Sedang Membaca
Sabilus Salikin (22): Istilah-istilah dalam Tasawuf
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pendaftaran Workshop Menulis

Sabilus Salikin (22): Istilah-istilah dalam Tasawuf

Redaksi
Sabilus Salikin (22): Istilah-istilah dalam Tasawuf

Penjelasan dan keterangan

Berikut ini adalah penjelasan beberapa istilah;

  • Sâlik adalah murid, yakni para penempuh jalan ruhani, (Mu’jam al-Kalimât as-Shûfiyah, halaman: 190).
  • Tahallî adalah menghiasi diri dengan asma-asma Allâh sesuai dengan batasan yang telah disyari‘atkan yang sulit untuk dibedakan, (al-Futûhât al-Makkiyah, Juz 4 halaman: 168). Tahallî juga berarti sebgai tahapan penghiasan diri dengan segala amal shalih, (Iqadh al-Himam fî Syarh al-Hikam, halaman: 11-12)
  • Takhallî adalah menyendiri dan berpaling dari hal-hal yang dapat menyibukkan diri dari Allâh SWT, (al-Futûhât al-Makkiyah, Juz 4 halaman: 169). Takhallî juga berarti tahapan pengosongan dan pembersihan diri dari sifat dan perbuatan tercela, (Iqadh al-Himam fî Syarh al-Hikam, halaman: 11-12)
  • Tajallî adalah nur ilahiyah yang turun kepada seseorang yang bisa membuka hati dari rahasia alam ghaib, (al-Futûhât al-Makkiyah, Juz 4 halaman: 171). Tajallî juga bermaksud sebagai tahapan penampakan diri Tuhan atau nur ilahiyah kepada para salik menuju kedekatan dengan Tuhan (ma’rifat billah), (Iqadh al-Himam fî Syarh al-Hikam, halaman: 11-12).
  • Sirrî adalah sesuatu yang tidak bisa diRasakan oleh angan-angan, (al-Luma‘ fî Târîkh al-Tasawuf al-Islâmî, halaman: 211).
  • Fana’ dan Baqa’ adalah dua nama yang menjadi sifat seorang hamba yang selalu mengesakan Allâh SWT Sehingga menjadikan terangkatnya deRajat dari golongan orang ‘awâm menuju kepada deRajat golongan orang yang khâs (khusus). Artinya Fana’ dan Baqa’ pada awalnya adalah hilangnya kebodohan sebab tetapnya ilmu dan hilangnya kemaksiatan sebab ketaatan atau kepatuhan, hilangnya lupa kepada Allâh sebab dzikir dan hilangnya melihat geRAk-gerik hamba disebabkan tetapnya melihat pertolongan Allâh SWT, (al-Luma‘ fî Târîkh al-Tasawuf al-Islâmî, halaman: 195). Fana’ juga berarti hilangnya sifat-sifat yang buruk, dan Baqa’ berarti tampaknya sifat-sifat yang terpuji, (al-Risâlah al-Qusyairiyah, halaman: 67).

Mengenai hakikat Fana’ dan Baqa’ dijelaskan;

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

(وَأَمَّا حَقِيْقَةُ الْفَنَاءِ وَالْبَقَاءِ) فَالْفَنَاءُ سُقُوْطُ الْأَوْصَافِ الْمَذْمُوْمَةِ، وَالْبَقَاءُ وُجُوْدُ الْأَوْصَافِ الْمَحْمُوْدَةِ. فَمَتَى بَدَلَ الْعَبْدُ أَوْصَافَهُ الْمَذْمُوَمَةَ فَقَدْ حَصَلَ لَهُ الْفَنَاءُ وَالْبَقَاءُ. وَالْفَنَاءُ اِثْنَانِ: (أَحَدُهُمَا) مَا ذَكَرْنَاهُ وَهُوَ بِكَثْرَةِ الرِّيَاضَةِ (وَالثَّانِيْ) عَدَمُ الْإِحْسَاسِ بِعَالَمِ الْمَلَكُوْتِ، وَهُوَ بِالْاِسْتِغْرَاقِ فِيْ عَظَمَةِ الْبَارِي وَمُشَاهَدَةِ الْحَقِّ. (جامع الأصول في الأولياء، 172)

