Agama Welas Asih

Ren Muhammad

Sudah sejak sekian lama kami sering bertanya tentang sebuah perkara sepela namun penting dijadikan bahan perenungan: siapakah orang pertama peracik tempe, tahu, gado-gado, ketoprak, gudeg, rendang, nasi goreng, nasi uduk, opor ayam, sop palumara, nastar, sambal, dan semua jenis masakan yang hingga kini masih kita santap? Tak seperti masyarakat Barat yang menganggap segala temuan mereka harus dipatenkan dalam hak cipta dan jadi sumber kekayaan, para pencinta rasa di negeri kita malah melakukan sebaliknya.

Mereka nyaris tak peduli pada ketenaran—apalagi pundi-pundi harta. Padahal jika ditilik lebih menjeluk, para bijak kuliner itu sudah memberi sumbangsih besar pada kehidupan kita hari ini. Entah sudah berapa generasi keluarga yang berhutang budi baik pada mereka. Entah berapa banyak pula pahala mengalir dari amal jariah mereka. Intinya, mereka berhasil mewujudkan petuah Nabi Muhammad Saw yang berbunyi, “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain”. Padahal semudah itu saja membuat hidup jadi berlimang berkah.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Pada peringatan milad ke-50 PBB di New York, 22-24 Oktober 1995, diadakan sebuah jajak pendapat tentang nilai-nilai kemanusiaan apa saja yang sama pada semua bangsa dan negara. Berdasar riset tersebut, nilai kemanusiaan yang muncul adalah: Kedamaian, Kesatuan, Kesederhanaan, Kasih, Sayang, Kejujuran, Rendah Hati, Tanggung jawab, Tenggang Rasa, Kebebasan, & Cinta. Karen Armstrong, pengkaji terbaik agama abad ini menyebut semua nilai itu dengan satu kata: Confession (Welas Asih). Lakukanlah apa pun yang bila orang lain melakukannya padamu, kau akan berbahagia.

Kesimpulan yang bisa kita ambil, semua jenis kekacauan dan kerusakan moral yang terjadi sepanjang era kita, muncul dari ketiadaan rasa welas asih. Ditambah bom waktu pertikaian yang kerap dipasang para politisi, perwira militer, dan pebisnis busuk multinasional. Ketiganya setali tiga uang. Isu-isu kontroversial yang berseliweran di sekitar kita, sejatinya bersumber dari tiga golongan masyarakat itu saja. Nabi Saw pernah bersabda:

ألا أخبركم بشراركم؟”. قالوا: بلى. قال: المشَّاؤُون بالنميمة، المفسدون بين الأحبة، البَاغُون البُرَآءَ العنت “. (أخرجه البخاري في الأدب المفرد )

“Maukah kalian daku beritahu tentang orang-orang yang moralnya paling buruk?” Para sahabat menjawab, ‘”Ya, kami mau.”‘ Nabi mengatakan, “Mereka ialah orang-orang yang kerjanya mengadu domba (menghasut), yang gemar memecah-belah orang-orang yang saling mengasihi/bersahabat, dan yang getol mencari kekurangan pada manusia yang tidak berdosa.” (HR. Bukhari dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad, 323 dan Ahmad, 6/459).

Baca juga:  Abu Nawas: Tuhan Tak Pernah Mengatakan “Celakalah Orang-orang yang Mabuk”

Islam itu agama Rahmat. Kata ini secara literal berarti kasih atau sayang. Dari kosa kata itu terbentuk kata al-Rahman dan al-Rahim yang berarti Hyang Maha pengasih, Mahapenyayang. Penjabarannya, saya pinjam dari KH Husein Muhammad sebagai berikut.

Para ahli bahasa Arab menjelaskan makna ini lebih rinci dengan menyebut tiga makna. Pertama, riqqatul qalbi, kepekaan hati. Bisa juga kita  terjemahkan sebagai empati. Suasana hati yang merasa setara, senasib—dengan yang lain.

Kedua, al-luthf, kelembutan dalam ucapan (tidak kasar), dan dalam tindakan/perlakuan. Ketiga, al-maghfirah, memaafkan dan atau mengampuni.

Penjelasan tersebut dipahami dari ayat Alquran yang berbunyi:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka disebabkan Rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka meninggalkanmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka pasrahkanlah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS Ali ‘Imran [3]: 159)

Pada peristiwa Fath Makkah (Pembebasan Makkah), Rasulullah Saw yang datang sebagai pemenang bersama sepuluh ribu pasukan dari Madinah, malah memberi jaminan dan bahkan memaafkan musuh yang selalu menyakiti, memboikot, mengusir, dan berusaha membunuhnya. Beliau membebaskan orang-orang yang membencinya itu dengan mengatakan, “Hari ini hari kasih sayang, bukan hari balas dendam.”

Pada suatu kesempatan lain, Nabi Saw dimohon mendoakan kesengsaraan bagi orang-orang musyrik. Mendengar itu terang saja Beliau menolak. Hal ini terekam dalam sebuah Hadits sahih:

قِيلَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ! ادْعُ عَلَى الْمُشْرِكِينَ ؟ قَالَ : إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا ، وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً ) رواه مسلم (2599)

Baca juga:  Yahudi dan Islam di antara Propaganda Antisemitisme

“Wahai Rasulullah, doakanlah celaka pada orang-orang musyrik. Beliau pun menjawab: “Sungguh saya tidak diutus untuk melaknat, akan tetapi sebagai pembawa rahmat.” (HR. Muslim: 2599)

Anas bin Malik ra, Sahabat Nabi Saw yang membantu beliau di rumahnya selama sepuluh tahun, bersaksi:

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

لم يكن رسول الله سبابا ولا فحاشا ولا لعانا .(البخارى، اداب المفرد، ٣٨)

“Rasulullah Saw, bukan seorang yang suka mencaci-maki, bukan orang yang suka berkata-kata buruk, dan bukan pula seorang pengutuk.”

