Sedang Membaca
Mengenal Manusia Universal dari Zanzibar
Penulis Kolom

Ren Muhammad adalah pendiri Khatulistiwamuda dan penulis buku. Tinggal di Jakarta, menjabat Ketua Bidang Program Yayasan Aku dan Sukarno, serta Direktur Eksekutif di Candra Malik Institut.

Mengenal Manusia Universal dari Zanzibar

Seratus ribu manusia telah memadati Stadion Wembley pada konser amal Live Aid, 1985, untuk meredam wabah kelaparan di Afrika. Salah satu yang hadir di sana adalah Putri Diana. Ia turut menjadi saksi bagaimana aksi panggung sarat energi dari band kebanggaan Inggrisyang sedang mengguncang jagat musik rocksebagai pembuka.

Putri jelita yang baik hati itu, mungkin sedang dilanda kebingungan menyaksikan sedemikian banyak orang bernyanyi bersama, sambil melambaikan tangan ke atas, dan menangis haru-biru. Mewujudkan sesuatu paling mustahil sekali pun adalah keahlian kita, manusia. Ya, mereka yang jadi saksi mata saat itu mafhum, di hadapan mereka sedang berdiri sosok brilian yang dikirim tuhan dari tepian peradaban.

Seorang anak yang lahir dari rahim negeri beriklim tropis di Afrika bagian timur, mencantumkan hidupnya dalam buku besar sejarah umat manusia sebagai legenda musik rock dunia. Sebelum ia hadir ke bumi, tanah tumpah darahnya bernama Tanganyika, diambil dari nama danau terkenal di sana.

Jauh ke belakang waktu, masyarakat Dunia Lama menyebut wilayah ini sebagai Zanzibar. Bagi umat Muslim yang getol menelusur riwayat agamanya, pasti pernah menemukan nama terakhir itu dalam kitab-kitab babad yang dikarang sejarahwan Islam generasi pertama—pencatat ekspedisi pasukan Khulafa ar Rasyidin ke Benua Hitam.

Zanzibar yang kemudian bersalin nama lagi menjadi Republik Bersatu Tanzania, kelak menyaksikan kelahiran anak kandungnya bernama Farrokh Bulsara di Stone Town, pada 5 September 1946. Buah perkawinan Bomi dan Jer Bulsara, orang Parsi dari Gujarat, India. Ayahnya, bekerja sebagai diplomat di kantor pemerintahan Inggris, di Zanzibar.

Ketika bersekolah di India, Farrokh sudah bisa memainkan piano pada usia tujuh tahun. Saat berusia duabelas tahun, ia telah membentuk grup band The Hectics, bersama teman-teman sekolahnya. Akibat dari Zanzibar dilanda perang revolusi menantang Inggris, anak ajaib ini pun terpaksa angkat kaki mengikuti orangtuanya yang hijrah ke Britania Raya.

Manakala menjadi anak Inggris, ia mengganti nama depannya dengan Freddie. Lalu ia bergabung bersama band Ibex dan kemudian Sour Milk Sea. Nama Mercury baru muncul sejak ia bertemu dengan dua musisi brilyan berlatar doktor astrofisika (Brian May), & dokter gigi (Roger Taylor)—yang tergabung dalam band Smile.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Baca juga:  Catatan Sufistik: Burung pun Berakal

Momen ini terjadi pada April 1970. Ketiganya lalu sepakat mendirikan sebuah band baru dengan tambahan personel, John Deacon—sarjana teknik kelistrikan. Sementara Freddie adalah mahasiawa seni grafis dan desain dari Ealing Art College. Sungguh formasi ajaib untuk band yang kemudian dinamai Queen. Album perdana mereka yang bertajuk sama dengan nama band aneh ini, langsung menggebrak tangga lagu dunia, terutama di Inggris dan Amerika.

