Sedang Membaca
Bung Karno dalam Bingkai Lukisan

Tinggal dan sedang menjalani masa pendidikannya di Madrasah El-Fath, Sidi Mellouk El-Aioun, Maroko sejak 2017. Akun IG: @rosyadafaza.mohammad

Bung Karno dalam Bingkai Lukisan

“Telah kuperingatkan kepada kawan-kawan, supaya jangan menguburku seperti Gandhi. Membuat kuburan Gandhi dengan segala macam hiasan. Ini terlalu mewah. Kalau aku, kubikin suatu tempat istirahat dengan pohon-pohon, dengan burung-burung dan sebuah taman. Kembali pada kesederhanaan, kembali pada alam dan nilai-nilai dasar daripada manusia…”

Demikian pernyataan Bung Karno tentang tempat peristirahatan terakhir yang diangan-angankannya. Cindy Adams merekamnya dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat.

Mungkin bagi Bung Karno kesederhanaan merupakan tujuan hidupnya, kembali ke kodrat menusia yang terlahir tanpa suatu bekal, menjadi sebaik-baik manusia yg menjunjung tinggi kasih sayang kepada seluruh ciptaan Tuhan yang (em)punya alam, dan meninggalkan keduniawian lalu menyatu dengan keindahan; bumi pertiwi Indonesia.

Pada suatu masa, setelah agresi militer pertama 21 Juli 1947 Presiden Soekarno dipindahkan ke luar istana Yogyakarta kemudian dipindah lagi ke sebuah desa di Madiun, daerah perkebunan kopi nan sejuk dan asri, di daerah situ masih banyak kijang liar, pada suatu sore seorang pengawal Presiden berburu dan menembak seekor kijang dengan senapannya, dagingnya dibagikan kepada teman sesama pengawal dan sebagian lainnya dibuat dendeng yang kemudian diberikan kepada Bung Karno. Setelah Bung Karno tahu kalo itu adalah daging kijang buruan, ia mengumpulkan semua anggota rombongan dan berkata,

“Kalian tidak memiliki rasa kasihan kepada sesama makhluk hidup. Apa salahnya kijang itu kamu tembak. Bagaimana kalo kijang itu punya anak yang masih memerlukan pertolongan induknya? Apa kamu di sini kekurangan makan?”

Masih tentang kepeduliannya terhadap lingkungan, pada awal-awal ketika Ibu Kota dipindahkan ke Yogyakarta, Bung Karno sering jalan-jalan ke pedesaan bersama istrinya ibu Fatmawati. Suatu ketika mereka berjalan di antara suburnya persawahan para petani. Bung Karno melihat seekor cacing di jalanan, kemudian memerintahkan pengawalnya untuk memindahkan cacing tersebut kembali ke lahan persawahan. Namun sang pengawal tersebut tampaknya menyangka kalau perintah Bung Karno tidaklah sungguh-sungguh atau sekadar gurauan semata. Lalu Bung Karnolah yang memindahkan cacing tersebut ke area persawahan agar tidak terinjak olah pejalan kaki. Dan sang pengawal merasa malu karena tidak menanggapi perintah presiden yang dianggapnya cuma gurauan.

Baca juga:  Kisah-Kisah Nabi Muhammad, dari Maulid Nabi di Kampung hingga Adegan Film

Selain seorang pemimpin yang sederhana dan dihormati rakyatnya, Bung Karno merupakan seniman besar. Ia menulis drama dan menyutradarainya selama diasingkan penjajah di Flores dan Bengkulu, ada sekira 12 naskah yang beliau tulis saat pembuangannya. Bung Karno menikmati dunia seni tak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga menularkan jiwa keseniannya kepada rakyat dan mewariskan banyak karya seni untuk bangsa ini.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Ketika dunia terbelah menjadi dua blok, blok barat yang dipimpin AS dan blok timur di bawah Uni Soviet, dalam benak Bung Karno, China merupakan kekuatan ketiga, sementara Indonesia akan menjadi kekuatan keempat di dunia. Dengan banyak rencana Bung Karno ingin mewujudkan isi batinnya tersebut. Pada 1958 ia meminta Eddie Sunarso membangun sebuah patung “Selamat Datang” setinggi sembilan meter yang melambangkan semangat penerimaan bagi setiap orang yang berkunjung ke Ibu Kota, juga untuk membangkitkan semangat kebangsaan.

Eddie yang diamanati untuk membangun patung tersebut pun terkejut, “jangankan sembilan meter, sembilan sentimeter pun saya tak bisa karena memang belum pernah membuat patung perunggu”, Bung Karno meyakinkam, “Kamu punya rasa bangga berbangsa dan bernegara atau tidak? Coba kamu pikir, apa saya perlu menyuruh seniman asing untuk membuat monumen di dalam negeri sendiri? Sekarang kamu pulanglah ke Yogya, bicaralah dengan kawan-kawanmu dan dalam waktu seminggu kembali ke sini untuk menyatakan kesanggupanmu.

Baca juga:  Tak Ada Mauludan tanpa Baayun Maulud di Banjarmasin

Di Yogya, dengan seorang temannya Eddie menemui dua orang pensiunan bengkel kereta api yang berpengalaman mengecor logam walaupun bukan dari bahan perunggu. Eddie belajar mengecor perunggu dengan sebuah buku panduan bersama dua tukang pensiunan bengkel kereta api tadi.

Setelah rancangan model patung itu selesai, Bung Karno bersama rombongan (termasuk dubes asing) meninjau ke Yogyakarta. Menurut Eddie patung itu terlalu besar untuk ukuran Hotel Indonesia, setelah berdebat maka disetujui tinggi patung menjadi enam meter. Maka selesailah patung perunggu pertama di Indonesia tersebut.

Patung itu pula yang menyambut para atlet luar negeri yang bertanding pada Ganefo tahun 1963 (tandingan Asian Games IV tahun 1962). Walaupun kini patung itu hanya menjadi saksi bisu bagi aksi demonstrasi yang hampir setiap hari digelar di Bundaran HI.

Selain patung, Bung Karno juga pengagum lukisan yang luar biasa. Bahkan ia memiliki pelukis istana, di antaranya adalah Lee man-Fong dan Lim Wasim. Di akhir hayatnya bung karno meninggalkan 2.300 bingkai lukisan, mungkin ini koleksi lukisan presidan yang terbanyak di dunia, dan sekarang banyak dari koleksi lukisannya disumbangkan kepada negara dan dipasang di istana kepresidenan.

Tapi dalam benak saya, peninggalan terbesar Bung Karno bukanlah semua itu, melainkam pribadi luar biasa yang dicontohkan sepanjang hayatnya. Bung Karno tak sekadar seniman ataupun kolektor lukisan, tapi beliaulah hakikat manifestasi dari semua keindahan itu sendiri, yang terbingkai apik dalam ingatan bangsanya, yang terbentuk kokoh pada setiap gelora bangsanya. Bung Karno yang mempersembahkan hidupnya untuk tanah air dan bangsa, akan abadi bersama pekik garuda di angkasa.

Baca juga:  Tabuik, Sedekah Laut di Pariaman
Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (1)

Komentari

Scroll To Top