Sejatinya, tanpa harus membaca dan menelaah Hadits di atas, semua kita pun tahu betapa mencaci-maki, berkata buruk, dan mengutuki apa-siapa saja, jelas tiada manfaat bagi diri sendiri, kecuali malah mendatangkan keburukan belaka. Pikiran dan hati jadi kacau-balau. Hasilnya adalah, hidup hanya berisi kekaburan. Gelap yang menyergap.

Pada abad ke-13, seorang mistikus besar Andalusia, Syaikhul Akbar Muhyidin Ibn ‘Arabi dalam kitabnya Kasyful Ma’na ‘an Sirri Asmaillahil  Husna, menuliskan nubuwah, “Orang yang memelihara kehidupan dengan berpikir dan meneliti, merupakan orang yang telah menghidupkan diri sendiri dan layak disebut sebagai orang yang menghidupkan (al-muhyi).”

Menghidupkan diri sendiri sama dengan mengaktifkan segala fakultas kemanusiaan yang kita miliki. Panca indera, akal, hati, dan intuisi. Semua kita diberi anugerah yang sama oleh Sang Maha Pencipta. Letak perbedaannya adalah, tak semua kita mau menggali potensi besar itu dalam hidup dan kehidupan ini.

Setahun sebelum lengser dari tampuk kepresidenan, proklamator kita membacakan prinsip hidupnya
pada 10 September 1966, “Saya adalah manusia biasa. Saya dus tidak sempurna. Sebagai manusia biasa saya tidak luput dari kekurangan dan kesalahan. Hanya kebahagiaanku ialah dalam mengabdi kepada Tuhan, kepada Tanah Air, kepada Bangsa. Itulah dedication of life-ku.”

“Jiwa pengabdian inilah yang menjadi falsafah hidupku, dan menghikmati serta menjadi bekal hidup dalam seluruh gerak hidupku. Tanpa jiwa pengabdian ini aku bukan apa-apa. Akan tetapi dengan jiwa pengabdian ini, aku merasakan hidup bahagia dan manfaat.”

Sukarno yang santri kehidupan itu, ternyata sanggup membuktikan kesadaran tertingginya sebagai manusia—yang juga sama dengan kita. Laku tersebut telah beliau buktikan dengan sekian banyak capaian dan torehan emas prestasi dalam panggung kemanusiaan.

Baca juga:  Kibal-kibul ala Machiavellisme

Dr. Ali Asshallaby (sejarawan dan penulis ensiklopedi sejarah Islam) mencatat dari Yakusai yang mengutip beberapa pernyataan tokoh besar di Barat tentang prediksi mereka akan masa depan Islam.

Menurut sastrawan Leo Tolstoy (1828-1910), “Islam akan menguasai dunia suatu saat nanti, sebab ia menggabungkan antara ilmu pengetahuan dan hikmah.” Albert Einstein (1879-1955) punya pendapat senada:

“Saya memahami bahwa kaum Muslim melakukan itu semua dikarenakan kecerdasan dan kesadaran mereka—sesuatu yang tidak mungkin mampu dilakukan oleh bangsa Yahudi. Dalam Islam ada kekuatan dan hikmah yang akan membawa kepada kedamaian.”

Futuris kesohor dari empat abad lalu, Michael Nostrodamus (1566-1503), malah telah meramalkan bahwa,
“Islam akan menjadi agama yang berkuasa di Eropa, dan salah satu kota terkenal di benua biru akan menjadi ibu kota negeri Islam”.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Tiga abad berselang, muncul Bertrand Russell (1872-1970) yang dengan sangat ilmiah mengatakan, “Saya telah membaca tentang Islam dan saya akhirnya tahu bahwa Islamlah yang akan menjadi agama seantero dunia dan semua manusia. Islam akan menyebar di seluruh sudut-sudut Eropa, dan akan datang waktunya Islam menjadi penggerak hakiki dunia ini”.

Gustaf Lebon (1841-1931) punya kesimpulan lebih berani, “Islam adalah agama satu-satunya yang berbicara tentang perdamaian dan perbaikan, serta ajakan pada orang-orang Nasrani untuk menghargai keimanan yang membawa kebaikan”.

Dramawan dunia, Bernard Shaw (1856-1950), menyusun premisnya seperti ini, “Suatu hari dunia secara keseluruhan akan menerima Islam sebagai satu-satunya agama. Andai mereka tidak menerima dengan namanya (Islam) yang sejati, pasti mereka akan meminjam substansi ajarannya. Tapi pada suatu hari, Barat pasti akan menerima Islam, dan Islam adalah satu-satunya agama yang akan memimpin dunia”.

Sampai di sini, setidaknya kita bisa menyimpul sebuah benang merah yang mengikat seluruh kehidupan manusia dari zaman ke zaman. Kemenangan Islam, sama belaka dengan kemenangan perdamaian, kesejahteraan, keselamatan, dan perayaan panji-panji hidup yang welas asih. []

26 Dzulhijjah 1439 H/7 September 2018

Lihat Komentar (1)

Komentari

Scroll To Top