Sedang Membaca
Doa untuk Masa Depan
Penulis Kolom

Ren Muhammad adalah pendiri Khatulistiwamuda dan penulis buku. Tinggal di Jakarta, menjabat Ketua Bidang Program Yayasan Aku dan Sukarno, serta Direktur Eksekutif di Candra Malik Institut.

Doa untuk Masa Depan

“D’OÙ venons nous. Que sommes nous. Où allons nous.” (Dari mana asal kita? Apakah kita ini? Ke mana kita akan pergi?”)

Itulah kutipan Paul Gauguin, seniman pasca-Impresionis Prancis Abad-19—yang meneruskan gagasan para pendahulunya dan terus bergema sampai hari ini—bahkan terus begitu hingga akhir zaman manusia.

Adagium sedemikian lazim digaungkan kalangan fisikawan kuantum dan perintis biologi molekuler. Hasil riset terkini mereka terkait mitokondria dan pentaquark, menghasilkan tesis yang mengguncang kemapanan agama. Ya, semesta ini tak membutuhkan Tuhan untuk melangsungkan perubahan sejak T = 0, atau kala waktu pertama bergulir. Semua itu hanya bergantung pada hukum fisika murni semata.

Malahan, kehadiran kita saat ini kelak akan digantikan oleh makhluk baru yang kini sudah mulai berkembang dalam intelijen artifisial otomata selular. Baiklah, kami cukupkan sampai di situ saja. Toh gagasan macam begini tak lebih menarik perhatian masyarakat Indonesia tinimbang siapa yang kelak jadi presiden ke delapan kita.

Kita kembali ke pokok soal. Sekian jenak saja dalam kesendirian, orang-orang zaman modern ini segera meraih ponsel, laptop, headset, dan mereka pun tenggelam dalam dunia elektronik-digitalnya. Kecanduan teknologi internet, adalah wabah baru dunia kita hari ini. Mudah saja menemui fenomena serupa di sembarang tempat.

Perkumpulan apa pun namanya, pemandangan yang kemudian terlihat hanyalah sekelompok orang tertunduk. Bisu. Apa-apa yang dulu pernah jadi kesempatan untuk momen perenungan—kini menguap. Keajaiban di masa lampau itu, memudar. Tersapu bersih oleh dahaga tak terpuaskan akan segala hal yang terbarukan.

Tempat-tempat terpencil nan indah, didatangi bukan demi mendapatkan ketenangan jiwa, melainkan sekadar mengambil swafoto, mengunggahnya ke media sosial, menunjukkan pada dunia bahwa “aku ada karena berada di situ”. Secuil kalimat pendek akan melengkapi gambar tersebut sebagai status.

Selebihnya, tak ada yang bisa diambil sebagai pelajaran. Sepersekian detik kemudian, rekaman gambar itu akan tenggelam dalam milyaran linimasa. Abad Piksel sungguh benar telah menggerus kemanusiaan kita begitu parah.

Baca juga:  Albert Einstein dan Lain-lain

Kegembiraan, kesedihan, duka lara, kepanikan, ancaman, kebingungan, nestapa, amarah, kasih, sayang, dan cinta, hanya sebagian dari contoh—betapa rasa manusia hari ini cuma tabula yang sumir. Tak ada yang benar-benar tetap bisa dirasakan. Hubungan sesama kita merapuh. Hubungan kita dengan alam mengeruh. Hubungan kita dengan diri sendiri, kian jauh.

Berita palsu yang wira-wiri dan seolah jadi tren baru, turut andil membentuk kejumudan masyarakat modern. Ada begitu banyak kekacauan informasi dan data yang kian sulit dipilah. Perangkat berpikir kita kian menyedihkan. Rasa Pengetahuan yang seharusnya kita olah, teronggok di pojokan peradaban. Nyaris tak tersentuh kebijaksanaan.

Padahal, manusia terlahir ke dunia ini dengan membawa rasa ingin tahu dalam dirinya. Ketika masih kecil, rasa penasaran kerap kali menggelayuti benak kita, kapan dan di mana saja. Segala apa kita tanya. Termasuk siapakah Tuhan dan di mana Dia berada. Kita sungguh benar ingin mengerti dalam ke(tak)terbatasan. Tak satu pun yang melintas dalam pikiran, kita biarkan berlalu tanpa didahului pertanyaan—dan tentu jawaban. Sayangnya, kecenderungan ini segera memudar ketika kita mengaku telah dewasa. Kita merasa sudah banyak tahu, padahal tidak jelas duduk perkara dan akar pengetahuannya.