Adapun hakikat fana’ dan baqa’. Fana’ adalah hilangnya sifat-sifat yang hina, dan baqa’ adalah wujudnya sifat-sifat yang terpuji. Ketika seorang hamba (sâlik) mengganti sifat-sifatnya yang hina, maka tercapailah baginya fana’ dan baqa’. Fana’ ada 2 macam; pertama sebagaimana yang telah kami sebutkan yaitu dengan memperbanyak riyadhah (olah batin, tirakat; jawa) kedua, tidak adanya pengindraan terhadap ‘alam malakut, yaitu dengan menenggelamkan diri dalam keagungan Allâh Sang Pencipta, dan musyahadah (seakan melihat) Allâh Yang Haq, (Jâmi’ al-Ushûl fi al-Auliyâ’, halaman: 172, lihat juga di dalam kitab al-Risâlah al-Qusyairiyah, halaman: 67).

Allâh SWT telah menetapkan ukuran segala sesuatu sebelum alam diciptakan pada zaman azali. Ketetapan ini dalam bahasa tauhid lebih dikenal dengan istilah qadha’, yang berarti kehendak atau ketetapan Allah terkait dengan segala sesuatu baik yang wujud maupun tidak wujud. Karena qadha’ adalah kehendak Allâh SWT, maka qadha’ merupakan salah satu sifat dari dzat Allâh SWT yang qadim (lampau yang tidak ada permulaannya).

Baca juga:  Sabilus Salikin (82): Tata Cara Halaqah Zikir Rifa'iyah (1)

وَأَمَّا الْقَضَاءُ فَهُوَ تَعَلُّقُ إِرَادَةِ اللهِ بِالْأَشْيَاءِ فِي اْلأَزَلِ عَلَى مَا هِيَ عَلَيْهِ فِيْمَا لاَ يَزَالُ عَلَى وِفْقِ عِلْمِهِ فَهُوَ مِنْ صِفَاتِ الذَّاتِ. وَأَمَّا الْقَدَرُ فَهُوَ إِيْجَادُ اللهِ اْلأَشْيَاءَ عَلَى قَدَرٍ مَخْصُوْصٍ، وَوَجْهٍ مُعَيَّنٍ أَرَادَهُ اللهُ تَعَالَى فَهُوَ مِنْ صِفَاتِ اْلأَفْعَالِ ، فَالْقَضَاءُ قَدِيْمٌ وَالْقَدَرُ حَادِثٌ. (تنوير القلوب، ص 87)

Setiap ketetapan tersebut diwujudkan dalam qadar dengan ukuran-ukuran tertentu, dan dengan bentuk-bentuk tertentu. Qadar adalah bentuk perwujudan dari sebuah perencanaan Allah pada zaman azali. Karena qadar berhubungan dengan perwujudan terhadap ada atau tidaknya segala sesuatu, maka qadar bersifat Hadis (baru), (Tanwîr al-Qulûb, halaman: 87).

Berikut ini adalah sebuah Hadis yang menjelaskan bahwa do’a dapat menolak qadha’ dan perbuatan baik dapat menambah umur.

لَا يَرُدُّ الْقَضَاءَ إِلَّا الدُّعَاءُ، وَلَا يَزِيْدُ فِي الْعُمْرِ إِلَّا الْبِرُّ (فيض القدير، ج 6، ص 582)

Rasûlullah SAW bersabda: “Tiada yang bisa menolak qadha’ (ketentuan Allah) kecuali do’a, dan tiada yang dapat menambah usia kecuali perbuatan baik”, (Faydh al-Qadîr, juz 6 halaman: 582).

