Sedang Membaca
Sabilus Salikin (129): Tarian Sufi Tarekat Maulawiyah
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Sabilus Salikin (129): Tarian Sufi Tarekat Maulawiyah

Redaksi

Kalangan dervish diwajibkan mengabdi kepada guru sufi, bahkan terdapat semacam pembekalan dalam penyelenggaraan pertemuan ritual mereka. Kehadiran sang pendiri, yakni Jalaluddin al-Rumi, dianggap benar-benar terjadi di dalam praktik ritual mereka, dan sejumlah dervish memiliki hubungan personal dengannya. Tarian sufi secara resmi dijadikan sebagai bagian dan metode ritual Tarekat Maulawiyah oleh Sultan Walad.

Meskipun terdapat larangan terhadap musik, bahkan hal ini berlangsung sejak masa awal Islam, dan masih berlangsung sampai sekarang, namun kalangan sufi banyak yang menggunakan musik bersama dengan syair-syair keagamaan sebagai sarana menimbulkan sikap kontemplatif dalam jiwa. Secara khusus, musik digunakan untuk menciptakan keadaan jiwa dan pikiran yang sesuai untuk pelaksanaan hadhrah atau tarian suci.

Hal ini karena aspek esoterik musik diakui kebenarannya oleh kalangan sufi, meskipun dipandang terlarang oleh kalangan eksoteris (kalangan yang berpegang pada kenyataan lahiriyah). Tarian dengan menggunakan musik dalam Tarekat Maulawiyah di kalangan sufi terkenal dengan istilah sama’ yang dijadikan sebagai sarana pencarian Tuhan atau alat bantu kontemplatif.

Selama penyelenggaraan tarian (sama’), sebuah kulit domba berwarna merah diletakkan di atas lantai sebagai simbol kehadiran Syamsuddin at-Tibrizi, seorang tokoh sufi yang mengilhami Rumi terhadap kesadaran ketuhanan. Tarian yang memperagakan empat gerakan yang dinamakan salam berlangsung selama satu jam. Pada akhir tarian tersebut, pir atau guru spiritual, muncul ke tengah-tengah dervishes.

Getaran dan instrumen ibarat nafas, atau jiwa yang memberikan kehidupan, lentingan instrumen tersebut mendatangkan sebuah nostalgia keterpisahan dan keriuhan. Hal ini berasal dari syair-syair yang dibawakan Rumi. Dan jeritan instrumen untuk kembali kepada prinsip merupakan master spiritual, yakni Rumi sendiri.

Masalah sama’ merupakan penyebab utama perbedaan antar tarekat. Ada masalah-masalah rumit, yaitu apakah “mendengarkan musik” dan “gerakan tari” merupakan ungkapan jujur keadaan-keadaan mistik ataukah merupakan usaha di luar batas untuk secara sendiri mencapai keadaan yang hanya dapat dianugerahkan oleh Tuhan.

Tak dapat disangkal bahwa sama’ merupakan ungkapan kehidupan mistik Islam yang paling terkenal. Tarian mistik ini dicatat oleh pengunjung Eropa yang mendatangi biara-biara kaum Maulawi. Tarekat Maulawiyah adalah satu-satunya tarekat yang sejak awal sampai sekarang masih menggunakan tarian gerakan berputar, bahkan sama’ menjadi ciri khas tersendiri bagi penyelenggaraan ritual Tarekat Maulawiyah.

Upacara sama’, biasanya diadakan pada Jum’at tengah hari sesudah shalat jama’ah. Para darwis terlebih dahulu memakai pakaian yang khusus; sebuah tenure baju panjang putih tanpa lengan (destegul) jaket dengan lengan panjang sebuah ikat pinggang, dan sebuah khirqah hitam, dipakai sebagai mantel tetapi dicopot sebelum tarian keagamaan dimulai.

Baca juga:  Ibnu Arabi Ngaji kepada Perempuan

Kepala ditutupi topi tinggi dan bulu yang dililit sekitarnya dengan kain serban. Topinya, sikkeri, menjadi tanda khusus untuk anggota Maulawi. Banyak prasasti yang berisi do’a atau restu dituliskan dalam bentuk topi darwis, dan selalu dikenakan anggota Tarekat Maulawiyah, baik ketika penyelenggaraan ritual sama’ maupun di luar sama’.

Sama’ diatur dengan peraturan ketat. Syaikh berdiri di sudut yang paling terhormat di lokasi yang dijadikan sebagai tempat untuk melakukan tarian, dan para darwis melewati dia tiga kali dengan cara berputar-putar, setiap kali putaran mereka saling memberi salam, sampai akhirnya gerakan berputar-putar yang semakin cepat dimulai. Gerakan ini dilakukan dengan kaki tangan, dengan kecepatan yang semakin meningkat.

