Sedang Membaca
Khutbah Jumat: Memahami Bencana

Ketua Pengadilan Agama Kuala Kapuas

Khutbah Jumat: Memahami Bencana

Khutbah I:

الحمد لله الذي له ملك السماوات والأرض ولم يتخذ ولدا ولم يكن له شريك في الملك وخلق كل شيء فقدره تقديرا. أشهد أن لا إله إلا الله واحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله لا نبي بعده.

اللهم صل وسلم و بارك علي سيدنا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين، أما بعد:

فيا عباد الله، أوصيكم ونفسي بتقوي الله، فقد فازالمتقون.

:قال الله تعالى في القرآن العظيم

يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا , يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما (الأحزاب: 70-71)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Dalam kondisi seperti sekarang ini, tidak ada ungkapan yang lebih patut kita ucapkan selain puji syukur kehadirat Allah, karena atas rahmat Allah, kita masih dapat melaksanakan ibadah salat Jumat pada siang hari ini dalam kondisi sehat dan suasana yang aman serta nyaman, meski berbagai bencana baik alam maupun non-alam datang bertubi-tubi di negeri ini.

Tidak lupa semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad saw, yang telah memberikan suri tauladan bagi kita untuk dapat memiliki akhlak yang mulia.

Marilah kita senantiasa berusaha untuk meningkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah, karena yang membedakan kedudukan seorang hamba di hadapan Allah, hanyalah tingkat ketakwaan, hamba yang paling mulia di sisi Allah adalah hamba yang paling bertakwa.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Terkait bencana alam yang melanda berbagai daerah di tanah air, tentu perlu disikapi secara kritis dan tidak semata-mata menganggap bencana alam sebagai azab atau ujian dari Allah. Azab bagi orang-orang yang tidak taat kepada Allah dan ujian bagi orang-orang yang taat kepada Allah. Karena bagaimanapun dampak yang ditimbulkan oleh bencana alam tidak hanya menimpa kelompok tertentu, tetapi juga masyarakat secara luas, meski disebabkan oleh perbuatan sekelompok orang.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Jika meminjam penjelasan teologis tentang alam William Paley, yang terkenal dengan analogi Pembuat Jam, maka alam semesta adalah hasil karya sang Pencipta yang berjalan sesuai dengan tatanan yang telah dibuat oleh sang Pencipta. Allah ketika menciptakan alam semesta tidak luput untuk menetapkan hukum alam (sunnatullah) yang berlaku di alam semesta. Allah swt berfirman dalam surat al-Furqaan: 2:

Baca juga:  Social Distancing di Tengah Kesenjangan Sosial Ekonomi

الذي له ملك السماوات والأرض ولم يتخذ ولدا ولم يكن له شريك في الملك وخلق كل شيء فقدره تقديرا

Terjemahan: “yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.”

Dalam hal ini, bencana alam merupakan konsekuensi logis dari hukum alam yang berlaku. Ada yang tanpa disebabkan oleh perbuatan manusia, seperti gempa bumi, karena ternyata berdasarkan ilmu pengetahuan (geologi), tanah yang tampak diam, ternyata bergerak dengan kecepatan tertentu yang sulit dirasakan, sehingga ketika pergerakan lempengan tanah saling bertabrakan, terjadilah gempa bumi. Begitu pula bencana erupsi gunung berapi yang merupakan akibat dari aktivitas magma di dalam perut bumi.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Namun ada bencana alam yang terjadi karena disebabkan oleh perbuatan tangan-tangan manusia. Dalam hal ini, Allah berfirman dalam Surat Ar-Rum: 41:

ظهر الفساد في البر والبحر بما كسبت أيدي الناس ليذيقهم بعض الذي عملوا لعلهم يرجعون

Terjemahan bebasnya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Terkait dengan ayat di atas, ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan kata “fasad.” Dalam kitab tafsir Jaami’ul Bayaan karya ath-Thabari, kata fasad dimaknai dengan “ma’aasy” yaitu perbuatan-perbuatan maksiat atas apa yang dilarang oleh Allah. Sementara dalam kitab tafsir Ibnu Katsir, kata fasad dimaknai secara beragam. Menurut Zaid bin Rafi’, fasad berarti berhentinya hujan atas daratan akibat musim kemarau dan kelangkaan hewan-hewan di lautan. Menurut Mujahid, kerusakan di darat adalah membunuh manusia, dan kerusakan di laut adalah merampas kapal. Menurut Ibnu Ishaq, fasad merupakan kekurangan dalam hal tanaman-tanaman dan buah-buahan karena maksiat. Menurut Zaid bin Aslam, fasad adalah syirik yang berakibat kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.

Baca juga:  Adakah Tempat Ketiga di Akhirat?

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Dari berbagi penafsiran terkait kata fasad di atas, maka dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa fasad terjadi sebagai akibat dari perbuatan maksiat, sehingga bencana seolah-olah merupakan azab Allah atas perbuatan maksiat yang dilakukan oleh manusia dengan melakukan apa yang dilarang oleh Allah, meski tidak berhubungan langsung dengan lingkungan alam. Pemahaman yang demikian dapat menimbulkan implikasi teologis terkait keadilan Allah, karena bencana alam dapat menimpa seluruh masyarakat termasuk yang terdiri dari orang-orang yang taat kepada Allah, meski bisa saja hal demikian dipahami sebagai sebuah ujian dari pada sebuah azab. Di sinilah, kita sebagai umat beragama perlu memahami bencana alam secara lebih kritis.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Bencana alam ada yang disebabkan oleh perbuatan-perbuatan tangan manusia terhadap alam. Eksploitasi terhadap sumber daya alam secara berlebihan tanpa mempertimbangkan keseimbangan ekosistem dan konservasi alam dapat menimbulkan bencana alam banjir, tanah longsor, kebakaran hutan, dan pemanasan global. Bencana alam tersebut terjadi karena terdapat pelanggaran atas hukum alam atau sunnatullah yang dilakukan oleh manusia dan berdampak terhadap masyarakat luas, meski hanya dilakukan oleh segelintir orang. Oleh karena itu, sudah saatnya bagi kita untuk lebih memperhatikan bagaimana menjaga hubungan dengan lingkungan alam, salah satu dimensi dalam kehidupan yang sering diabaikan, selain hubungan dengan Allah, hubungan dengan sesama manusia, dan hubungan dengan diri sendiri. Dalam hal ini perlu dirumuskan fikih lingkungan yang mengatur tentang tata cara berinteraksi dengan lingkungan alam, selain melakukan serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana akibat hukum alam, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana, yang disebut dengan mitigasi bencana.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Semoga kita senantiasa diberikan ketabahan dan kesabaran dalam menghadapi berbagai bencana alam maupun non-alam yang melanda negeri kita dan senantiasa optimis dalam menjalani masa-masa sulit di tengah bencana yang terjadi dengan tetap berpikir positif dan kreatif serta berprasangka baik kepada Allah.

Baca juga:  Gus Dur, Sarwono, dan Laut Kita

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكرالحكيم. أقول قولي هذا وأستعفرالله لي ولكم ولسائر المسلمين من كل ذنب. فاستغفروه إنه هو الغفورالرحيم.

Khutbah II:

  الحمد لله الذي هدانا لهذا وماكنا لنهتدي لولا أن هدانا الله، أشهد أن لا إله إلا الله واحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله لا نبي بعده.

اللهم صل وسلم و بارك علي سيدنا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين.

امَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ, اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، ولذكرالله أكبر.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top