Sedang Membaca
Perang Dalam Kacamata Lain
Penulis Kolom

Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pegiat literasi di Garawiksa Institute.

Perang Dalam Kacamata Lain

Img 20210128 081213

Karena Islam baru datang belakangan setelah kepercayaan lain mengakar di Arab, maka proses penyebarannya mendapat hambatan-hambatan. Islam datang sebagai sebuah upaya untuk perbaikan dan mengangkat martabat manusia. Misi dari Islam sendiri adalah rahmat bagi seluruh alam, yang sering kali didengungkan oleh pemuka agama. Maka, implementasi dari hal tersebut seyogianya harus tercapai.

Rahmat bagi seluruh alam tidak hanya sebagai sebuah adagium lawas yang pada akhirnya tidak menemukan titik pijak. Persoalan berbasis kemanusiaan, direspon dengan elegan oleh agama Islam. Para penyebar Islam awal—termasuk Nabi Muhammad Saw.—menyampaikan dengan misi pembebasan manusia dari belenggu kekejaman.

Islam yang berangkat dari masa Nabi Muhammad Saw. hingga kemudian berlanjut pada masa sahabat dan orang-orang setelahnya. Pada masa Nabi sendiri, sudah terlalu banyak tantangan dan intimidasi yang dialami. Hal itu tidak selesai begitu saja, zaman sesudah itu ancaman terhadap penyebaran Islam masih berlanjut dengan kejinya. Itu membuktikan bahwa tesis kepercayaan baru yang hendak menggeser kepercayaan lama tidak semudah membolak-balik telapak tangan. Tidak sedikit pertumpahan darah yang dialami pada masa ekspansi agama Islam dan perluasan wilayah. Tentu, hal tersebut tidak bisa langsung diklaim sebagai upaya mencedarai kemanusia. Ada hal-hal lain yang harus diperhatikan sebelum menjatuhkan vonis.

Baca juga:  Sabilus Salikin (51): Sanad, Silsilah, dan Amalan Tarekat Imam Junaid

Perang, sebagaimana ungkapan Karen Armstrong, adalah hal yang alamiah dalam penyebaran sebuah agama. Jamak kita ketahui, perang dalam Islam bukan semata-mata sebagai usaha membunuh, ia lebih kepada proses bertahan dari serangan musuh. Dalam penyebaran agama Islam, tidak langsung masuk terhadap kecamuk perang, melainkan lewat jalan damai. Perang dilakukan setelah jalan damai ini justru ditentang dan membahayakan bagi agama Islam dan pemeluknya.

Islam memang terbukti sebuah agama yang cinta damai, lihat saja misal peristiwa sekitaran perjanjian Hudaibiyah. Semacam itu menegaskan, bahwa sama sekali perang bukan misi utama dalam proses penyebaran. Tidak aneh, jika kemudian terdapat sebuah etika dalam berperang di dalam Islam, seperti dilarang memutilasi, membunuh perempuan, serta anak kecil.

Turut mengafirmasi, bahwa di dalam kecamuk perang sekali pun, Islam masih menaruh perhatian pada kemanusiaan. Sementara misi utama dari perang itu sendiri adalah sebagai sebuah pembebasan suatu negeri atas tirani. Bukan berarti pergantian suatu tirani ke tirani lainnya. Misi yang diusung di sini tidak lain adalah misi pembebasan murni(futuhat). Sehingga, dalam sebuah kekuasan di bawah taklukan Islam, orang-orang di dalamnya masih dengan leluasa memeluk agama selain Islam. Tentu, tetap harus patuh terhadap peraturan yang telah ditetapkan yang berkuasa(hal 290).

Baca juga:  Sabilus Salikin (43): Bab III Macam-macam Tarekat: Tarekat Uwaisiyah

Di sini, penulis berusaha mencatat perang-perang yang terjadi di bawah kepemimpinan khalifah pertama. Bermula dari perang melawan orang yang murtad, masyhur dengan perang Riddah, sampai perang melawan dua imperium adidaya; Romawi dan Persia. Di sini peran Abu Bakar yang sebentar, sekitar dua tahun, mampu mempertahankan Islam masa awal dari gempuran musuh. Itu dibuktikan, karena perang Riddah sendiri bukan hanya melawan orang murtad melainkan sebuah perlawanan bagi orang yang berusaha merongrong Islam setelah wafatnya Nabi Muhammad Saw.

Selain dari ekspansi besar-besaran yang dilakukan oleh Abu Bakar, banyak hal yang juga dicatat di sini. Kebijakan-kebijakan selama kepemerintahan Abu Bakar setelah wafatnya nabi. Setelah diterjang fase-fase sulit saat Nabi meninggal dunia, umat Islam menemukan pijakan kembali setelah Abu Bakar memegang kendali. Tidak sedikit orang yang menganggap bahwa taat itu hanya kepada Nabi Muhammad Saw., sehingga setelah wafatnya beliau justru banyak orang ingkar dan menentang. Kekacauan terjadi di mana-mana, fitnah timbul tenggelam sepanjang perjalanan khalifah pertama. Tetapi, dengan kebijakan yang dimiliki Abu Bakar dan dengan kecerdikannya dalam politik, hal demikian dapat teratasi dengan baik.

Pembagian wilayah dan pimpinan daerah juga turut menjelaskan bahwa kepemimpinan Abu Bakar semi demokratik. Tetapi, hal besar yang dicapai tentu tetapi perluasan wilayah kekuasan beserta kecamuk perang yang terjadi di dalamnya. Ia memang sebentar, tetapi jasa dan langkah yang diambil turut serta dalam membantu untuk memberi jalan dalam penyebaran Islam sesudahnya.

Baca juga:  Sabilus Salikin (68): Silsilah Tarekat Qadiriyah

 

Judul Buku    : Abu Bakar Ash-Shiddiq Ra.

Penulis            : Abdul Syukur al-Azizi

Penerbit          : DivaPress

Tahun             : Januari, 2021

ISBN               : 978-602-391-951-2

Tebal              : 394 hal.

Peresensi        : Moh. Rofqil Bazikh*

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
1
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top