Mengenal Gaya Ageng Tirtayasa, Sultan Banten yang Saleh Itu

Rohmatul Izad

Tokoh penting yang akan mengisi tulisan ini adalah Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682), beliau merupakan Sultan Banten yang memiliki nama asli Abdul Fatah, seorang raja yang saleh, dan memiliki cita-cita tinggi.

Sosok Sultan Ageng Tirtayasa, sejak muda, sudah dikenal di kalangan masyarakat sebagai salah seorang putra bangsawan yang menyukai seni budaya bahkan mampu memainkan wayang dan permainan budaya yang lain di masa itu.

Menurut catatan Munadi Herlambang (2013), pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, Banten mengalami masa kejayaannya yang ditandai dengan berkembangnya perekonomian di bidang perdagangan. Para pedagang Banten masih bisa bersaing dengan pedagang Belanda. Berkembangnya Banten sebagai kerajaan dagang didukung oleh faktor-faktor geografis, politis, dan kultural.

Pertama, faktor geografis, kerajaan Banten memiliki pelabuhan yang sangat strategis. Pelabuhan ini berhadapan langsung dengan jalur perdagangan Nusantara yang sangat ramai, yaitu Selat Sunda dan laut Jawa. Dengan demikian, pelabuhan itu sangat mudah dijangkau oleh para pedagang yang berasal dari berbagai pelabuhan di Nusantara dan Asia. Tanah pedalamannya juga sangat subur dan menghasilkan lada, beras, dan hasil pertanian lainnya.

Kedua, faktor politis, jatuhnya Malaka ke tangan Portugis tahun 1511 M dan pergolakan politik di Jawa Tengah dan Jawa Timur menambah ramainya pelabuhan Banten. Sejak jatuhnya Malaka, banyak pedagang melayu memilih Banten sebagai tempat transit barang dagangan mereka sebelum diekspor ke tempat tujuan.

Baca juga:  Perjuangan Kemerdekaan oleh Santri-Santri Nusantara dari Kairo (Bagian 2)

Keramaian itu semakin bertambah setelah banyaknya pelarian masyarakat dari Jawa Tengah dan Jawa Timur yang tidak mau mengakui kedaulatan Kerajaan Mataram Islam. Misalnya dengan jatuhnya Madura ke tangan Mataram tahun 1624 M, banyak orang Madura yang meminta perlindungan ke Banten, di antaranya bupati Sumenep. Para pelarian itu banyak yang memilih profesi sebagai pedagang di pelabuhan Banten.

Ketiga, faktor kultural, dengan semakin banyaknya pedagang yang berlabuh di Banten serta pelarian politik dari daerah lain, terjadilah pertukaran budaya di antara mereka. Dari pertukaran tersebut menjadi perpindahan pengalaman berdagang dari para pedagang kepada orang yang ingin berdagang.

Akibat positifnya adalah lahir pedagang-pedangan baru di pelabuhan Banten, yang kemudian menambah keramaian di pelabuhan. Banyaknya pedagang dari berbagai bangsa dan bermukim di pelabuhan Banten, membuat banyak perubahan pada pola kehidupan sosial masyarakat Banten.

Baca juga:

Ketika Sultan Ageng Tirtayasa menjadi raja Banten, ia dikenal sangat cerdas dan menghargai pendidikan. Misalnya, kala itu perkembangan pendidikan Islam mulai maju dengan pesat. Di komplek Masjid Agung juga dibangun sebuah madrasah yang dimaksudkan untuk mencetak pemimpin rakyat yang saleh dan taat beragama, demikian juga diberbagai tempat lainnya (Nana Supriatna, 2004).

Baca juga:  Dinasti Safawiyah, Gerakan Politik yang Lahir dari Tarekat

Sultan Ageng adalah pemimpin yang sangat amanah dan memiliki visi ke depan dalam membangun bangsanya. Dilihat dari sisi diplomasi misalnya, ia selalu menjaga jalinan kerjasama dalam bentuk politik maupun ekonomi yang saling menguntungkan.

Munculnya VOC yang ingin memonopoli keadaan tentu membuat Sultan Ageng gelisah dan berusaha melakukan perlawanan. Ia selalu konftontatif dengan ketidakadilan, ketidakberesan, dan selalu konsekuen dengan kebenaran yang dipegangnya. Ia juga kukuh mempertahankan martabatnya termasuk ketika ia harus berhadapan dengan Sultan Haji, darah dagingnya sendiri yang berkhianat.

Dalam sejarah keemasannya, sang Sultan mampu membawa kedaulatan politik dan ekonominya yang benar-benar membawa kesultanan Banten menjadi kekuatan Dunia yang disegani dan berpengaruh di Asia.

Baca Juga

Boleh dikata, Sultan Ageng merupakan seorang pemimpin yang sangat visioner, ahli perencanaan wilayah dan tata kelola air, egaliter dan moderat serta memiliki wawasan Internasional.

Ia adalah sosok pemimpin yang cinta akan budaya, ahli dalam stragegi perang, kenegaraan, tata kelola perekonomian dan perdagangan, serta ahli dalam pendidikan dan berwawasan luas dengan ciri-ciri konfrontatifnya terhadap Belanda.

Kiranya, gaya kepemimpinan dan kebijaksanaan Sang Sultan selama mempimpin kesultanan di Banten kala itu, dapat menjadi teladan bagi kita semua, khususnya para pemimpin pemerintahan dalam mengatur dan menyelenggarakan suatu negara.

Baca juga:  Sajabijah, Orang Nusantara yang Tinggal di Arab Era Umar bin Khattab

Bahwa dalam hal memimpin negara, hal pertama yang perlu diperhatian adalah kesejahteraan sosial yang menyangkut bidang ekonomi. Kita tidak mungkin dapat hidup dengan tenang, berpendidikan yang baik, dan berbudaya luhur jika sisi kesejahteraan ini belum tuntas. Maka ekonomi menjadi faktor paling inti dalam mengelola negara berbasis kerakyatan.

Selanjutnya, hal-hal yang berkaitan dengan keadilan, keagamaan, dan keadaban dapat dijalankan dengan baik. Sebab, banyak tragedi ketidakadilan, perang agama, dan krisis moral, berasal dari ketimpangan ekonomi. Lebih-lebih, jika ketimpangan itu dibuat-buat dan menindas, maka selamanya bangsa ini tidak akan mandiri dan maju.

Di tengah kecamuk politik yang tidak menentu, cekcok perang saudara, dan krisis moralitas seperti sekarang ini, kita perlu menegok orang-orang terdahulu, yang ketokohannya dapat menginsiprasi kita semua dan menjadi jembatan bagi perbaikan Indonesia.

Lihat Komentar (1)
  • Assalamu’alaikum…
    Mohon maaf…, saya menyayangkan.. dalam sejarah islam sultan ageng tirtayasa.. Penulis tdk menyebutkan NAMA perihal BUPATI SUMENEP yg dimaksud dalam sejarah islam ini….
    Mohon penjelasannya…
    Karena kami kebetulan dari daerah Sumenep.
    Sebelumnya mohon maaf dan terimakasih…
    Wassalam….

Komentari

Scroll To Top