Redaksi
Penulis Kolom

Redaksi Alif.ID - Berkeislaman dalam Kebudayaan

Sabilus Salikin (155): Talqin Zikir Syathariyah

zikir

Seorang salik di dalam mengamalkan Tarekat Syathariyah harus mengikuti talqin zikir terlebih dahulu oleh seorang mursyid, dan mengamalkan wirid tersebut sesuai dengan perintah mursyid. Caranya, mengucapkan kalimah  لا إله إلا اللهada yang 100 kali, atau 200 kali atau 1000 kali, atau 2000 kali, wirid tersebut dikerjakan satu kali duduk, atau di bagi berkali-kali sesuai kadar kelapangan waktu dan kemampuan.

Hendaklah salik melanggengkan apa yang telah diperintahkan mursyid  kepadanya dengan tidak melewati batasan yang telah diperintahkan agar mendapatkan kemanfaatan dengan seizin Allah. Apabila salik kosong dari kesibukan duniawi dan menyibukkan berzikir secara total kepada Allah, hingga Allah menetapkan kepadanya yaitu hakim yang sebaik-baiknya.

Buku Kiai Said

Mantalqin zikir kepada Allah sesuai perintah mursyidnya dengan mengambil secara sanad yang bersambung kepadanya baik dalam syariah dan tarekat. Sebagaimana Allah menetapkan dalam al-Qur’an yaitu:

فَتَلَقَّى آدَمُ مِن رَّبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ ﴿٣٧﴾

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّااللهُ ﴿١٩﴾

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللهَ ذِكْراً كَثِيراً ﴿٤١﴾

Dan salik bersujud mulai sejak petang dan malam. Dia (Allah) dzat yang mendoakan terhadap kalian dan malaikatnya agar mengeluarkan dari perkara kegelapan kepada deRAng benderang (bercahaya) dan dia (Allah) bersama orang-orang yang beriman.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Maka dari itu orang yang berzikir harus melanggengkan zikirnya sesuai dengan pengetahuan dan setelah penetapan perintah. oleh karena itu seorang mursyid tidak akan memerintahkan kebenaran yang tidak diketahui tetapi dia memerintahkan sesuatu sesuai dengan pengetahuannya, hal ini sesuai dengan khithob pada zaman azali, karena qodimnya kalam Allah dan hubungan sifat kalam dengan sifat ilmu yang ghoib dan ilmu yang nyata.

Maka Allah telah memerintahkan sesuatu yang wujud dalam ilmunya Allah yang abadi, kapanpun yang Allah kehendaki, hendaklah engkau mengkiyaskan seluruh melakukan yang diperintah, sehingga tidak ada persamaan seperti perasangka orang yang menyamakan, baik berupa dahulunya alam karena qodimnya Alam dalam ilmunya Allah merupakan perintah untuk memulai, bukan untuk mengakhiri.

Maka tidak ada kesalahfahaman setelah ini, kecuali barunya alam dalam bentuk nyata bukan dalam ilmu Allah, maka tidak ada syubhat tapi justru hal ini adalah sesuatu yang benar dari Allah dan tidak ada jalan untuk perbedaan selamanya.

Baca juga:  Sabilus Salikin (173): Tarekat Sanusiyah

Adakalanya zikir dengan lisan dan zikir dengan hati, zikir lisan adalah zikir dengan menggunakan huruf tanpa kehadiran hati, jenis zikir ini disebut zikir dzohir yang memiliki keutamaan yang besar yang sudah disebutkan dalam al-Qur’an, Hadis, dan atsar diantaranya adalah al-Muthlak.

Ada zikir yang dibatasi dengan zaman atau tempat seperti zikir adalam sholatbaik setelah atau yang mengiringinya zikir dalam haji, zikir sebelum tidur, zikir sebelum saat akan tidur dan setelah tidur. Zikir sebelum dan sesudah makan dst. Diantaranya ada zikir yang tidak dibatasi dengan zaman, tempat, waktu dan keadaan. Zikir yang memuji kepada Allah seperti membaca tasbih, tahlil, hauqolah dan sebagainya.

Zikir hati, zikir yang sejati adalah hati dipenuhi dengan dzat yang zikiri hingga hilangnya zikir (karena nikmatnya zikir), Imam Ghazali berkata: zikir dengan hati memiliki 3 lapis, sebagiannya lebih dekat pada inti dibanding dengan yang lain sementara keberadaan inti ada di balik kulit, perumpamaan ini mengambil dari buah kelapa.

Kulit yang luar adalah zikir lisan saja, tidak henti-hentinya orang berzikir dengan lisannya dan berusaha untuk menghadirkan hati bersamnya karena hati membutuhkan tempat berlabuh yang sesuai sehingga hati bisa hadir dengan lisan. Jika seseorang meninggalkan walaupun dia meninggalkan dan melekatkan pastinya dia melepas dalam pemikIran yang terendah menuju terhadap keserasian hati dan lisan.

Ketika hal itu terjadi maka anggota dzohir dan anggota bathin dipenuhi berbagai cahaya, hati menjadi bersih dari kotoran, dan putus dari bisikan shetan, dan hati menjadi tempat al-Waridât (sesuatu yang ada sebagai akibat dari wirid), menjadi kaca yang bersih dan jernih bagi beberapa tajalli dan pengetahuan ilahiyah, ketika zikir itu mengalir menuju hati dan menyebar pada seluruh anggota tubuh, maka seluruh anggota tubuh akan berzikir menurut keadaannya, (al-Simthu al-Majid, halaman: 9-11).

