Sedang Membaca
Ketika Surga Terejawantah di Bumi
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Ketika Surga Terejawantah di Bumi

Ren Muhammad
  • Sayidah Fatimah pun menangis karena sebenarnya ia tidak memiliki uang untuk membelikan pakaian baru demi kedua buah hatinya itu.

Lebaran atau Idulfitri bukti betapa Islam tumbuh berkembang dalam rahim kebudayaan manusia. Agama, tak melulu soal yang melangit. Malah lebih sering menitikberatkan ajarannya pada ranah kemanusiaan yang sangat manusiawi.

Dua hari raya umat muslim itu, erat kaitannya dengan tradisi tua bangsa Persia pemuja api (bukan penyembah), Zoroaster, yang diajarkan Zarathustra. Demikian yang tercatat dalam Ensiklopedi Islam.

Sebelum Rasulullah ﷺ lahir di Makkah, masyarakat Arab jahiliyah sudah memiliki dua hari raya yang dikenal dengan nama Nairuz dan Mahrajan. Pada dua hari tersebut, mereka menggelar pesta pora, menari-nari—baik tarian perut, perang maupun ketangkasan, bernyanyi, menyantap hidangan lezat, serta menenggak minuman memabukkan. Sampai di sini, Anda paham kan kenapa dua hari raya kita tak jauh beda dengan yang kami terakan di atas?

‘Setelah kewajiban menunaikan ibadah puasa Ramadan turun pada 2 Hijriyah, sesuai dengan hadis yang diriwayatkan Abu Dawud dan An-Nasa’i, Rasulullah Saw bersabda, ‘’Sesungguhnya Allah mengganti kedua hari raya itu dengan yang lebih baik, yakni Idulfitri dan Iduladha.’’

Hari Raya Idulfitri untuk pertama kali dirayakan umat Islam, selepas Perang Badr yang terjadi pada 17 Ramadan 2 Hijiriyah.

Dalam pertempuran dahsyat itu, umat Islam meraih kemenangan. Sebanyak 319 kaum Muslimin, berhasil mempermalukan 1.000 tentara kafir Quraisy—dan memaksa mereka pulang dengan kepala tertunduk.

Pada tahun itu, Rasulullah Saw bersama golongan orang-orang beriman (para Sahabat Ra) merayakan dua kemenangan, yakni keberhasilan mengalahkan kaum kafir dalam Perang Badr dan kebahagiaan tak terperi berhasil menjalankan hari perdana berpuasa Ramadan.

Menurut sebuah riwayat, Rasulullah Saw bersama para Sahabatnya menunaikan Salat Id pertama dengan kondisi tubuh disarati luka yang masih belum pulih akibat Perang Badr.

Riwayat lain menyebutkan, Rasulullah Saw merayakan Hari Raya Idulfitri pertama dalam kondisi letih, sehingga Beliau harus bersandar pada Bilal bin Rabbah Ra sambil menyampaikan khutbahnya.

Menurut Hafizh Ibnu Katsir, pada Hari Raya Idulfitri yang pertama, Rasulullah Saw pergi meninggalkan masjid menuju suatu tanah lapang dan menunaikan Salat Id di sana. Sejak itulah, Beliau Saw dan para sahabat menunaikan Salat Id di lapangan terbuka.

Jauh sebelum perayaan Idulfitri, umat Islam baru diwajibkan menunaikan zakat fitrah sahaja. Mereka belum disibukkan oleh kue lebaran, pakaian baru. Hingga kini, Idulfitri telah dilakukan kaum Muslimin sebanyak 1.438 kali.

Di Madinah pada masa awal Islam itu, dua permata hiasan mata Baginda Nabi Saw, Hasan dan Husain anak Imam ‘Ali, sama sekali belum memiliki pakaian baru, padahal lebaran hampir tiba. Mereka pun bertanya kepada sang ibunda.

“Wahai ibunda, anak-anak di Madinah telah dihiasi dengan pakaian Lebaran, kecuali kami. Mengapa Bunda tidak menghiasi kami?”

Baca juga:  Perusakan Situs Budaya Adat Dayak

Sayidah Fatimah menjawab sambil menyembunyikan perasaannya yang nyaris getun, “Sesungguhnya pakaian kalian masih berada di tukang jahit”.

Ketika malam hari raya tiba dan takbir dikumandangkan oleh Bilal, mereka berdua pun mengulangi pertanyaan serupa. Sayidah Fatimah masih menjawab dengan jawaban yang sama.

Sayidah Fatimah pun menangis karena sebenarnya ia tidak memiliki uang untuk membelikan pakaian baru demi kedua buah hatinya itu.

