Sedang Membaca
Bekal Literasi Pergi ke Tanah Suci
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Bekal Literasi Pergi ke Tanah Suci

Muhammad Milkhan

Pergi ke Tanah Suci Meningkat, ke Mekkah, Madinah, bahkan bagi yang banyak duit lagi ke Yerusalem. Mereka berbondong-bondong untuk melakukan ibadah haji. Ibadah umrah juga makin marak, ramai, semangat, antri, karena menanti ibadah haji cukup ramai. Tulisan ini memaparkan problem ke Tanah Suci dari sisi literasi, bukan ibadahnya.

Para peziarah hadir di kota suci jarang bermodal literasi. Mereka kebanyakan hanya membawa bekal hafalan lafaz suci yang akan dibacakan di tempat-tempat tertentu, untuk memenuhi tuntutan rukun ibadah haji maupun umrah.

Peristiwa-peristiwa monumental sebagai fondasi lahirnya rukun ibadah tersebut hanya berupa memori kolektif singkat yang tanpa proses permenungan yang cukup dalam. Hajar berlari antara bukit Sofa dan Marwah untuk mencari sumber air disebut sa’i, melempar batu-batu kecil ke tiga tiang (jumroh) sebagai perlambang pengusiran terhadap setan yang mengganggu keimanan Ibrahim ketika hendak menjalankan perintah Tuhan menyembelih Ismail, menjadi cerita-cerita paling banyak diingat para jemaah.

Selebihnya, para jemaah hanya berkutat pada persoalan harga biaya perjalanan dan fasilitas yang mungkin akan mereka terima ketika berada di tanah suci, tentu selain kerja keras untuk menghafalkan bacaan wajib sebagai syarat sahnya ibadah di tanah suci.

Agen perjalanan umrah juga para pembimbing haji kerap abai menyarankan buku-buku bacaan, sebagai pemantik ritual ibadah para jamaah dengan menyertakan sejarah tanah suci sebagai perangsang iman. Juga tentang kesadaran pengetahuan tokoh, peristiwa, latar tempat yang sangat minim.

Walhasil, para jamaah kerap mendapatkan persoalan hanya pada tataran teknis bukan pada substansi ritual ibadah, semacam hanya mengurusi kulitnya saja tanpa pernah mencoba merasakan kenikmatan menyantap buahnya.

Penipuan biro umrah, keterlambatan pemberangkatan kloter, persoalan logistik di tanah suci merupakan beberapa persolan yang kerap diperbincangkan. Meskipun  persoalan-persoalan tersebut juga cukup substantif, namun alangkah lebih indah bila ritual ibadah di tanah suci juga bermodal asupan literasi.

Bacaan-bacaan semacam Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyur Rahman Al-Mubarakfury (Pustaka Al-Kautsar, 1997), Dua Pusaka Nabi SAW “Al-Quran dan Ahlulbait” karya Ali Umar Al Habsyi (Ilya, 2010), Pergilah Selagi Muda “Catatan Ibadah Haji Wartawan Kompas” (Kompas, 2007), Sejarah Hidup Muhammad karya Muhammad Husain Haekal (Lentera Antar Nusa, 1990), Perjalanan Religius Umrah dan Haji karya Nurcholish Madjid (Paramadina, 2000), merupakan sedikit contoh buku-buku yang mungkin bisa dibaca sebelum menginjakkan kaki di tanah suci.

Baca juga:  Rukhashut Thaharah: Kemudahan dalam Fikih Bersuci Karangan KH. Muhammad b. ‘Abd al-Qadir Ba-Fadhal Kediri (1992)

Kakbah dibangun atas dasar kerinduan dan kasih sayang antara anak dan bapaknya. Kesetiaan, keikhlasan dalam menjalankan titah Tuhan membuahkan bangunan suci yang menjadi kiblat umat Islam.

Kita simak bersama kisahnya dalam buku Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyur Rahman:

Pada kedatangan ketiga kalinya Ibrahim bisa bertemu dengan Ismail yang saat itu Ismail sedang meraut anak panahnya  di bawah sebuah pohon dekat sumur Zamzam.

Tatkala melihat kehadiran ayahnya, Ismail berbuat sebagaimana layaknya seorang anak yang lama tidak bersua bapaknya, demikian juga Ibrahim berbuat layaknya seorang bapak yang sangat merindukan anaknya yang telah ia tinggalkan sejak lama. Sebagai seorang ayah penuh rasa kasih sayang dan lemah lembut, sulit rasanya beliau bisa menahan kesabaran untuk bersua anaknya.

Begitu pula dengan Ismail sebagai anak yang berbakti dan saleh. Dengan adanya perjuangan ini mereka berdua sepakat untuk membangun Kakbah, meninggikan sendi-sendinya dan Ibrahim memperkenankan manusia untuk berhaji sebagaimana diperintahkan Allah kepadanya.

Kisah di atas kerap diabaikan oleh para peziarah di tanah suci. Adegan perjumpaan bapak dan anak yang mengharu biru setelah menanggung rindu sekian lama bisa jadi pengingat kita bersama, bahwa kehadiran Kakbah juga menjadi simbol kerinduan seorang hamba kepada Tuhannya. Maka kerap kita mendengar istilah ‘tamu Allah’, bahwa orang-orang yang berhasil hadir di hadapan Kakbah merupakan orang-orang pilihan Allah yang diperkenankan untuk bertamu ke rumah-Nya.

