Sedang Membaca
Ulama Banjar (38): H. Marali
Redaksi
Penulis Kolom

Redaksi Alif.ID - Berkeislaman dalam Kebudayaan

Ulama Banjar (38): H. Marali

H. Marali

(L. 8 Juli 1912 – W. 1998)

Putra dari pasangan H. Atai dan Hj. Sa’diah ini lahir di Margasari, 8 Juli 1912. Orangtuanya termasuk tokoh masyarakat yang cukup disegani. Kebetulan rumah keluarga Marali berada di pinggir sungai besar yang merupakan jalur transportasi dan perdagangan, karena itu cepat menerima informasi.

Mengetahui anaknya lumayan cerdas, terutama dalam menyerap pelajaran agama, begitu tamat Volksschool (setingkat SD), ia pun diberangkatkan ke Mekkah. Karena waktu itu transportasi darat masih sulit, Marali diantar oleh keluarga ke Banjarmasin menggunakan perahu. Setelah itu, ia lalu melanjutkan naik kapal laut. Berbulan-bulan lamanya ia baru sampai di Tanah Suci.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Waktu itu tidak banyak orang yang berkesempatan ke Mekkah. Karena itu, Marali tidak mau menyia-nyiakan peluang tersebut. Dengan tekun dan penuh semangat ia belajar berbagai cabang ilmu agama dengan ulama-ulama besar di Mekkah. Di sana ia bertemu dengan KH. Abdurrahman Sapat, ulama asal Sumatera yang masih punya hubungan zuriat dengan Datu Kalampayan. Kebetulan keduanya sama-sama sedang mengaji.

Sekitar 10 tahun Marali menuntut ilmu agama di Mekkah. Tadinya ia masih betah dan tetap ingin memperdalam ilmu, tapi kondisi kurang memungkinkan. Tahun 1942 Indonesia mulai dijajah tentara Jepang, mereka membuat peraturan yang melarang untuk mengirim barang atau uang keluar negeri. Akibatnya, Marali yang sedang mengaji di Mekkah tidak mendapat kiriman biaya. Karena itu, ia memutuskan untuk kembali ke Tanah Air. Tahun itu juga ia pulang ke Margasari.

Baca juga:  Ulama Banjar (44): Dr. KH. Idham Chalid

Di kediamannya Marali membuka pengajian secara rutin. Setiap malam Jum’at dikhususkan buat kaum perempuan. Sedangkan pagi Jumat hingga menjelang waktu shalat dihadiri jamaah laki-laki. Materi yang disampaikan adalah Kitab Sabilal Muhtadin karya Syekh Arsyad Al-Banjari.

Tak hanya di lingkungan sekitar, H. Marali juga giat mengisi ceramah ke daerah-daerah lain. Terutama pada peringatan hari-hari besar Islam, undangan untuk memeberikan siraman rohani begitu padat.

Tuan Guru H. Marali punya kebiasaan bertani dan berkebum di Sungai Puting. Aktivitas itu ditekuninya dengan telaten, tidak setengah-setengah. Bahkan tak jarang ia tidur di lahan tersebut. Sambil menjaga tanaman, ia membuka pengajian dengan jamaahnya masyarakat sekitar kebun, seperti dari Periok, Sungai Salai, dan Kaladan. Salah satu kelebihan beliau, kalau ada pencuri yang masuk ke kebun tidak akan bisa keluar, semalamannya hanya berputar-putar tak karuan di lokasi itu. Kecuali, apabila sudah mendapat izin dari H. Marali, baru orang itu bisa pulang.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Beliau dikenal mempunyai suara yang merdu. Tak heran ketika menjadi imam shalat banyak jamaah yang tersentuh dan menghayati surah yang dibacanya. Karena itu, apabila di suatu masjid ada beberapa ulama, mereka pasti sepakat menunjuk H. Marali untuk menjadi imam shalat wajib atau Shalat Jumat. Karena sewaktu di Mekkah ia juga belajar tata cara membaca Alquran, seperti tentang ilmu nahwu dan saraf, di kampungnya Marali menjadi guru mengaji.

Baca juga:  Nasihat Mbah Maimoen Zubair dalam Kitab al-Ulama al-Mujaddidun

Sebagai ulama yang berpengetahuan agama luas, apalagi jebolan Mekkah, ia diangkat menjadi anggota Kerapatan Qadhi. Waktu itu kantor besarnya berada di Kandangan (HSS). Jika ada permasalahan yang agak rumit menyangkut keagamaan, ia sering diundang untuk muzakarah. Aktivitas itulah awal yang menghantarnya hingga diangkat jadi pegawai negeri sipil (PNS).

Setelah beberapa tahun diangkat sebagai qadhi di Margasari, karirnya pun meningkat. Tuan Guru H. Marali kemudian dipercaya sebagai Kepala Kantor Urusan Agama di Candi Laras Selatan. Selama memegang jabatan tersebut, usai jam kantor ia jarang pulang ke rumah. Pasalnya, ia sering diminta oleh masyarakat untuk memberikan ceramah atau nasihat-nasihat yang berkenaan dengan masalah agama seperti pembagian waris dan sebagainya. Uniknya, selama menjadi Kepala KUA, ia ke mana-mana selalu menggunakan sarung. Jabatan itu terus dia jalani sampai masa pensiun.

Di usia tuanya H. Marali mulai sering sakit-sakitan. Meski dalam kondisi demikian, ia kadang masih memberikan pengajian di rumahnya. Termasuk mempelajari (muthala’ah) kitab-kitab tetap dilakoninya di dalam kelambu pada tengah malam. Kebiasaan itu seolah sudah mendarah daging dalam dirinya, hingga 12 februari 1998 H. Marali menghembuskan nafas terakhir. Jenazahnya dimakamkan di dekat rumahnya di Desa Baulin, Kecamatan Candi Laras Selatan. Sebenarnya banyak orang yang ingin membangunkan kubah di atas kuburnya, tapi dia pernah beramanat agar hal itu tak perlu dilakukan.

Baca juga:  Ulama Banjar (134): Drs. H. Syarbaini Mastur

Sumber Naskah: Tim Penulis LP2M UIN Antasari Banjarmasin dan MUI Provinsi Kalimantan Selatan.

Pesan Kerudung Bergo
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top