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
  • Sementara itu ikhlâs adalah perbuatan yang didasari ketulusan, yakni beRAmal tanpa mengharap imbalan apapun, baik imbalan yang bersifat duniawi maupun imbalan yang bersifat ukhRawi, antara zhahir dan batin sama-sama rela. Pengertian ikhlas ini, lebih lumRAh kita dengar dalam istilah Jawa “sepi ing pamrih, rame ing gawe”. Menurut pendapat Syaikh Ruwaim disebutkan bahwa orang yang ikhlas adalah orang yang menyembunyikan kebaikannya layaknya dia menyembunyikan keburukannya, sehingga sama sekali dia tidak ingin menampakkan apalagi memamerkan kebaikan apapun yang pernah dilakukannya. berikut penjelasannya;

قَالَ: الْإِخْلَاصُ كُلُّ عَمَلٍ لَا يُرِيْدُ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ غَرْضًا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ. وَقَالَ: هُوَ أَنْ تَسْتَوِيَ عِبَادَةُ الْعَابِدِ فِي الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ. وَقِيْلَ: الْمُخْلِصُ مَنْ يُخْفِيْ حَسَنَاتِهِ، كَمَا يُخْفِيْ سَيِّئَاتِهِ. (جامع الأصول في الأولياء، ص 274)

Ruwaim berkata: “Ikhlâs adalah semua perbuatan yang pelakunya tidak mengharapkan bagian baik di dunia maupun di akhirat”. Ruwaim selanjutnya berkata: “Ikhlâs adalah penyembahan seorang hamba antara zhahir dan batinnya sama”. Dikatakan pula bahwa seseorang yang ikhlâs adalah (seperti) orang yang menyembunyikan kebaikannya, sebagaimana dia menyembunyikan keburukannya,  (Jâmi’ al-Ushûl fi al-Auliyâ’, halaman: 274)

وَضِدُّ الْإِخْلَاصِ الرِّيَاءُ وَهُوَ إِرَادَةُ نَفْعِ الدُّنْيَا بِعَمَلِ الآخِرَةِ

  • Kebalikan ikhlas adalah riya’, riya’ adalah menghendaki kemanfaatan dunia dengan perbuatan akhirat, (Sirâj al-Thâlibîn, juz 2, halaman: 364).

وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّذِينَ خَرَجُوْا مِن دِيَارِهِم بَطَرًا وَرِئَاءَ النَّاسِ وَيَصُدُّوْنَ عَن سَبِيْلِ اللهِ وَاللهُ بِمَا يَعْمَلُوْنَ مُحِيْطٌ، (الأنفال: ٤٧)

Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud ria kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allâh SWT Dan (ilmu) Allâh SWT meliputi apa yang mereka kerjakan, (Q.S. al-Anfâl: 48)

وَأَخْرَجَ أَحْمَدُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ وَهُوَ الرِّيَاءُ (إرشاد العباد، ص: 67، سراج الطالبين، ج 1، ص: 233).

Imam Ahmad meriwayatkan sebuah Hadis dari Rasûlullâh SAW: Sesungguhnya sesuatu yang paling aku takuti atas diri kalian adalah syirik kecil yaitu riya’, (Irsyâd al-‘Ibâd, halaman: 67, Sirâj al-Thâlibîn, Juz 1 halaman: 233).

