Sedang Membaca
Ummu Kulsum, Sang Bintang Timur
Penulis Kolom

Penyair, tinggal di Pesantren Annuqoyah, Sumenep

Ummu Kulsum, Sang Bintang Timur

Ummu Kulsum adalah seorang biduanita berkebangsaan Mesir. Lagu-lagunya sangat masyhur dan nyaris menjadi hits setiap kali dirilis. Dia adalah penyanyi yang—oleh banyak tokoh—dianggap hanya terlahir satu kali dalam setiap abad. Dialah Bintang Timur, sang diva, bagi Abad XX.

Lagu-lagunya jadi “cantata franca”, lagu pemersatu, yang dinyanyikan oleh hampir semua bangsa yang berbahasa Arab, dari Libanon sampai Maroko, atau warga perantauan Arab di Amerika, juga oleh banyak penyayi di berbagai negara Afrika dan Asia Tenggara, dari Tanzania dan Maroko hingga Malaysia dan Indonesia, baik dalam versi cover atau sekadar diambil nadanya saja.

Ummu Kulsum lahir di Zahayier, dekat delta sungai Nil, Mesir, pada tahun 1906. Namanya merupakan nisbat kepada putri Nabi Muhammad saw. Ummu Kulsum adalah anak kedua dari tiga bersaudara (diapit oleh Ruqayyah [kakak] dan Khalid [adik laki-lakinya]) dan dibesarkan dalam keluarga “sadar seni”. Baik ayahnya, Syaikh Ibrahim, maupun adiknya, Khalid, sama-sama memiliki kemampuan olah vokal yang baik. Mereka sering diundang pada acara-acara ulang tahun, hari raya besar, dan festival-festival kecil di desa untuk menyanyikan resital-resital keagamaan.

Ummu Kulsum mendapat pendidikan dan perhatian langsung dari ayahnya. Pada usia lima tahun, dia belajar mengaji Alquran kepada Syaikh Abdul Aziz Hasan. Di samping pada Syaikh Aziz, ia juga belajar ilmu-ilmu agama pada beberapa guru yang lain. Berkat kecerdasannya, dia telah berhasil menghafal Alquran di usia belum sampai 15 tahun.

Pada 1923, Ummu Kulsum pindah ke Kairo. Lima tahun kemudian, tahun 1928, ia telah masyhur di kalangan masyarakat luas dalam kemampuannya membawakan lagu-lagu lawas dengan selera bahasa Arab yang baik. Dia dapat membawakan puisi-puisi neo-klasik sama baiknya dengan ketika membawakan lirik-lirik dalam bahasa colloquial. Dengan kecerdasannya itu, dia juga menguasai bahasa Prancis.

Baca juga:  Kifayatul Mubtadi’in: Kitab Sunda Ditulis di Makkah, Diterbitkan di Kairo (1924)

Komposisi lagu Ummu Kulsum utamanya tergolong ke dalam genre musik Arab klasik, menggunakan iringan orchestra. Genre ini populer di Mesir dan Tunisia, berbeda dengan genre Hadrami yang rancak dan cepat dan berkembang di Yaman dan negara-negara Semenanjung Arab. Komposisi lagu-lagunya biasanya dimainkan dengan tempo lambat dan mendayu-dayu.

Pada 1945, penyanyi yang identik dengan sapu tangan dan kaca mata tebal ini menikah dengan seorang dokter bernama Hasan Hafnawi. Meskipun begitu, aktivitasnya di dalam dunia tarik suara tetap berlangsung tanpa rintangan. Maka, pada tahun 1955, atas jasa-jasanya dalam mempromosikan kebudayaan Mesir dan Arab, Ummu Kulsum memperoleh “Medali Cedar” dari pemerintah Libanon, “Medali Kebangkitan” dari Jordania”, dan penghargaan lain dari pemerintah Syiria.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Adapun lirik-lirik lagu yang dibawakannya banyak digubah oleh penyair kondang Ahmad Rami, meskipun ada juga di antaranya yang ditulis oleh Muhammad Iqbal (Hadits ar-Ruh; terjemahan dari Syikwa ) dan Ahmad Syauqi (Nahju al-Burdah dan Saalu Qalbi) serta Umar al-Khayyam (Rubaiyyat al Khayyam).

Baru pada tahun 60-an Ummu Kulsum menyanyikan lirik-lirik cinta dengan lagu yang lebih simpel. Pada waktu itu, ragam lagu jenis ini sedang naik daun seiring mencuatnya nama Abdul Halim Hafez, salah seorang bintang muda Mesir di kala itu. Untuk lagu seperti ini, dia banyak menyanyikan karya-karya Ahmad Rami yang mengkolaborasikan antara syiir dan zajal. Beberapa lagunya yang nge-top adalah “Inta Umri”, “Amal Hayati”, “Al-Athlal”, “Inta al-Hubb” “Rubaiyyat al-Khayyam”, dsb. Sepanjang karirnya sebagai penyanyi, Ummu Kulsum telah membawakan lebih dari 300 lagu dengan durasi yang berbeda-beda; mulai dari durasi 5 menit hingga hampir 100 menit.

Banyaknya orang yang meng-cover lagu beliau—bahkan hingga hari ini—merupakan salah satu bukti kebesaran nama sekaligus keabadian karyanya. Ummu Kulsum telah melahirkan “pengikut setia”, seperti Mayadah el-Hannawi ataupun Wardah al-Jazirah, serta Asma’ Munawwar dan Nidal Ibourk. Komposer-komposer raksasa banyak yang terlibat dalam setiap lagu yang dibawakannya, seperti Baligh Hamdi, Muhammad Al-Muji, Sayyid Mukawi, Muhammad Abdul Wahhab, dan tentu saja si raja oud, Riyad Sunbathi.

Hingga hari ini, bangsa Arab tidak pernah berhenti mengenang kejayaan sang Bintang Timur itu dalam peristiwa-peristiwa kebudayaannya, misalnya dengan melangsungkan haflah (festival) sebagai persembahan untuknya. Dia adalah utusan Mesir untuk Arab, sekaligus duta kebudayaan Arab untuk Dunia. Melalui dirinya, masyarakat luas mengenal keagungan karya seni musik tradisional Arab yang rumit dan adiluhur.

Baca juga:  Tradisi Maulid di Mesir Semarak karena Mereka Punya Hubungan Dekat dengan Nabi Muhammad

Pada Senin, selepas zuhur, 22 Muharram 1395 H (3 Februari 1975 M), dunia Arab telah mengucurkan air mata untuk menghantar kepergian sang “Bintang Timur” menuju peristirahatannya yang terakhir. Prosesi penguburannya dihadiri oleh lebih dua juta orang.

 

Sumber Tulisan:

Hayatu wa Aghani Kaukab Asy-Syarq: Ummi Kulsum, Dar Maktabah al-Hayat, Beirut, Libanon.

Encarta Encyclopedia,

dan beberapa sumber multimedia yang lain.

 

 

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
1
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top