Bersama Queen, Freddie menelurkan duapuluh delapan album rekaman. Beberapa di antaranya mencatat lagu popular sepanjang masa. Sebut saja Bohemian Rhapsody (1975), Love of My Life (1975), Somebody to Love (1976), Mustapha (1978), dan We Are The Champions (1977)—yang kerap kali dikumandangkan pada perhelatan puncak Piala Dunia, Piala Eropa, Piala Champion, Olimpiade, dan ragam macam hajat besar kemanusiaan.

Sebagian besar lagu Queen terkenal dengan kerumitan tangga nadanya, aneh, musykil, filosofis, sarat pesan mendalam, mistik, dan cenderung berpihak pada kemanusiaan. Sila disimak saja pada lagu The Prophet’s Song (1975), Who Wants to Live Forever (1986), dan I was Born to Love You (1985). Itu hanya sekadar contoh dari sekian banyak lagu lain yang mereka hasilkan.

Dalam tulisan bersahaja ini, kami takkan mengupas lebih dalam komposisi musik Queen dan bagaimana Freddie menghiasinya dengan kualitas suara empat oktav yang ia miliki. Kami hanya akan menilik sekilas dua buah lagu yang mengundang tanda tanya besar para pecinta musik dunia.

Bohemian Rhapsody, adalah karya masterpiece Freddie bersama Queen, yang tetap menjadi salah satu lagu paling laku di dunia selama lebih dari 40 tahun. Lagu ini kuat, memabukkan, dan laik ditahbis sebagai simbol kebanggaan bagi siapa pun yang ingin menjadi dirinya sendiri

Sebelum digubah dan direkam, Freddie bahkan meyakini karyanya ini bakal tampil sebagai salah satu komposisi musik terhebat dunia yang pernah didengar manusia. Kecerdasan musikal yang melekat pada diri Freddie, memoles lagu rock pertama di zamannya dengan nuansa opera, juga yang terpanjang durasinya: 5, 55 menit. Satu preseden yang sama sekali tak terpikir oleh rekan mereka sesama rocker.

Keluasan pengetahuan pengarangnya juga dapat dibuktikan dari pilihan lirik yang ia gunakan, seperti scaramouche, figaro, Beelzebub (putra Iblis dalam terminologi Zoroaster), Galileo, dan kata Bismillah—yang entah bagaimana bisa nyelip sedemikian rupa secara tak terduga. Keisengan belakakah ini? Jika ya, kenapa bukan Haleluya saja yang disematkan?

Baca juga:  Majid Alyousef: Persekongkolan Kaligrafi dan Seni Rupa Modern

Harus diakui, Freddie adalah musisi berbakat alamiah sekaligus eksentrik. Ia menulis lagu dengan pilihan kunci yang aneh. Kebanyakan band rock masa itu memainkan lagu mereka dari kunci A atau E, bisa juga D atau G, namun berbeda dengan musik Freddie yang mempunyai struktur kord yang aneh dan susah dimainkan dengan gitar.

Ia memang terlahir sebagai seniman yang luar biasa, sehingga tak ada satu pun grup musik yang bisa menyaingi lagu-lagunya—bahkan hingga kini. Satu lagi, Freddie termasuk satu di antara sedikit jenius dunia yang batas-batas hidupnya telah menyerempet pada kegilaan.

Tak puas dengan Bohemian Rhapsody, Freddie kembali menggila dengan “Mustapha.” Konon inspirasi lagu ini ia dapatkan sepulang dari plesir ke Mesir dan Timur Tengah. Kami menduga, lirik yang ia tulis, berasal dari bahasa penganut Majusi versi masyarakat Zanzibar. Semacam kosa kata Mochamut yang dengan mudah bisa dipahami sebagai Muhammad. Darimana juntrungannya?

Penganggitan kata Mustapha (al Mustafa-Yang Terpilih) sebagai judul lagu, jelas mengarah pada narasi kenabian. The Prophet’s Song yang lebih dulu ia gubah dalam album A Night At The Opera pada 1975, adalah bukti kecenderungan Freddie pada khazanah monotheisme. Tauhid dalam Islam. Seolah ingin menunjukkan rahasia yang ia pendam dalam dirinya, Freddie masih menyertakan ucapan Salam khas umat Muslim dan kata Allah, dalam lagu Mustapha itu.