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Riya’ (pamer) dikelompokkan menjadi 5 bagian:

Baca juga:  Melacak Akar Konflik Timur Tengah

وَالْمُرَائُ بِهِ كَثِيْرٌ وَتَجْمَعُهُ خَمْسَةُ أَقْسَامٍ وَهِيَ الْقِسْمُ الْأَوَّلُ الرِّيَاءُ فِى الدِّيْنِ بِالْبَدَنِ: وَذَلِكَ بِإِظْهَارِ النُّحُوْلِ وَالصَّفَارِ لِيُوْهَمَ بِذَلِكَ شِدَّةَ الْاِجْتِهَادِ وَعَظُمَ الْحُزْنِ عَلَى أَمْرِ الدِّيْنِ وَغَلَبَةِ خَوْفِ الآخِرَةِ، فَأَمَّا أَهْلُ الدُّنْيَا فَيُرَاؤُوْنَ بِإِظْهَارِ السِّمَنِ وَصَفَاءِ اللَّوْنِ وَاعْتِدَالِ الْقَامَةِ وَحُسْنِ الْوَجْهِ وَنَظَافَةِ الْبَدَنِ وَقُوَّةِ الْأَعْضَاءِ وَتَنَاسُبِهَا، الثَّانِى الرِّيَاءُ بِالْهَيْئَةِ وَالزِّيِّ: أَمَّا الْهَيْئَةُ فَبِتَشْعِيْثِ شَعْرِ الرَّأْسِ وَحَلْقِ الشَّارِبِ وَإِطْرَاقِ الرَّأْسِ فِى الْمَشِيِّ وَالْهُدُوْءِ فِى الْحَرَكَةِ وَإِبْقَاءِ أَثَرِ السُّجُوْدِ عَلَى الْوَجْهِ، وَالْمُرَاؤُوْنَ بِالزِّيِّ عَلَى طَبَقَاتٍ: فَمِنْهُمْ مَنْ يَطْلُبُ الْمَنْزِلَةَ عِنْدَ أَهْلِ الصَّلَاحِ بِإِظْهَارِ الزُّهْدِ فَيَلْبِسُ الثِّيَابَ الْمُخْرِقَةَ الْوَسَخَةَ الْقَصِيْرَةَ الْغَلِيْظَةَ لِيُرَائِيَ بِغَلَظِهَا وَوَسَخِهَا وَقَصْرِهَا وَتَخَرُّقِهَا أَنَّهُ غَيْرُ مُكْتَرِثٍ بِالدُّنْيَا، الثَّالِثُ الرِّيَاءُ بِالْقَوْلِ: وَرِيَاءُ أَهْلِ الدِّيْنِ بِالْوَعْظِ وَالتَّذْكِيْرِ وَالنُّطْقِ بِالْحِكْمَةِ وَحِفْظِ اْلأَخْبَارِ وَالآثَارِ، وَأَمَّا أَهْلُ الدُّنْيَا فَمُراَءَاتُهُمْ بِالْقَوْلِ بِحِفْظِ الْأَشْعَارِ وَالْأَمْثَالِ والتَّفَاصُحِ فِى الْعِبَارَاتِ وَحِفْظِ النَّحْوِ الْغَرِيْبِ لِلْإِغْرَابِ عَلَى أَهْلِ الْفَضْلِ وَإِظْهَارِ التَّوَدُّدِ إِلَى النَّاسِ لِاسْتِمَالَةِ الْقُلُوْبِ، الرَّابِعُ الرِّياَءُ بِالْعَمَلِ: كَمُرَاءَاةِ الْمُصَلِّى بِطُوْلِ الْقِيَامِ وَمَدِّ الظَّهْرِ وَطُوْلِ السُّجُوْدِ وَالرُّكُوْعِ وَإِطْرَاقِ الرَّأْسِ، وَأَمَّا أَهْلُ الدُّنْيَا فَمُرَاءَاتُهُمْ بِالتَّبَخْتُرِ وَالْإِخْتِيَالِ وَتَحْرِيْكِ الْيَدَيْنِ وَتَقْرِيْبِ الْخَطَا وَالْأَخْذِ بِأَطْرَافِ الذَّيْلِ وَإِدَارَةِ الْعَطْفَيْنِ لِيَدُلُّوْا بِذَالِكَ عَلَى الْجَاهِ وَالْخَشَمَةِ، الْخَامِسُ: الْمُرَاءَاةُ بِالْأَصْحَابِ وَالزَّائِرِيْنَ وَالْمُخَالَطِيْنَ كَالَّذِيْ يَتَكَلَّفُ أَنْ يَسْتَزِيْرَ عَالِمًا مِنَ الْعُلَمَاءِ لِيُقَالَ إِنَّ فُلَانًا قَدْ زَارَ فُلَانًا، (احياء علوم الدين، ج 3، ص: 263-264).