Ada kehendak untuk berjumpa, namun kerap gagal menemui momen pertemuan, hingga yang dirasakan hanya rindu untuk berjumpa, sampai suatu saat Allah mengabulkan keinginan seorang hambanya bisa hadir di hadapan Kakbah, rumah-Nya.

Lain halnya dengan Husain Haekal yang mengetengahkan cerita tentang kondisi rumah-rumah di Mekkah sebelum kedatangan Islam dalam salah satu pembahasan di bukunya Sejarah Hidup Muhammad. Bangunan rumah-rumah di Mekah bisa jadi pengingat bersama tentang kondisi geografis dan sosiologis untuk menunjang kekhusyukkan ibadah dalam rangka ibadah napak tilas (ziarah) di tanah suci.

Baca juga:  Empat Penyangga Islam

Dalam buku itu, Haekal menceritakan bahwa sampai pada waktu pimpinan Mekkah berada di tangan Qushayy, bangunan apapun belum ada di tempat itu, selain Kakbah. Alasannya ialah, karena baik Khuza’a atau Jurhum tidak ingin melihat ada bangunan lain di sekitar rumah Tuhan itu, juga karena pada malam hari mereka tidak pernah tinggal di tempat itu, melainkan pergi ke tempat-tempat terbuka.

Akhirnya, dengan perintah Qushayy, orang-orang Quraisy lalu membangun tempat-tempat tinggal mereka di sekitar Kakbah, dengan meluangkan tempat yang cukup luas untuk mengadakan tawaf sekitar rumah itu dan pada setiap dua rumah disediakan jalan yang menembus ke tempat tawaf.

Lebih lanjut Haekal menceritakan bahwa pada dasarnya tempat-tempat tinggal di Mekah mengelilingi lingkungan Kakbah. Kedudukan suatu keluarga atau suku menentukan jauh dekatnya rumah-rumah penduduk dari Kakbah. Kaum Quraisy adalah yang terdekat letaknya dan paling banyak berhubungan dengan rumah suci itu.

Baca Juga

Merekalah yang berhak memegang kunci Kakbah dan mengurusi air zamzam, juga segala gelar-gelar kebangsawanan menurut paganisme yang ada pada mereka sampai akhirnya menimbulkan perang. Di belakang rumah Quraisy menyusul pula rumah-rumah kabilah yang menempati posisi kurang penting, lalu diikuti lagi oleh yang lebih rendah, sampai akhirnya pada tempat-tempat tinggal kaum budak dan sebangsa kaum gelandangan.

Dari cerita Haekal kita bisa mengerti tentang arti pentingnya kehadiran Muhammad sebagai pengemban risalah Islam yang membawa pesan humanisme, persamaan hak dan kewajiban serta menghapuskan isu sektarian yang kerap memantik konflik antar suku di jazirah Arab.

Islam hadir membawa pesan perdamaian dan rahmat bagi semesta. Yang membedakan hamba di hadapan Tuhannya bukanlah status sosial, namun ketakwaan dan keimanan seorang hamba kepada Allah. Sejarah arsitektur Arab pra Islam bisa jadi bukti otentik tentang hikmah ibadah haji dan umrah pasca kehadiran Islam, sehingga para jamaah dapat lebih meresapi keberuntungan mereka dalam kehadirannya di tanah suci.

Baca juga:  Sabilus Salikin (39): Pendapat yang Menolak Adanya Karamah

Dengan berbekal literasi, para calon jamaah, atau orang-orang yang ingin dipanggil oleh Allah untuk bertamu ke tanah suci, tidak melulu mengetengahkan isu finansial sebagai persoalan utama yang kerap dikeluhkan. Sebelum kehadiran tubuh secara utuh di tanah suci, mereka bisa memulainya dengan berziarah ke tanah suci melalui pengalaman berliterasi.

Menumpuk bahan bacaan yang membekas di hati tenang sejarah tanah suci, tentu akan sangat membantu kekhusyukkan beribadah sekaligus penghayatan kehadiran tubuh dan ruh secara total.

Dalam catatan ringan ibadah haji wartawan Kompas, Taufik Ikram Jamil berujar bahwa haji tidak saja merupakan tikam jejak (napak tilas) dalam pengembangan Islam yang dilakukan Nabi Muhammad, tapi juga perjalanan yang merambah asal manusia sejak ketika adam dan hawa dijatuhkan ke bumi.

Lebih jauh lagi seperti dikatakan Dr. Ali Muhammad Muthawwi dari Universitas Al Azhar, haji menyeret pengembaraan intelektual manusia kepada pertanyaan bagaimana dunia ini terwujud. Selain itu, haji memungkinkan menjadi media pendidikan umat Islam dalam kehidupan yang menekankan betapa pentingnya kerjasama serta saling menghormati.

Sekarang, semarak untuk menghadirkan diri di tanah suci kerap hanya dilandaskan pada persoalan materi. Kita lupa bahwa bekal literasi juga menjadi persoalan penting agar ibadah tak melenceng dari jalur kekhusyukan yang telah dicontohkan para orang suci.

Di tanah suci, kita tidak diperkenankan memamerkan pencapaian materi duniawi juga status sosial, semuanya seragam dalam balutan kain ihram berwarna putih. Bukankah ini pertanda, bahwa yang hakiki bukanlah apa yang tampak oleh mata manusia, sama halnya dengan bekal literasi yang hanya bisa kita resapi dalam diri sebagai bahan permenungan untuk menghadap ke rumah Ilahi. Semoga.

Lihat Komentar (0)

Komentari