Sedang Membaca
Ramalan, Ratu Adil, dan Pilkada
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Ramalan, Ratu Adil, dan Pilkada

Minardi Kusuma

Masyarakat Jawa tidak asing lagi dengan ramalan akan kedatangan Ratu Adil atau Satria Piningat. Kehadirannya pun tidak luput dari gejala-gejala dalam melihat problematika bangsa menjelang kondisi menjelang kehadiran Ratu Adil.

Secara budaya, jauh sebelum negara ini terbentuk, para pendahulu telah meramalkan atas keadaan zaman seperti ini. Bahwa akan ada zaman carut-marut, korupsi, kolusi, nepotisme, kelaliman, dan ketidakadilan. Hal itu seperti yang tertulis di dalam bait 150 Ramalan Jayabaya. Ramalan tersebut berbunyi:

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

“ukuman ratu ora adil, akeh pangkat jahat jahil, kelakuan padha ganjil, sing apik padha kepencil, akarya apik manungsa isin, luwih utama ngapusi. Jika dialihbasahakan ke bahasa kita: hukuman raja tidak adil, banyak yang berpangkat, jahat dan jahil, tingkah lakunya semua ganjil, yang baik terkucil, berbuat baik manusia malah malu, lebih baik menipu. (Pamungkas, 2008: 59)

Ramalan Jayabaya di atas telah dikaji oleh Pujangga-pujangga setelahnya. Pujangga-pujangga itu mencoba menjelaskan tentang ramalan-ramalan Jayabaya. Di antaranya yang melakukan pengkajian tersebut adalah Raden Ngabehi Ranggawarsito (R. Ng. Ranggawarsito), seorang pujangga besar dan santri dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Di dalam karyanya, yaitu di dalam Serat Kalatidha, pupuh sinom, pada (bait) 7, beliau menyebutkan bahwa ada sebuah zaman yang disebut “zaman gila” (arti harfiah dari kala tidha atau zaman édan).

Petikan dari sinom yang dimaksud adalah:

Amenangi zaman édan, éwuhaya ing pambudi, mélu ngédan nora tahan, yén tan mélu anglakoni, boya kéduman mélik, kaliren wekasanipun, ndilalah kersa Allah, begja-begjaning kang lali, luwih begja kang éling klawan waspada. Jika dialih bahasakan ke Bahasa Indonesia, lebih kurang sebagai berikut: menyaksikan zaman gila, serba susah dalam bertindak, ikut gila tidak akan tahan, tapi kalau tidak mengikuti (gila), bagaimana akan mendapatkan bagian, kelaparan pada akhirnya, namun telah menjadi kehendak Allah, seberuntungnya orang yang lalai, akan lebih beruntung orang yang tetap ingat dan waspada.

Ada sebagian pendapat bahwa Ratu Adil merupakan sebuah konsep tentang pembebasan. Konsep ini dikenal di seluruh belahan dunia walaupun dengan istilah yang berbeda-beda. Ini sebenarnya merupakan dari adanya harapan akan zaman yang terbebas dari zaman edan. Harapan terhadap datangnya Ratu Adil ini tidak hanya hidup pada masyarakat

Baca juga:  Dinasti Safawiyah, Gerakan Politik yang Lahir dari Tarekat

Jawa. Hampir semua agama dan aliran kepercayaan terdapat konsepsi tentang milenarisme layaknya Ratu Adil, seperti Imam Mahdi (Islam), Mesiah (Nasrani), Cargo (Papua Nugini), dan ajaran tentang Catur Yoga (Buddha) dan lain-lain. Pada umumnya kepercayaan ini muncul ketika sebuah kelompok masyarakat ditimpa gejolak-gejolak dan bencana, yang mengakibatkan penderitaan dan kesengsaraan pada masyarakat.

Akibatnya, mereka merindukan datangnya masa lalu yang penuh dengan keindahan, kemakmuran, kejayaan dan keadilan. Bahkan mereka menantikan sang juru selamat yang akan membawa masyarakat tersebut pada keselamatan dan kejayaan.