Riya’ (pamer) banyak sekali macamnya dan dikelompokkan menjadi lima bagian:

  1. Riya’ dalam masalah agama dengan badannya, yaitu dengan memperlihatkan kurusnya badan dan pucatnya wajah agar orang tersebut disangka sebagai orang yang sangat bersungguh-sungguh dalam beribadah dan sangat prihatin atas perkara agama dan sangat takut kepada akhirat. Adapun ahli dunia maka dia memamerkan dengan menampakkan kegemukannya, bersihnya kulit, tegak bentuk tubuhnya, ketampanan wajahnya, bersih dan kuatnya anggota badan, dsb.
  2. Riya dengan keadaaan tubuh dan penampilan. Adapun riya dengan keadaan tubuh adalah kumalnya rambut, memotong kumis, menundukkan kepala ketika berjalan, pelan-pelan dalam bergerak dan menetapkan bekasnya sujud pada kening. Sedangkan riya dengan penampilan adalah orang yang mendapatkan kedudukan menurut ahli shalâh (ahli kebaikan) dengan menampakkan kezuhudannya dengan menggunakan pakaian compang-camping, kotor, pendek, kasar kainnya supaya terlihat jelek, kumuh, pendek, dan compang-camping pakaian tersebut sesungguhnya dia tidak termasuk orang yang susah di dunia.
  3. Riya’ dengan ucapan. Riya ahli agama adalah dengan petuah, memberi nasihat, ucapan yang bijaksana, menjaga Hadis Nabi dan atsar sahabat Nabi. Adapun riya’ ahli dunia adalah dengan ucapan, yaitu dengan menghafal syair-syair serta pribahasa, fasih dalam mengucapkan kalimat, menjaga kaidah bahasa yang aneh. Bagi orang yang memiliki keutamaan menampakkan Rasa senang pada manusia supaya mendapatkan simpati
  4. Riya’ dengan perbuatan, seperti riyanya orang yang shalat dengan memperpanjang berdiri ketika sholat, menegakkan punggung, memanjangkan sujud dan ruku’ dan menundukkan kepala. Adapun ahli dunia, riyanya dengan sombong, menghayal, menggerak-gerakkan kedua tangan, memperpendek langkah kaki, mengambil sesuatu dengan saputangan, mencari simpati supaya memperoleh jabatan dan nama baik
  5. Riya’ dengan banyaknya sahabat, orang yang berkunjung, teman sejawat, seperti orang yang mempertajam ucapan dengan tujuan supaya para ‘Ulama’ mendatanginya sehingga dia mengatakan sesungguhnya ‘Ulama’ ini telah mendatangi seseorang, (Ihyâ’ ‘Ulûm al-Dîn, Juz 3 halaman: 263-264).
  • Berikutnya penjelasan mengenai Ahwal yang merupakan jama’ dari kata hâl, yang bermakna sesuatu yang terjadi di dalam hati atau hati yang tertimpa sesuatu. Menurut al-Junaidi, hâl adalah sesuatu yang singgah di dalam hati. Karena itulah, hâl tidak bisa kekal, (al-Luma‘ fî Târîkh al-Tasawuf al-Islâmî, halaman: 40). Hâl juga berarti sebuah makna atau keadaan yang datang pada hati dan bukan hasil usaha dari diri Sâlik, (al-Thuruq al-Shûfiyah, halaman: 57)
Baca juga:  Dialektika Tradisi dan Intertekstual dalam Manuskrip

Bersambung…

Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top