Ketika malam beranjak dini hari, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah Sayyidina ‘Ali. Sayyidah Fatimah yang masih terjaga lantas bertanya, “Siapa?”

Orang misterius itu menjawab, “Wahai putri Rasulullah, aku adalah tukang jahit. Diurus membawa hadiah pakaian lebaran untuk putra-putramu.”

Merasa ketiban kurma runtuh, Sayidah Fatimah lantas membukakan pintu demi menyambut tamunya itu. Tampak seseorang membawa sebuah bingkisan hadiah, lalu diberikan kepada empunya rumah.

Tak sabar melihat isinya, Sayyidah az Zahrah membuka bingkisan tersebut. Di dalamnya terdapat dua buah ghamis, dua potong celana, dua mantel, dua sorban, serta dua pasang sepatu hitam—yang ke semuanya sangat indah terlihat.

Ibu yang dimuliakan Allah ini pun segera membangunkan dua putra kesayangannya, lalu memakaikan hadiah tersebut pada mereka. Tak lama, Rasulullah Saw datang dan melihat dua cucunya sudah dihiasi hadiah yang terdapat dalam bingkisan tersebut.

Kemudian Nabi Muhammad ﷺ menggendong Hasan dan Husain dan menciumi mereka dengan segenap cinta, kasih, dan sayang.

Sembari begitu, Rasulullah Saw pun bertanya pada putri semata wayangnya, “Apakah ananda melihat tukang jahit tersebut?”

“Iya aku melihatnya, Ayah.” Rona kebingungan masih tercitra di wajah Fatimah yang bersinaran.

Rasulullah Saw kemudian berujar, “Duhai putriku, ia bukanlah tukang jahit, melainkan Malaikat Ridwan As, sang penjaga Surga…”

Bahkan para penghuni langit pun tak rela jika kedua cucu Rasulullah dilamun kesedihan. Semoga kita dikumpulkan bersama mereka di telaga Baginda Nabi Saw. Amin.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ…

Allahumma sholli’ala Sayyidina Muhammad wa’ala aali Sayyidina Muhammad.

Ada satu kisah lain terkait bagaimana keluarga Rasulullah melalui hari Lebaran-nya.

Pada malam takbiran, Sayidina ‘Ali ibn Abi Thalib terlihat sibuk membagi-bagikan gandum dan kurma. Bersama istrinya, Sayidah Fathimah az-Zahra, ia menyiapkan tiga karung gandum dan dua karung kurma.

Terlihat, Imam Ali memanggul gandum, sementara Sayidah Fatimah menuntun Hasan dan Husain. Mereka sekeluarga mendatangi kaum fakir miskin untuk disantuni.

Esok harinya ketika menghadiri Salat Idulfitri, mereka sekeluarga khusyuk mengikuti salat jama’ah dua rakaat dan mendengarkan khutbah. Selepas khutbah Id, keluarga Rasulullah Saw itu pulang ke rumah dengan wajah berseri-seri.

Sahabat Rasulullah, Ibnu Rafi’i bermaksud hendak mengucapkan selamat Idulfitri kepada keluarga putri Rasulullah Saw tersebut. Setiba di depan pintu rumah, alangkah tercengang Ibnu Rafi’i melihat apa yang dimakan oleh keluarga Rasulullah itu.

Sayyidina Ali, Sayidah Fatimah, Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain yang masih balita, pada hari itu hanya menyantap gandum basi tanpa mentega, yang baunya tercium oleh Ibnu Rafi’i.

Seketika itu Ibnu Rafi’i mengucap istighfar, sambil mengusap-usap dada, seolah ada yang nyeri di dalamnya. Ia punya mata, berlinang butiran bening yang perlahan menetes di pipinya.

Baca juga:  Natal dalam Tulisan Gus Dur

Kecamuk dalam dada Ibnu Rafi’i sangat kuat. Maka setengah berlari ia pun bergegas menghadap Rasulullah Saw. Setiba di hadapan Rasulullah, ia berseru.

“Ya Rasulullah, ya Rasulullah, ya Rasulullah, putri Baginda dan cucu Baginda…,” ujar Ibnu Rafi’i.

“Ada apa, wahai Sahabatku?” tanya Rasul.

“Tengoklah ke rumah putri Baginda, ya Rasulullah. Tengoklah cucunda Hasan dan Husein.”

“Kenapa keluargaku?”

“Tengoklah sendiri oleh Baginda. Daku tidak kuasa mengatakan semuanya.”

Rasulullah Saw pun bergegas menuju rumah Sayidah Fatimah.

Manakala Rasulullah sampai di teras rumah Fatimah, tawa bahagia mengisi percakapan antara Sayidina Ali, Sayidah Fatimah dan kedua putranya.