Ciri dan perlambang zaman edan dalam ramalan Jayabaya ialah kekacau-balauan yang total-luas-mendalam. Alam pun turut dihajar kelainan. Situasi dan kondisi objektif manusiawi dan kehidupan sarat dengan penyimpangan di segala sektor. Ratu Adil merupakan tokoh yang akan membebaskan bangsa dari zaman edan.

Berulang kali dalam catatan sejarah selalu memunculkan aliran mesianisme, yang oleh masyarakat Jawa disebut Ratu Adil. Sehingga yang terjadi setiap ada permasalahan masyarakat menanggap bahwa Ratu Adil akan muncul dan akan menyelamatkannya. Walaupun pada akhirnya, harapan-harapan ini akan pulus dengan sendirinya karena tokoh yang dianggap Ratu Adil ini tidak mampu seperti yang diharapkan.

Mitos Ratu Adil menurut Kartodirdjo (2005: 58) bahwa muncul manakala masyarakat Jawa menghadapi masalah-masalah sosial yang besar. Keresahan di depan dan kerisauan menghadapi masa depan yang tak pasti membuat orang Jawa menghadapkan Ratu Adil.

Dalam kaitannya dengan konsep pembebasan, ada satu bahasan lain yaitu propaganda. Propaganda dalam prosesnya selalu berjalan searah di mana pihak komunikator akan selalu menanamkan sugesti atau menggunakan unsur-unsur psikologis lainnya. Komunikator mengharapkan tidak adanya umpan balik bahwa propagandanya dapat diterima. Karena itu dalam propaganda untuk mencapai kemerdekaan kerapkali dihubungkan dengan mitos misalnya ”Jongko Joyoboyo”, ramalan ”Sabda Palon Naya Genggong, dan sebainya. (Sunarjo, 1982: 16).

Baca juga:  Menyoal Logika Rilis Kementarian Agama Terkait Mubalig

Langkah terebut tampaknya dilakukan oleh Jepang dalam mempropagandakan untuk merayu Bangsa Indonesia agar sudi mendukungnya. Mengingat saat Jepang menjajah Indonesia, Jepang telah terseok-seok dalam Perang Pasifik Timur. Sehingga dukungan Bangsa Indonesia sangat dibutuhkan, termasuk diantara akan Ramalan Jayabaya bahwa Indonesia akan terbebas dari penjajahan oleh Bangsa yang ciri-cirinya mirip dengan Jepang.

Namun, propaganda negatif dilakukan oleh Westerling yang pernah menyalah-gunakan Ratu Adil. Westerling adalah seorang Belanda yang membentuk Angkatan Perang Ratu Adil (APRA).

Pandangan selanjutnya, melihat Ratu Adil adalah sebuah konsep kepemimpinan. Terkhusus Ratu Adil ketujuh yaitu Satria Pinandhita Sinisihan Wahyu, jika mengambil pembagian dari R. Ng. Ranggawarsito.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Menurut Marwoto (2009 : 35), Satria Pinandhita Sinisihan Wahyu merupakan satria yang berjiwa dan bersemangat religius yang kuat. Dialah pemimpin yang ditunggu akan membawa kepada kemakmuran dan kesejatian bangsa. Pemimpin sejati yang tegas dan taat kepada Allah, menjalankan roda pemerintahan dengan berdasarkan kepada kitab suci. Seorang Pemimpin yang memiliki sifat rohaniawan dengan selalu berjalan sesuatu Hukum-hukum Kebajikan.

Menurut Purwadi (2005 : 198-200), contoh dalam pewayangan dapat dikemukakan Sang Arjuna yang memiliki sifat Satria pinandhita, bahkan dia pernah bertapa sebagai Begawan Mintaraga atau Ciptoning di Gunung Indrakila. Kata Ciptoning diartikan sebagai pikirannya hening, sedangkan Mintaraga adalah badan yang berdoa.

