Sedang Membaca
Tuhan dalam Aneka Rasa Buah-buahan
Penulis Kolom

Esais dan Penulis buku "Bermula Buku, Berakhir Telepon" (2016).

Tuhan dalam Aneka Rasa Buah-buahan

Di media sosial Facebook sekitar setahun lalu, ada seorang teman berpengikut fantastis mengabarkan peristiwa berbuka dengan buah kurma dan mangga. Dia mengatakan bahwa kedua kurma dan mangga menandai sunnah Nabi sekaligus menjaga ketahanan pangan (buah) nasional.

Meski pernyataan ini tampak sebagai kelakar, pernyataan dua buah yang berbeda kebangsaan itu semakin mengukuhkan pembauran identitas nasionalis-islam. Apalagi, saat itu sedang Ramadan. Buah-buahan dipastikan naik derajay sebagai santapan religius nan menyegarkan dahaga.

Kita yang berada di Indonesia sering menahbiskan kurma sebagai santapan Islami. Wadah kurma menyapa kita di beberapa rumah, selalu menampilkan huruf-huruf Arab yang sulit terbaca sekaligus ilustrasi pohon kurma di suatu padang luas.

Secara imajiner, kurma mengatarkan kita ke tanah nasi dan orang-orang suci. Di masjid atau rumah, terlebih dalam agenda berbuka bersama, kurma dititipi pesan religius. Kurma mengalahkan popularitas pisang yang tumbuh subur di kebun-kebun nusantara untuk mengabarkan kesuburan agraris. Pisang adalah buah idola pelengkap makan.

Batangnya berkesan sangan kultural untuk pagelaran wayang. Apalagi daun pisang tidak pernah gagal menjadi pembungkus aneka kudapan dan sayur. Kehadirannya juga membawa doa-doa kesembuhan bagi si sakit. Orang-orang pun terlanjur membiasakan Ramadan dengan sajian kolak (pisang) di meja makan.

Baca juga:  Polemik Cadar: Apa Benar Cadar Identik dengan Radikalisme-Terorisme?

Dari kisah-kisah berhikmah ala Timur Tengah, kurma adalah pohon beranting cerita. Kita bisa simak “Kurma Hasil Kerja Keras” dalam buku Kisah Sejuta Hikmah (1991) garapan Murtadha Muthahhari.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Alkisah, Ali bin Abi Thalib pergi ke kebun membawa sekaleng biji kurma. Di jalan, seseorang bernyata apa yang dibawa Ali. Dijawablah, “Seratus ribu batang pohon kurma, insya Allah,” jawab Ali. Ali memberi jawaban sebagai hadapan dan doa. Biji memang masih menjadi biji, tapi ditanam dengan janji kerja keras yang akan membuahkan kelebatan kelak, “…biji kurma yang dibawa Imam Ali dulunya untuk ditanam – dan berharap suatu saat kelas akan menjadi pohon-pohon kurma – kini telah berubah menjadi sebidang kebun kurma yang hijau dan lebat.”

Di Orang Batak Berpuasa (2007) garapan Baharuddin Aritonang, ada buah salak muncul sebagai berkah geografis Padangsidempuan, Tapanuli Selatan. Buku jadi catatan etnografis personal di sekitar akhir 1950-an.

Padangsidempuan memang terkenal memiliki kebun-kebun salak yang luas. Pasar-pasar menggelar salak langsung dari kebun, terkadang masih dengan duri-duri dan rambut-rambutnya. sampai-sampai, Baharuddin ingin mengawinkan salak pondoh manis dengan salak Padangsidempuan yang besar tapi agak asam biar tercipta salak besar-besar sekaligus manis.

Salak membawa pesan religius ketika Ramadan. Mengingat salak di bulan puasa, Baharuddin menjadi serius mengingat kecurangan yang terkadang dilakukan para pedagang buah. Hal ini membawa citra buruk bagi kota, salak, dan manusia. Puasa dan salak mengingatkan pada kejujuran, tindak tidak mencurangi. Salak menyampaikan cara manusia bersosial dan menyuburkan keimanan.

Watak

Baca juga:  Ekoteologi dan Keadaan Bumi Kita

Buah hidup menyumbang peran dalam pembentukan watak religius. Kita mengingat buah tidak sekadar nama, visualitas, rasa, atau bau, seperti dalam poster-poster buah-buahan yang tertempel di dinding. Pertemuan manusia dengan buah lebih terasa terkenang. Kita cerap puisi liris “Kebun Belakang Rumah Tuan Surjo” (Sadjak² Sepatu Tua, 1972). Pohon² di sini masih seperti dulu/ tjuma lebih tua, lebih akrab, dan tahu/ Pohon mangga, pohon nangka, dan pohon randu./ Di pokok menémpél lumutan dan di dahan benalu./ Pagarnya bunga merah, bunga sepatu, dan rumput perdu/ Semuanja masih ada di sini/ dan sekarang dengan akrab/ Kami berpandangan lagi.

Pepohonan menyumbang ruang berbagi tangis duka, menyembunyikan kesedihan, dan menyaksikan saat batin digoda cinta. Buah itu telah jadi rumah ingatan sekaligus rahasia. Di antar pepohonan, raga diri diterima dengan kasih penuh penerimaan. Ada penciptaan harmoni untuk meredam konflik.

Puisi Faisal Komandobat (2007) berjudul “Di Kebun Buah” menampilkan semesta buah-buahan dengan kesan amat manusiawi. Mereka diibaratkan bocah kecil yang saling bermain dan berkeliaran mengabarkan tanah masih bersedia ditinggali akar dan disinggahi segala unsur yang menyuburkan. Sapa persahabatan terjalin antar buah di kebun, demi tomat-tomat mungil/ kujaring-jaring musim/ kupanggil-panggil air/ datanglah, datanglah/ demi tomat-tomat jelita/ buah merah bundar/ bagai bulan berkeliaran di tanah/ untuk apel pemalu/ warisan surga/ kupersembahkan tanganku/ memetik/ di ranting-ranting hitam/ buah hijau muda/ menyerah tertangkap/ tanda kasih sebulat bumi/ …

Jika buah telah selesai kita santap sebagai santapan saja, lantas meleparkan biji ke luar, penyelesaian itu bisa saja menjadi awal dari biji yang hidup untuk tumbuh menghasilkan buah. Yang tersantap habis pun masih membuahkan kisah-kisah berhikmah secara tersirat ataupun tersurat. Ada waktu-waktu mengingatkan pada ejawantah buah sebagai penentu iman. Buah datang mengabarkan solidaritas, rekonsiliasi, atau doa kesembuhan meski tidak harus gamblang dicap ngislami atau syar’i.

Baca juga:  Memahami Agama, Memadukan Akal dan Kultur
Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
1
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top