Dari semua lagu Queen yang masih mengudara hingga kini, dua itu saja yang bolak-balik diaransemen ulang oleh musisi dari belahan dunia mana pun, dengan latar sosial-keagamaan mereka masing-masing. Dengan demikian, Freddie berhasil mengangkat universalisme agama melalui komposisi musik yang ia buat.

Pertanyaannya, bagaimana cara Freddie meyakinkan tiga personel Queen yang lain untuk sepenuh hati mengisi warna lagu melalui gitar, bass, dan drum mereka?

Sampai di sini, sayangnya, kita tak beroleh informasi memadai untuk mengulasnya. Tapi yang jelas, Queen menegaskan posisinya sebagai musisi berkelas dan bercita rasa dunia. Mereka berhasil mendobrak tembok pembatas dan sekat kebangsaan umat manusia yang terlanjur dikungkung isu-isu keagamaan nan sumir.

Baca juga:  Film Rakyat Banyumas Raya Digelar Lagi

Selain dikenal sebagai jenius musik, Freddie juga pantas kita tahbis sebagai penubuat sejati. Masih dalam Bohemian Rhapsody. Dari sekian banyak liriknya yang membingunkan itu, terdapat empat buah larik yang berbunyi:

Goodbye, everybody, I’ve got to go (Selamat tinggal, semuanya, aku harus pergi)

Gotta leave you all behind and face the truth (Harus meninggalkanmu semua dibalik wajah kebenaran)

Mama, ooh, I don’t want to die (Mama, ooh, aku tidak ingin mati)

I sometimes wish I’d never been born at all (Aku berharap tidak pernah dilahirkan sama sekali).

Freddie seperti menyadari bahwa ia akan mangkat lebih dulu ketimbang rekan sebandnya. Memasuki paruh akhir usia ke empat puluh lima, ia mengganti lagi namanya menjadi Larry Lurex. Lantas menelurkan karya single terakhir bersama Queen, berjudul These Are the Days of Our Lives, pada Mei 1991. Kala itu, tubuhnya tampak mengurus digerogoti kanker paru-paru. Sore hari di Kensington, London, Freddie Mercury mengkhatamkan hidupnya pada 24 November. Jeda enam bulan saja dari sumbangsih terakhir yang bisa ia berikan pada sejarah musik dunia modern.

Melalui Mary Austin, kekasih sejatinya sepanjang hayat, Freddie berwasiat agar abu jenazahnya yang dikremasi, disembunyikan dari publik luas. Bahkan hingga tutup usia pun, ia masih tetap menunjukkan jati dirinya yang anomali dan sulit dimengerti itu. Freddie yang demikian kesohor, ternyata malah merindukan hal sebaliknya.

Namun sejarah punya cara lain untuk mengenang vokalis nyentrik ini. Dalam salah satu lagu Queen, Freddie Mercury melantunkan, “Akulah bintang jatuh yang melesat di langit.” Ternyata sebait lirik itu bukan sekadar metafora belaka. Bertepatan dengan milad Freddie yang ke-70,  ia sungguh benar menjelma jadi benda yang melesat di langit sana.

Berdasar keputusan International Astronomical Union and Minor Planet Center pada 4 September 2016, Freddie dinobatkan menjadi nama asteroid yang semula hanya disebut dengan angka, 174713. Brian May, gitaris Queen yang juga doktor astrofisika dari Imperial College London, mengatakan bahwa penobatan Freddie sebagai nama asteroid menandai, “Pengaruhnya yang luarbiasa bagi dunia.”

Adakah anak zaman kekinian yang bisa merenungi riwayat hidup manusia universal dari Zanzibar ini? []

teruntuk Farrokh Bulsara

November 1927 Saka

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Scroll To Top