Sedang Membaca
Sabilus Salikin (101): Tata Cara Zikir Tarekat Histiyah (3)

Sabilus Salikin (101): Tata Cara Zikir Tarekat Histiyah (3)

Redaksi

Anggota-anggota Tarekat Hisytiyyah mengamalkan dzikr pas-i-anfas atau “zikir menjaga napas” sebagai berikut: Sang dzákir mengucapkan  la iláha dalam napas yang dihembuskan, dari illallah dalam napas yang dihirup dengan lidah hati. Artinya, penafian dilakukan ketika napas keluar, dan penegasan dilakukan ketika napas masuk. Selama keluar-masuknya napas ini, pandangan diarahkan kepada pusar. Zikir ini mesti sering diulang-ulang agar pernapasan itu sendiri menjadi dzákir, entah sang dzâkir itu tidur atau terjaga.

Zikir menjaga napas bisa juga dilakukan dengan nama dzat (Allah). Caranya ialah memperpanjang sedikit huruf terakhir h, agar ada huruf u, yakni sang dzâkir mestilah, dengan lidah hati, mengucapkan Allah dengan napas yang masuk, serta hu dengan napas keluar.

Jika bunyi dihasilkan dari lubang hidung dalam zikir menjaga napas, entah itu dilakukan dengan la ilâha illallah atau dengan Allah, maka yang demikian ini disebut dzikr Arra-Bini. Zikir ini menimbulkan keresahan dan perasaan terbakar. Zikir ini membuat otak jadi panas dan kering. Dalam keadaan seperti ini, para sufi mengusapkan minyak buah badam di kepala mereka.

Sang dzâkir mesti berusaha sebaik mungkin untuk mencapai kesempurnaan dalam zikir ini, dan kesempurnaan pun dicapai manakala pernapasan itu sendiri sudah menjadi dzâkir, tanpa kemauan dan kesadaran sang dzâkir. Mula-mula, zikir ini dilakukan seribu kali sesudah shalat ‘Isyâ’, dan lima ratus kali sesudah shalat Subuh. Jumlahnya semakin meningkat dan bertambah hingga zikir ini terucap dengan sendirinya.

Baca juga:  Sekilas Kisah Tarekat Naqsyabandi

Diriwayatkan oleh Jabir, mengenai para penghuni surga, bahwa Nabi Muhammad SAW.. bersabda:“Tasbih (Maha suci Allah) dan Tahmid (Segala puji bagi Allah), bagi mereka, sama biasanya seperti bernapas.

Dengan menjaga napas demikian, kondisi yang sama pun bisa diciptakan, dan sang dzákir menjadi aktif dengan setiap tarikan napas. Sebab, dengan amalan yang berlebih, ketika kebiasaan zikir itu terbentuk dalam setiap tarikan napas, maka zikir akan menjadi otomatis, dan bahkan sebelum kematian datang menjemput, keadaan seseorang akan sama seperti keadaan para penghuni surga. Dituturkan kepada kita bahwa, pada “hari perhitungan” kelak, setiap orang akan ditanya ihwal bagaimana ia menggunakan setiap tarikan napasnya.

Jika tarikan napas seseorang digunakan untuk mengingat Allah, maka ia bakal beroleh keselamatan. Itulah sebabnya Syaikh al-Akbar mengatakan: Rentang waktu kehidupan sangatlah singkat. Setiap tarikan napas adalah segala sesuatu yang baik. Apa yang sudah keluar tidak akan pernah kembali lagi.

Dari seorang penyair sufi mengatakan:

Setiap tarikan napas yang keluar adalah sepenggal masa,

Yang nilainya akan diperoleh di dunia dan di akhirat,

Janganlah memilih menghancurkan perbendaharaan ini,

Kalau tidak, engkau akan masuk kubur laksana orang Miskin terlunta-lunta dengan tangan kosong!

