Rizal Mubit
Penulis Kolom

Pengajar di Institut Keislaman Abdullah Faqih Manyar Gresik, Jawa Timur. Menulis sejumlah buku bertema keislaman. Peneliti Farabi Institute

Tafsir Surah Al-Fiil (Bagian 4)

Barth Bailey 5 Bakrgvkq8 Unsplash

Dalam sebuah Hadis yang shahih, Kanjeng Nabi Muhammad menyebutkan beliau lahir pada tahun gajah. Demikianlah disebutkan oleh Al-Mawardi di dalam tafsirnya. Dan tersebut pula di dalam kitab I’lamun Nubuwwah, Nabi Muhammad dilahirkan 12 Rabiul Awwal, 50 hari saja sesudah kejadian bersejarah kehancuran Tentara bergajah itu.

Setelah Nabi kita Saw berusia 40 tahun dan diangkat Allah menjadi Rasul, ada dua orang peminta-minta di Mekkah yang keduanya buta matanya. Orang itu adalah sisa dari pengasuh-pengasuh gajah yang menyerang Mekkah itu. “Bukankah telah Dia jadikan daya upaya mereka itu pada sia-sia? (ayat 2).

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Disebutkan dalam riwayat bahwa Abdul Muthalib naik ke atas bukit di Mekkah agar bisa melihat apa yang akan dilakukan oleh tentara bergajah. Terlihat burung berduyun-duyun menuju tentara yang hendak menyerbu Mekkah. Kemudian hening tidak ada gerak apa-apa. Lalu diperintahnya anaknya yang paling bungsu, Abdullah, (ayah Nabi kita Muhammad Saw) pergi melihat apa yang telah terjadi, ada apa dengan burung-burung itu dan ke mana perginya.

Abdullah melaksanakan perintah ayahnya dan pergi melihat dengan mengendarai kudanya. Tidak beberapa laman, dia pun kembali dengan memacu kencang kudanya. Setelah dekat, dengan tidak sabar orang-orang bertanya, “Bagaimana, Abdullah?”

“Hancur lebur semua, Kang!” jawab Abdullah.

Baca juga:  Memahami Pemikiran Al-Ghazali (4): Al-Ghazali Pada Periode Islam Awal

Lalu dia menceritakan apa yang dilihatnya. “Ada bangkai bergelimpangan dan ada yang masih bernafas menunggu kematian dan sisanya telah lari menuju negerinya.”

Berangkatlah Abdul Muthalib dengan pemuka-pemuka Quraisy menuju tempat tersebut, tidak berapa jauh dari dalam kota Mekkah. Mereka dapati apa yang telah diceritakan Abdullah bin Abdul Muthalib itu. Bahkan 200 ekor unta Abdul Muthalib dan harta benda yang lain, dan harta benda yang ditinggalkan, kucar-kacir oleh tentara yang hancur itu. Baik kuda-kuda kendaraan, ataupun pakaian-pakaian perang yang mahal-mahal, alat senjata peperangan, pedang, perisainya dan tombaknya dan emas perak banyak sekali.

Kepala-kepala Quraisy itu memberikan kelebihan pembagian yang banyak untak Abdul Muthalib, sebab dia dipandang sebagai pemimpin yang bijaksana. Dengan keahliannya dapat menghadapi musuh yang begitu besar dan begitu sombong. Sebagai kita katakan tadi, 50 hari sesudah kejadian itu, Nabi Muhammad Saw pun lahir ke dunia. Tetapi ayahnya dalam perjalanan ke Yatsrib, kampung dari keluarga ayahnya. Di sana dia meninggal sebelum putranya lahir. Menurut Ibnu Ishaq, “Setelah penyerangan orang Habsyi terhadap Mekkah itu digagalkan dan dihancurkan oleh Allah sendiri, bertambah penghargaan dan penghormatan bangsa Arab kepada Quraisy. Sehingga mereka katakan: “Orang Quraisy itu ialah Keluarga Allah. Allah berperang untuk mereka.”

Baca juga:  Hukum Halal dan Haram Pada Makanan dan Minuman

“Dan Dia telah mengirimkan ke atas mereka burung berduyun-duyun.” (ayat 3). Burung-burung itu berduyun datang dari laut. Para ahli tafsir berpendapat macam-macam mengenai keadaan burung tersebut. Apa pun jenis burung tidak penting diperdebatkan. Apapun burungnya, dengan kehendak Allah bisa melakukan yang dikehendaki-Nya. Sedangkan tikus bísa merusak sebuah negeri dengan menghendaki tikus memakan padi yang sedang mulai masak di sawah. Sedangkan ratusan ribu belalang dapat membuat satu negeri jadi lapar, apalagi lagi burung berduyun-duyun (ababil).

“Yang melempari mereka dengan batu siksaan?” (ayat 4). Batu siksaan menurut buya Hamka adalah batu yang mengandung penyakit. Ada tafsir yang mengatakan bahwa batu itu telah dimasak terlebih dahulu dengan api neraka. Syekh Muhammad Abduh mencoba menta’wilkan bahwa batu itu membawa bibit penyakit cacar. Menurut keterangan Ikrimah sejak waktu itulah terdapat penyakit cacar di Tanah Arab. Ibnu Abbas mengatakan juga bahwa sejak waktu itu adanya penyakit cacar di Tanah Arab. Dapat saja kita menerima penafsiran ini jika kita ingat bahwa membawa burung atau binatang dari satu daerah ke daerah yang lain, walaupun satu ekor, hendaklah terlebih dahulu diperiksakan kepada dokter, kalau-kalau burung itu membawa hama penyakit yang dapat menular. Demikian juga dengan tumbuh-tumbuhan. Demikian seekor burung, bagaimana kalau beribu burung?

Baca juga:  Khadam: Balada Sang Pengabdi Kiai

“Lalu Dia jadikan mereka seperti daun kayu yang dimakan ulat.” (ayat 5). Perumpamaan daun kayu yang dimakan ulat, merupakan pengandaian yang tepat bagi orang yang diserang penyakit cacar, sebab seluruh badan akan ditumbuhi oleh bisul yang panas, malah sampai ada yang tumbuh dalam mata dan telapak kaki yang begitu tebal. Muka pun akan coreng-moreng dari bekasnya. Al-Qurthubi menulis dalam tafsirnya; “Hikayat tentara bergajah ini adalah satu mukjizat lagi dari Nabi kita, walaupun beliau waktu itu belum lahir.”

 

Sumber Rujukan:

Tafsir Al-Qur’an al-Adhim karya Ibnu Katsir

Tafsir Marah Labid karya Syekh Nawawi Al-Bantani

Tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab

Tafsir al-Qurtubi Karya Imam Al-Qurthuby

Sirah Nabawiyah Karya Ibnu Hisyam

Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top