Nabi Muhammad bersabda, Allah SWT. berfirman: “Lâ ilâha illâh itu kalam-Ku dan kami (Allah) itu dia (Lâ ilâha illâh), barangsiapa mengucapkan lafadz tersebut maka dia melindungi-Ku, barangsiapa yang melindungi-Ku maka dia aman/selamat dari siksaan-Ku yang baru” kemudian kitab al-Um menjelaskan yaitu lafadz Lâ ilâha illâh Muhammadar Rasulullah awal dan akhir itu dasar terhadap pembangunan syari’at.

Baca juga:  Sabilus Salikin (183): BAB IV (Tanya Jawab Tasawuf dan Tarekat)

Kemudian pembangunan syari’at tersebut di bagi dua, adakalanya perintah dan larangan dengan cara mengetahui makna yang mengandung lafadz amar, fi’il madly yang menunjukkan wajib, sunnah dan mubah, sedangkan yang menunjukkan  larangan dengan memakai shighot “La Taf’al” yang berarti menunjukkan haram dan makruh.

Sesuatu yang tidak patut dan khilâf al-aula ini menunjukkan pada makruh. Sesuatu yang benar itu termasuk perintah, sesuatu yang rusak itu haram yang dilarang, maka tidak ada perbedaan antara perintah dan larangan.

Lafadz tarekat tadi itu merupakan dasar dalam tarekat dengan melakukan ajaran yang bersanad  yang bersambung pada Nabi Muhammad Saw sebagaimana pohon yang baik hal ini seperti orang mukmin yang selalu berbicara yang baik dan amal yang baik pula dan selalu meningkat dengan baik.

Sebaliknya ucapan kotor seperti pohon yang buruk hal ini seperti orang kafir yang tidak meningkat pada ucapan baik dan tidak beramal baik. Diriwayatkan Ibnu hatim dari rabîh dari anas Allah berkata: “sesungguhnya Allah menjadikan taat kepadanya itu sebagai cahaya sedangkan ma’siat sebagai kegelapan, sesungguhnya Iman di dunia merupakan cahaya pada hari kiamat.

Kemudian Allah tidak menjadikan kalimat yang baik dan tidak beramal itu bukan dasar dan bukan cabang bagi-Nya karena Allah itu telah membuat perumpamaan iman dengan kufur. Sebagaimana Allah SWT. berfirman:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاء ﴿٢٤﴾

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, (Q.S. Ibrahim: 24).

Ayat ini merupakan perumpamaan iman dan kufur. Sesungguhnya hamba yang mukmin yang ikhlas dia bagaikan pohon yang akarnya teguh dalam bumi dan cabangnya sampai menjulang ke langit, karena akar yang teguh adalah ikhlas karena Allah semata dan beribadah kepadanya, tidak menyekutukannya.

Baca juga:  Sabilus Salikin (165): Ajaran-Ajaran Tarekat Haddadiyah

Kemudian sesungguhnya cabang itu baik, hingga meningkat dengan baik waktu siang dan malam dan dia mampu makan dengan seizin tuhannya, kebaikan itu terbagi menjadi 4 perbuatan ketika hamba mengumpulkan ikhlas hanya kepada Allah yaitu  beribadah kepadanya, takut kepadanya, cinta kepadanya dan berzikir kepadanya, ketika ini dikumpulkan semuanya maka tidak ada bahaya fitnah baginya.

Ibnu Abi Hatim dari Qodatah sesungguhnya seorang laki-laki berkata: Ya Rasulullah orang pemalas itu pergi dengan tidak lalim, kemudian apakah kamu mengetahui kalau dia sengaja mencari harta dunia maka dia akan menaiki sebagian harta tersebut, apakah pertama akan sampai pada langit, saya beri kabar pada kamu tentang amal (perbuatan), dasar (akar) amal adalah di bumi, sedangkan cabangnya) menjulang ke langit. Karena mengucapkan lafadz Lâ Ilâha illâh wa Allahu akbar wa subhanAllah wal hamdulillah dengan 10 kali setiap selesai sholat maka hal ini merupakan dasarnya (akarnya) di bumi sedangkan cabangnya berada dilangit.

Dikatakan al-Shohihin dari Rasulullah SAW. Apa lafadz ringkas dari Inna al-Syajarah al-Thayyibah yaitu tabiat (al-nukhlah), dan khobitsah yaitu paria (sejenis labu Rasanya pahit).

Diriwayatkan dari ibnu Abbas  RA. Dalam firman Allah

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً   شَهَادَةً اَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ

Ini adalah orang mukmin, dasarnya kukuh (kuat) dengan mengucapkan lâ ilâha illAllah itu kuat (kukuh) didalam hati orang mukmin, cabangnya dilangit dengan mengucapkan lâ ilaha illâh dalam perbuatanya dengan mengangkatkan pada langit, masuh kalimat khobitsah yaitu syirik sebagaimana pohon buruk yakni orang kafir yang dicabut akarnya dari atas bumi.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Ibnu jarir dan ibnu abi hatim dari Ibnu Abbas RA. Dengan firman Allah:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً

Ibnu Abbas berkata al-Syajarah al-Thayyibah yaitu orang mukmin dengan dasarnya (akarnya) kukuh di bumi, dengan cabangnya di langit yaitu orang mukmin yang melakukan (beramal) di bumi.

Sedangkan Ucapan al-Sama’ yaitu dibumi dengan melakukan makan setiap hari dengan seizin tuhannya, yang berkata berzikirlah kepada Allah setiap waktu mulai dari siang dan petang.

 

Buku Tasawuf

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top