Dia adalah ksatria Pandawa, tetapi juga rajin untuk prihatin, bertapa, berguru kepada resi, keluar masuk hutan, naik gunung untuk memohon kepada Tuhan untuk kemakmuran negara dan kebahagiaan seluruh rakyat dengan isitilahnya mencari ‘wahyu’ (Karunia Tuhan).

Tokoh dalam dunia pewayangan lainnya adalah Bima. Bima merupakan ksatria Pandawa yang dapat menemukan ‘diri sendiri’ dengan bertemu dengan Dewa Ruci di dasar lautan. Kemudian ilmu yang didapat tersebut diajarkan kepada semua orang. Bima merupakan ksatia yang jujur, taat selayaknya seorang pendeta.

Ratu Adil bukanlah sebuah tokoh yang ditunggu kehadirannya melainkan sebuah konsep kepemimpinan. Konsep kepemimpinan ini layak untuk dikembangkan sebaai alternatif wacana kepemimpinan di Indonesia.

Setiap orang boleh dan bisa memiliki dan mengembangkan sifat-sifat kepemimpinan ini. Sifat satria yang bisa dikembangkan adalah: pertama, seorang pemimpin harus mampu menata, mengatur, mengelola negara secara adil dan bertanggungjawab. Dengan ini diperlukan pendidikan tinggi, pengalaman dan jaringan yang baik.

Baca juga:  Khilafah dan Fikih Muamalah (Refleksi Pasca Putusan PTUN atas Gugatan HTI)

Kedua, seorang pemimpin juga harus memiliki visi atau idealisme yang kuat. Dia tidak boleh terpengaruh oleh sekitarnya yang hendak mengajak menyimpang. Jika memang arus keburukan di sekitarnya kuat, maka dia harus menerapkan falsafah anglaras ilining banyu, ngeli nanging ora keli (merasakan aliran air, menghanyut tetapi tidak terhanyut).

Terakhir, seorang pemimpin haruslah tokoh baru yang mempunyai rekam jejak yang baik. Karena jika setiap pemilihan yang tersaji hanya tokoh-tokoh lama maka kinerjanya tidak jauh dari sebelumnya. Sedangkan sifat dari pinandhita ini: pertama, seorang pemimpin harus selalu eling lan waspada (ingat dan waspada) atau menyucikan diri dan wara’.

Seorang pemimpin haruslah mengutamakan moral, mental dan kepribadian yang handal. Karena sekarang keburukan sudah dianggap biasa, bahkan jika tidak ikut berbuat buruk tidak akan mendapatkan jatah atau akan disingkirkan.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Kedua, seorang pemimpin harus memiliki sikap qona’ah (rendah hati), zuhud (sederhana) dan tenang dalam menghadapi berbagai macam halangan. Namun juga memiliki keberanian yang dilandaskan kepada nilai kebenaran dan keadilan.

Terakhir, seorang pemimpin harus konsisten dan konsekuen terhadap yang telah diucapkan. Sisi-sisi moralitas/mentalitas seorang pemimpin seharusnya diperhatikan.

Kedua konsep itu disempurnakan dengan Sinisihan Wahyu. Makna Sinisihan Wahyu merupakan bentuk lain dari Kitab Suci Firman Illahi. Seorang pemimpin memiliki kemampuan secara duniawi dan secara moral-keagamaan, dan selalu berpedoman dengan Firman Tuhan. Sehingga di sini ada kesungguhan hati bagi pemimpin tersebut untuk selalu menjalankan amanahnya. Mengapa?

Karena merasa takut kepada Tuhan daripada dunia seisinya. Lebih memanang jabatan sebagai amanah daripada hadiah. Sehingga sangat berhati-hati apalagi sangat berharap kepada jabatan sampai menghalalkan segala cara.

Akhirul kalam, jika Ratu Adil seperti saya gambarkan di atas, dapatkan kita menemukannya, menemukan konsep Ratu Adil, dalam proses Pilkada?

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top