Lebih dari itu, kita lantas mengaku yang paling tahu dan berpengetahuan. Sehingga orang lain menjadi pandir di hadapan kita. Pikiran yang kita olah sedari kecil, sejatinya tak sungguh benar berisi pengetahuan. Semua itu sekadar kumpulan dari rasa ingin tahu yang tidak jelas juntrungannya. Di balik sebuah jawaban, mencuat satu pertanyaan baru. Ada begitu banyak pertanyaan, dan masih lebih banyak jawaban tersedia bagi mereka yang mau berpikir. Demikianlah seterusnya.

Maka menjadi absah bila para bijak bestari meyakini bahwa pengetahuan sejati adalah ketidaktahuan. Tak tahu apa-apa, bukan berarti bodoh. Tidak mengetahui segalanya, sama sekali bukan kesengsaraan akal. Pengetahuan yang baik, seharusnya menerangi jalan gelap tentang misteri besar kehadiran kita di dunia.

Perenungan inilah yang mengantarkan Einstein pada sebuah keyakinan ultim: Tuhan tidak bermain dadu. Dia lah Sumber Pengetahuan. Kita, hanya noktah dari pengetahuan-Nya yang tiada berbatas dan musykil dibatasi. Jika kau mengerti perihal ini, maka tuhan bersamamu dalam Diri-Nya.

Baca juga:  Fetisisme Agama dan "Tuhan" yang Diimajinasikan

Nyaris tiada lagi yang bisa dipatri sebagai tinggalan hidup di masa datang—dari keberadaan kita, kecuali sekerat foto diri berikut segala riasan palsunya. Tak perlu lagi kita bahas soal-soal pelik seputar Tuhan, takdir, kenapa kita hadir di dunia, dan ke mana kelak kita kan melanjutkan perjalanan kefanaan. Toh kelahiran, dan kematian kita kelak, sama tak berartinya bagi kemaslahatan hidup. Jadi, biarlah itu semua memuai dalam peradaban kita yang sansai.

Rata Tanah
Mumpung perjalanan kita belum terlampau jauh. Barangkali di dunia masih ada tersisa sedikit waktu. Semoga kita sempat berbakti pada kehidupan yang semu. Sementara tak satu pun kita bisa kembali ke masa lalu. Apa yang sudah terlewatkan, biarlah membeku. Jadi kenangan yang tak utuh. Bilamana kita ingin menuai manfaat kemudian, modalnya hanya satu: sadar diri sepenuhnya penuh.

Kita di antara sekian banyak manusia, tak ubahnya debu. Sebentar saja mengada, menghilang lalu. Seberapa pun jumlah anak cucu Adam nanti, semua tinggal jadi peraman rindu. Lahir ditunggu. Besar dan tumbuh. Mati membatu. Sedikit saja dari kita yang tahu ke mana hidup kan menghulu. Lebih ramai pula manusia yang melenguh dalam keluh. Sebab perjalanan kita kian melelahkan, dan tak lagi bertumpu.

Kita seperti tak lelah berlomba dan beradu. Saling bertikai dan menuduh. Siapa selamat, siapa jatuh. Sulit rasanya mendirikan keyakinan yang teguh. Sukar nian mencari jalan lurus itu. Kita sibuk berbalahan lempar-melempar batu. Teramat sering lupa, tak sadar bila tertipu.

Hidup yang semenjana kita lalui, tak sungguh benar begitu. Pusparagam rahasia dan misteri, cuma berbuah ragu. Ada kita di sini, tanah jua yang dituju. Seperti air yang mencerminkan wajah, demikianlah hati yang menjadi cermin bagi manusia.

Baca juga:  Tafsir Kerinduan (Bagian 2)

Kaidah itu senyatanya bisa tumbuh bersama binaran jiwa yang terus membuncah. Melahirkan pemahaman baru yang menenggelamkan keyakinan lama. Meluaskan kesadaran selebar sabar. Apa pun nama dan bentuknya, hidup ini sejatinya berisi upacara perayaan sedari kelahiran hingga kematian. Segalanya kita peringati. Dikenang sebagai warisan bagi anak-cucu.

Kita tak perlu terlalu anti dengan pembakuan, apalagi kebekuan. Toh, para bijak bestari Islam telah mewariskan pada kita perangkat berpikir semacam nih: ambillah kebaikan dari masa lalu—dan yang baik dari hari ini. Semoga. []

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top