Apabila seorang darwis menjadi sangat bergairah, seorang sufi lain, yang bertugas mengatur penyelenggaraan, akan menyentuh perlahan-lahan bahunya agar gerakannya terkendali. Tarian darwis-darwis adalah salah satu ciri yang paling mengesankan dalam kehidupan mistik Islâm. Dan musik yang dimulai dengan nyanyian pujian untuk menghormati nabi (na’ti-i-sarif ditulis Jalaluddin sendiri) dan berakhir dengan nyanyian pendek penuh semangat, kadang-kadang dinyanyikan dalam bahasa Turki.

Bagi Jalaluddin al-Rumi, sama’ adalah makanan ruhani (seperti zikir) dengan disertai pembacaan syair-syair dan sajak karyanya. Ungkapan tersebut merupakan bagian sajak terakhir dalam upacara Tarekat Maulawiyah di Turki. Sajak tersebut diulang berkali-kali. Di mana pun pencinta menyentuhkan kakinya di tanah sambil menari, terbitlah anti kehidupan dan kegelapan. Dan bilamana kekasih terucap, orang mati pun mulai menari dengan kain kafannya.

Rumi mengumpamakan gerak putar para darwis dengan pembuat anggur yang menginjak buah anggun sehingga tercipta anggur ruhani. Pencinta menari lebih tinggi ketimbang bintang-bintang, sebab panggilan sama’ datang dari surga; ia dapat dimisalkan sebutir debu yang terbang mengelilingi matahari.

Dengan demikian, butir debu itu mengalami penyatuan yang ganjil secara terus menerus, sebab kalau matahani tidak bergerak, ia tidak dapat bergerak. Begitu pula manusia tidak dapat hidup tanpa berputar mengitari pusat gaya berat ruhani, yaitu Tuhan. Begitu belenggu jasmani putus oleh Tarian yang berapi-api, bebaslah jiwa dan sadarlah ia bahwa segenap penciptaan ikut serta dalam-tarian itu. Angin cinta menyentuh pohon sehingga dahan, kuncup, dan bintang-bintang mulai bergerak dalam gerak mistik yang meliputi semuanya.

Cinta yang mendalam bagi musik yang diwarisi para Maulawi dan guru mereka Jalaluddin al-Rumi telah mengilhami banyak ahli musik klasik dan penggubah-penggubah di kerajaan Utsmani. Pada kenyataannya, lagu-lagu terbagus dan musik klasik Turki, seperti yang digubah ‘ltri (abad XVII), digubah oleh seniman-seniman yang menjadi anggota Tarekat Maulawiyah, atau paling tidak mempunyai hubungan dekat dengan Tarekat Maulawiyah. Demikian juga halnya dengan ahli-ahli kaligrafi dan miniaturis, banyak di antara mereka tergabung dengan para Maulawi. Tarekat itu melengkapi masyarakat Turki dengan beberapa contoh seni muslim terbaik yang pernah diciptakan.

Baca juga:  Sabilus Salikin (56): Melanggengkan Zikir, Pikir, dan Wirid

Begitu pentingnya nyanyian dan tarian yang diperagakan Rumi dan para pengikutnya dalam Tarekat Maulawiyah, sehingga dalam suatu kesempatan ia berkata:

Hayatilah, instrumen kesedihan ini. Sebuah nafas, dan lantaran itu menetes air mata. Dari tempat tidurnya yang tidak menenangkan, sebuah ketegangan gairah cinta dan derita. Rahasia nyanyianku tak seorang pun mengenalinya dan tak seorang pun mendengarnya walau sangat dekat sekalipun. Oh, untuk seorang kawan agar mengetahui perlambang dan agar seluruh jiwa bercampur dengan jiwaku, hingga kobaran api cinta tersebut membakarku Hingga secawan anggur cinta mengilhami diriku. Seharusnyalah engkau mempelajari bagaimana para pecinta terluka berdarah. Dengarkanlah, hayatilah instrumen ini.

Tarian yang sering dilakukan oleh pengikut Tarekat Maulawiyah dinamakan muqabalah (berhadap-hadapan). Istilah ini merupakan sebuah ungkapan terhadap doktrin pengikut Maulawi dimana jiwa menghadap dan bangkit kepada Yang Maha Nyata. Tarian tersebut bersifat universal dalam instrumen. Seorang penari memandang dirinya sendiri pada wajah penari lainnya.

