Sedang Membaca
Sarung Samarinda dan Kitab Beirut
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Sarung Samarinda dan Kitab Beirut

Iip D Yahya
Sarung Samarinda dan Kitab Beirut 3

Di kalangan santri tradisi, ada dua benda yang menjadi kebanggaan, penanda ‘kelas sosial’ yang lebih tinggi, yakni sarung Samarinda dan kitab terbitan Beirut. Atau sarung merek BHS untuk sekarang.

Bagi mereka, memeroleh kedua benda itu merupakan idaman. Mengenakan sarung Samarinda seraya mendekap kitab Beirut di dada adalah kebanggaan luar biasa, dan membuat kepercayaan diri meningkat.

Bagi para ajengan, pajangan kitab Beirut di ruang tamu adalah bahan cerita dengan handai taulan yang tak pernah habis.

Semua kitab di rak depan ini sudah ana baca, sekarang ana sedang mutalaah kitab di rak belakang,” demikian antara lain seorang kutu kitab akan mengawali pembicaraan dengan kawannya yang datang berkunjung. Lalu ia dengan penuh semangat akan melanjutkan pembicaraan menerangkan sebagian dari isi kitab yang sudah dibacanya itu.

Dua remaja bersarung sedang menunggu commuter line di stasiun Manggarai (Foto: Hamzah Sahal)

Sarung Samarinda adalah produk lokal berbahan sutra yang terasa lembut di kulit. Harganya yang di atas rata-rata membuat sarung jenis ini memerlukan perawatan khusus, terutama dalam proses pencucian. Dijemur dengan bentangan yang terjaga –biasanya– memakai dua bilah bambu yang digantung, tidak cukup dengan tali jemuran. Kain Samarinda yang basah tidak boleh melekat satu sama lain, tetapi harus terpisah.

Sedangkan kitab Beirut adalah produk impor yang didatangkan dari Beirut Lebanon, umumnya dari penerbit Daar el Fikr  atau Daar al Kutub al-Ilmiyyah. Belakangan masuk pula terbitan Daar Ibn Abud. Keberadaan kitab-kitab Beirut di dunia pesantren tradisi menunjukkan bahwa jaringan intelektual skala internasional tidak pernah putus sama sekali.

Baca juga:  Misi Pemerataan Skill Jurnalistik Santri dalam Novel Hati Suhita

“Ada juga yang dari penerbit Mesir dalam jumlah terbatas,” kata Ahmadi, salah seorang staf toko kitab Al-Falah Bandung. “Kami mendapatnya bukan dari distributor, tapi dari mahasiswa yang pulang dan membawa kitab untuk dijual. Harganya lumayan miring,” lanjutnya.

Baca Juga

Memang, kesempatan santri untuk menyempurnakan pengajian di Makkah dan Madinah seperti sebelum kemerdekaan 1945 sudah menurun, namun hubungan dengan Timur Tengah itu masih dijaga oleh kehadiran kitab-kitab Beirut itu.

Kitab Beirut, sebagaimana produk asing lain di negeri ini, memiliki berbagai keunggulan dan karenanya berharga lebih mahal. Penjilidan yang lebih kokoh, ornamen sampul kitab yang lebih indah karena tinta emas atau perak yang kuat, tipografi yang lebih rapi, dan lain-lain. Kadang seorang santri memiliki dua terbitan untuk kitab yang dikajinya, satu terbitan lokal dan lainnya terbitan Beirut.

Kitab lokal dipakai untuk mengaji, dipenuhi catatan ngalogat, sementara yang Beirut dijadikan bahan latihan mutalaah. Ia akan membaca bagian yang sudah dikaji dan jika lupa makna sebuah kata, ia akan menoleh ke kitab lokal. Dengan demikian, kitab Beirutnya tetap bersih sampai ia selesai mengaji di satu pesantren. Perlakuan berbeda itu menjadi wajar karena perbedaan harga yang cukup jauh. Sebagai perbandingan, untuk tafsir Ibnu Katsir produk lokal dijual Rp. 215.000, dan untuk produk Beirut diberi harga Rp. 300.000. Maklumlah, sebelum hadir di pangkuan seorang santri dan ajengan, kitab itu harus melintas lautan atau udara beribu mil dari kota yang indah tapi sarat konflik di kawasan Timur Tengah: Beirut.

Halaman: 1 2
Lihat Komentar (0)

Komentari