Sedang Membaca
“Menggambar” Nabi dengan Teks
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pendaftaran Workshop Menulis

“Menggambar” Nabi dengan Teks

Muhamad Masrur Irsyadi

Sebagai seorang Nabi, Muhammad Saw terus dicintai oleh para umatnya dari berbagai suku bangsa dan disalurkan rasa cinta tersebut dalam berbagai bentuk.

Perjalanan sejarah telah membuktikan bahwa Muhammad Saw tidak hanya dicintai dalam posisi beliau sebagai Rasul pembawa agama Islam sehingga membawa syariat. Beliau juga dicintai dalam bentuk pencarian akan deskripsi-deskripsi kemanusiaan beliau. Ulama-ulama hadis di antara sosok yang mencoba mencari penjelasan (yang sebisa mungkin sahih) soal deskripsi personal Nabi Saw.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Pada masa-masa awal, para ulama ahli hadis bukannya tidak perhatian terhadap urusan visualisasi ini. Sama-sama atas dasar cinta, mereka juga rajin mencari-cari dan menyeleksi riwayat terkait Nabi Muhammad Saw. Tidak hanya yang berhubungan langsung dengan persoalan syariat, tapi juga soal visualisasi personal. Rambut, model tubuh, sorotan mata, cara berbicara, cara tertawa, dan masih banyak lagi.

Contohnya adalah seperti yang dilakuka Imam Abu ‘Isa al-Tirmidzi, ulama hadis yang terkenal dengan karyanya Sunanut Tirmidzi, menulis juga sebuah karya yang berisi kumpulan hadis-hadis Nabi Saw. Terkait diantaranya visualisasi Nabi tadi. Judul karyanya adalah Syamailul Muhammadiyah.

Yang sezaman dengan karya-karya seperti ini, munculnya sejarah Nabi dalam bentuk sirah (perjalanan hidup) dan qashash (kisah-kisah). Dari model tekstual ini, muncullah buku-buku sejarah yang khusus menceritakan Nabi Muhammad Saw. Seperti as-Syifa bi Huquqil Mushtafa karya al-Qadhi ‘Iyadh al-Maliki.

Perjalanan sejarah dan persinggungan peradaban membawa syamail, sirah, dan qashash tadi menjadi dalam bentuk yang lebih beragam dan artistik. Orang-orang Turki membawa tren bernama hilyah (turki: hilye, berarti hiasan)

Di mana sejarah yang tertulis dan syamail dan sirah tadi didesain dalam bentuk bingkai-bingkai kaligrafi. Pakem desainnya mirip dengan iluminasi hiasan halaman pertama Alquran (biasanya surah al-Fatihah dan lima ayat pertama surah al-Baqarah). Pertama adalah lafaz basmalah, lalu isi hilyah tadi di bawahnya.

Baca juga:  Idul Adha Lewat, Rendang Tinggal Dedak

Di sekelilingnya, ada nama-nama Khalifah empat, Kemudian, sejarah itu dibingkai dengan iluminasi artistik ada yang bentuk-bentuk bunga, dedaunan, sampai pola-pola artistik kreasi pembuatnya sendiri.

Dalam bentuknya yang lebih mewah, potongan sejarah tersebut dibingkai dengan kayu yang juga diukir dengan indah sehingga ia juga diletakkan sebagai hiasan di rumah-rumah orang berada di Turki pada abad 17-19. Hafiz Osman (w. 1698 M), seorang seniman kaligrafi dan penata (layouter) gambar adalah diantara seniman yang membuat hilye tersebut.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top