Ibarat sebuah cermin untuknya, meskipun bayangan wajah tersebut menjadi wajahnya sendiri namun secara berulang-ulang, pada akhirnya pribadinya sendiri menjadi tidak nyata sehingga orang lain yang menjadi dirinya sendiri. Tarian tersebut bergerak semi memutar. Ia merupakan gambaran sebuah pusat penciptaan. Sebuah proses penurunan qausun nuzul yang berasal dan Allâh Swt.

Ketika tarian bergerak ke depan, syaikh masuk dan pancaran yang terjauh dan pusat pertama membawa para penari berhadapan muka dengan sang guru spiritual. Hal ini merupakan saat pergantian malam menjadi fajar, matahari terbit, dan merupakan pusat atas (qausul uruj) mulai membawa menuju kesadaran. Kemudian penari berputar ke sisi yang lain, yaitu Tarian seseorang menggambarkan penyempurnaan seluruh ciptaan kemudian kembali menuju Yang Satu.

Baca Juga

Seorang guru Tarekat Maulawiyah kontemporer bernama Syaikh Sulaiman Loras mengatakan: “Jika kita tidak sungguh-sungguh dalam mencapai kesempurnaan batin, maka selamanya kita akan tetap bertahan dalam keadaan kita sekarang ini, yakni sebagai “binatang yang bercakap”.

Baca juga:  Sabilus Salikin (89): Safar Tarekat Suhrawardiyah

Dunia tidak akan berlangsung tanpa kehadiran guru-guru sufi. Setiap zaman memiliki guru sufi. Yesus, Buddha, Nabi Muhammad Saw. merupakan guru-guru sufi yang terbesar, bahkan selain mereka terdapat sejumlah aqthab (jamak: quthub, yakni seseorang yang menjalankan peran sepenuhnya sebagai sumbu spiritual), manusia sempurna yang sejati berada di dalam setiap diri kita.

Pada awalnya, Tarekat Maulawiyah ini mendapat dukungan kuat dan kalangan penguasa Turki Utsmani dan kalangan seniman. Disebutkan bahwa semenjak 1648 M., pemimpin Tarekat Maulawiyah mendapat hak istimewa memakaikan pedang kepada seorang sultan yang baru dilantik. Para sultan nampaknya mendekati tarekat Maulawiyah untuk menghadapi penganut Tarekat Bektasyi (aliran tarekat yang tertua yang berpengaruh di Turki) yang mendukung Janissary untuk melawan pemerintahan.

Selain itu juga untuk menghadapi `ulamâ’ yang mendukung perlakuan istimewa masyarakat muslim yang lebih dari kaum Zimmi. Sultan Abdul Aziz (1861-1876) dan sultan Muhammad Rasyad (Muhammad V, memerintah 1909-1918), keduanya sultan kekhalifahan Utsmani (Ottoman), tercatat sebagai anggota Tarekat Maulawiyah. Pada 1634 Sultan Murad 1V (1623-1640 M) memberikan kharaj (dana yang dikumpulkan dari umat Islâm untuk membiayai kegiatan Tarekat Maulawiyah) Di Konya untuk Tarekat Maulawiyah.

Pelarangan pada Era Kamal Attarurk

Namun, akhirnya pada 1925 M., kegiatan Tarekat Maulawiyah di Turki dilarang oleh Kamal Attaturk, demikian juga segala jenis tarekat, sejak sekularisasi diberlakukan di negeri ini pada 1928 M. Pada tahap selanjutnya, sejumlah pengikut Tarekat Maulawiyah kemudian sering menampilkan pertunjukan musik dan tari-tarian mereka di Barat.

Tetapi, sejak 1954 M. mereka diperkenankan mengadakan sama’ pada peringatan ulang tahun wafatnya Jalaluddin al-Rumi pada 17 Desember di Konya. Walaupun tidak dalam ruang utama, mereka juga mengadakan pertunjukan di luar negeri.

Tarekat Maulawiyah beserta karya-karya Rumi mempunyai pengaruh terbesar di anak benua Indo-Pakistan. Tarekat Hisytiyah Nidzamuddin Auliya, misalnya, mendapatkan pengaruh nyata, ketika Hisyti membolehkan tarian mistik dan cenderung memberikan ungkapan terhadap jiwa penuh semangat dari sajak-sajak Rumi.

Para pengikut Maulawi juga terdapat di Syria, Mesir, dan negara-negara lainnya yang menjadi bagian wilayah kekuasaan Imperium Utsmani. Namun pada zaman sekarang ini, hanya terdapat beberapa cabang yang tetap aktif yakni di Istambul, Anatolia, dan Konya, serta belakangan ini juga sudah terdapat di Amerika Utara, dan Indonesia.

Lihat Komentar (0)

Komentari