Bola mata Rasulullah pun berkaca-kaca. Beliau menangis melihat keluarga putri tercintanya yang hanya makan gandum basi pada hari Raya Idulfitri.

“Ya Allah, Allahumma Isyhad… Ya Allah, Allahumma Isyhad… (Ya Allah saksikanlah, saksikanlah). Pada hari Idulfitri keluargaku hanya memakanan gandum basi. Mereka membela kaum papa, ya Allah. Mereka mencintai kaum fuqara dan masakin. Mereka relakan lidah dan perutnya mengecap makanan basi, asalkan kaum fakir-miskin bisa memakan makanan yang lezat. Allahumma Isyhad, saksikanlah ya Allah, saksikanlah,” demikian doa yang terlantun dari bibir Rasulullah.

Sayyidah Fathimah tersadar kalau di luar pintu rumah, sang ayah sedang berdiri tegak.

Baca Juga

“Duhai ayahnda, ada apa gerangan ayah menangis?”

Rasulullah tak tahan mendengar pertanyaan itu. Lantas ia memeluk putri kesayangannya sambil berujar,

“Surga untukmu, Nak… Surga untukmu.”

Demikianlah, laporan pandangan mata dari Ibnu Rafi’i, tentang kebiasaan keluarga Rasulullah Saw pada salah satu hari Idulfitri.

Ia berkata, “Aku didawuh Rasulullah Saw agar tidak menceritakan tradisi keluarganya setiap Idulfitri dan kusimpan kisah itu dalam hatiku. Namun, selepas Rasulullah Saw wafat, aku takut dituduh menyembunyikan hadis, maka kuceritakan hal ini agar menjadi pelajaran bagi segenap kaum Muslimin.” (Musnad Imam Ahmad, jilid 2, hlm. 232).

 

Menggali Makna Lebaran

Terkait pakaian baru Lebaran atau yang bagus sebagaimana mestinya kita kenakan, Rasulullah Muhammad Saw bersabda, “Takkan masuk Surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar debu.”

Baca juga:  Antara Nagham, Qiro'ah dan Tajwid

Lalu ada Sahabat bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai pakaian dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu Indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (HR. Muslim)

Merujuk pada hadis tersebut, sejatinya tak ada yang pantas untuk kita banggakan dengan status agama. Islam atau bukan, kemanusiaan kita yang dipertanyakan. Agama diturunkan tidak untuk mengajari manusia jadi pembunuh.

“Sesiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakanakan ia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan sesiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolaholah ia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS. al-Maidah [5]: 32).

Bila ada manusia yang merasa yakin benar dan kerana itu ia ingin selamat sendiri, sesungguhnya ia telah melampaui batas. Kehadirannya di dunia ini saja sudah anugerah terbesar dan keajaiban yang nyata.

Sebab tak satu manusia di bumi ini yang pernah memesan pada Tuhan ingin memeluk ajaran Buddha, berjenis kelamin ganda, lahir di Isreal, anak Fir’aun, beristri Madonna, atau punya ayah semacam Hitler. Maka dari itu, mari merenungi kehadiran kita di sini. Kenapa kita mengada jika akhirnya harus meniada?

Merenungi perihal tersebut, Lebaran bisa kita maknai dengan cara yang lebih anggun. Rahasia dibalik penggantian Nairuz dan Mahrajan adalah, Allah sengaja memaksa kita mendatangi kebahagiaan dalam rida dan diridai. “Irji’i ila Rabbiki radliyatan mardliyah…” (QS. al-Fajr [89]: 28).

Pada 1 Syawal bulan Hijriah, siapa pun yang mengaku muslim, terikat hukum maaf-memaafkan. Ikhlas-mengikhlaskan. Saling mengunjungi. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Menerima sepenuh hati.

Jika muslim yang bersangkutan sedang dibelit kesusahan, Allah mengangkat derajatnya dengan zakat fitrah. Secara umum, pemandangan yang kasat adalah semua muslim berbahagia.

Dada yang lapang, ketenangan pikiran, hati nan riang, jadi alasan utama bagaimana Tuhan mengajari kita berbahagia luar-dalam selama hidup di dunia.

Ternyata tanpa berbalahan, kita berkenan melakoni hidup yang indah—meski satu hari saja. Andai kemudian ada yang bisa menerapkannya sepanjang sisa usia, hidup pun puspawarna jadinya. Anda sudah merasakan kenikmatan Surga kendati masih hidup di bumi dan dalam balutan dunia.

وَأَمَّا الَّذِينَ سُعِدُوا فَفِي الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ ۖ عَطَاءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ

 

“Ada pun orang² berbahagia, maka tempatnya di dalam surga. Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada terputus.” (QS Hud [11]: 108). (atk)

 

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top