali berbunyi tanda berhati-hati.”

Calon-calon polantas cilik beraksi di jalan untuk menggenapi pengetahuan dari buku-buku. Mereka belajar betapa berbahaya jalan tanpa pesan keselamatan yang disepakati bersama demi aman bersama.

Mereduksi Konflik
Di buku pelajaran lawas atau mutakhir, kita mendapati bagaimana kota dinarasikan lewat jalan. Bangunan, jalan, keramaian orang-orang, dan alat-alat transportasi menjadi penglihatan modern dan megah.

Kita cerap di buku bacaan anak lawas berjudul Titian (1950) garapan R.M. Djamain dan gambar oleh Sajuti Karim. Ada tulisan berjudul “Di kota” yang bercerita,

“Bagus-bagus rumah di kota. Lagi pula besar-besar. Djalannya lebar-lebar. Banjak oto jang bagus-bagus. Ada jang ketjil, ada jang besar. Mereka lalu dimuka toko. Sebentar-sebentar mereka berhenti hendak melihat-lihat. Banjak jang gandjil-gandjil!”

Baca Juga

Ali, si tokoh anak dalam cerita begitu terpukau dengan keramaian. Meski tidak diceritakan secara tersurat, keberadaan jalan memberikan kesadaran jalan sebagai wilayah publik yang tidak bisa dihadapi dengan kesewenangan atau kesembronoan. Aturan berlaku untuk mereduksi konflik sosial, ekonomi, politik, dan fisik serta jiwa.

Secara moral, anak-anak yang salah waktu dan sikap di jalan mendapat stigma buruk. Kita tentu sering melihat jalan sebagai gaung kebebasan anak-anak berseragam untuk mbolos, konvoi, mengebut, atau melakukan aksi vandalisme.

Perlawanan di jalan bisa saja menjadi pelampisan frustrasi menghadapi rutinitas di sekolah ataupun di jalan. Sangat mungkin juga bahwa anak-anak ini memang lebih dulu mendapati gaya hidup ugalan pengendara dewasa: menyerobot lampu merah, berkonvoi, menerabas trotoar, dan pastinya mengebut.

Dari jalan, anak bertumbuh menjadi manusia bertoleransi atau memilih egoistik yang merusak atau mengganggu. Bukan hanya rambu-rambu keselamatan atau polisi memberikan jaminan selamat, tapi para pengendara sekaligus peristiwanya menjadi percontohan nan hidup bagi banyak bocah.

Bagi kota yang menggaungkan jargon “Kota Ramah Anak”, harus benar-benar memikirkan jalan tidak hanya sebagai jalur melenggangkan keangkuhan mesin-mesin modernitas. Kita tidak ingin anak hanya melihat jalan sebagai biang kematian, kecelakaan, kemacetan, tindak intoleran, dan waktu yang melenggang sia-sia.

Dari jalan kampung sampai jalan kota raya, mereka berjalan berdemokrasi, bertoleransi kepada sesama, dan saling berbagi. Jalan bukan sekadar infrastruktur penting bagi negara untuk melancarkan kepentingan politik, ibadah, ekonomi, sosial, dan pariwisata.

Di jalanlah –bukan hanya di kantor yang bersih, di meja rapat yang berwibawa, di masjid, di klenteng, di gereja, di pure atau tempat ibadah lainnya– setiap orang disemai menjadi manusia beradab.

Lihat Komentar (0)

Komentari