Jika menjaga napas sudah bisa dilakukan, maka sang hamba termasuk ke dalam orang-orang “yang banyak mengingat Allah”, sebagaimana diperintahkan oleh Alquran kepada kita:

Baca juga:  Sufi Perempuan: Kurdiyah dari Bashrah

Wahai orang-orang beriman! Sebut dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya, …..

Baca Juga
Sabilus Salikin (17): Beragam Tarekat Satu Hakikat

Zikir menjaga napas dilakukan dalam hati saja dan tidak dengan lidah jasmani. Sebagian ‘ulama fiqih menolak kesahihan zikir dalam hati (dzikr al-Qalb). Akan tetapi, zikir atau “mengingat Allah” dipertentangkan dengan kelalaian, yang karenanya hanya merupakan sebuah sifat khas hati. Oleh karena itu, tidaklah benar membatasi zikir pada mengingat Allah dengan lidah saja. Zikir mestilah dilakukan dengan lidah dan juga hati. Mengakui yang satu dan menolak yang lain jelas tidak benar sama sekali.

Dzikr Kasyf ar-Rüh (zikir menyingkap ruh) dilakukan Sebagai berikut: Pertama, sang dzákir mesti mengulang-ulang Ya Rabb (Ya Tuhan) dua puluh satu kali. Kemudian ia mesti mengenakan dharb Yá Ruh ar-Ruh (Wahai ruh dari segala ruh)! Kemudian ia mengangkat kepala tinggi-tinggi dan mengucapkan Ya Ruh. Sesudah menyelesaikan zikir ini, ia mesti merenungkan ruh-ruh yang sudah berpulang ke haribaan Allah. Ruh yang dikenangkan akan menampakkan diri, entah sang dzâkir tidur atau terjaga. Jika zikir ini diamalkan dua ribu kali, maka tujuan akan diraih dengan segera. Zikir ini sampai pada Sayyid Muhammad Gisu Darâz dan Khwâja Nashiruddin Chirâgh Dehlavi.

Baca juga:  Ngaji Hikam: Prasangka Baik adalah Sumber Kebahagiaan

Dzikr Kasyf al-Qubür (Zikir menyingkap kubur):

Sang dzákir mesti duduk di dekat kuburan, menengadahkan kepalanya ke langit dan mengucapkan: Aksyif Ii yâ Nür (singkapkan kepadaku, wahai Cahaya), kemudian mengulangi aksyf li (singkapkan kepadaku), mengetukkannya di hati, serta menghadap ke arah orang yang mati di kubur, mengetukkannya dan mengucapkan “unbalihi” (singkapkan keadaannya kepadaku). Keadaan orang yang mati akan tersingkap dan terungkap baik dalam mimpi atau secara jelas ketika ia sedang terjaga.

Dalam Tarekat Hisytiyyah, Dzikr al-ijâbat ad-Da’awât atau zikirpengabulan doa-doa” sangatlah bermanfaat. Zikir itu dilakukan sebagai berikut: Pertama, sang dzákir mesti menerapkan dharb: Yâ Rabb! (Ya Tuhan) pada sisi sebelah kanan, kemudian menerapkannya pada sisi sebelah kiri dan kemudian pada hati. Lantas ia mesti mengucapkan Yâ aAbbi (Ya Tuhanku!). Zikir ini mesti diulangi sebanyak-banyaknya. Manakala sang dzâkir ingin menyelesaikan zikir ini, ia mesti mengangkat kedua tangannya dan mengucapkan: Yâ Rabb, sambil mencamkan tujuan yang ingin diraihnya. Zikir ini dituturkan dari Syaikh Muhyiddin Ibn Al-’Arabi.

Zikir berikut ini sangat efektif untuk mengobati berbagai macam penyakit: Sang dzâkir memukul sisi sebelah kiri dengan Yâ Ahad (Wahai Yang Maha Esa!), pada sisi sebelah kanan dengan Yá Shamad (Wahai Zat tempat meminta) dan Yá Witr (Wahai Yang Maha ganjil) pada hati.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top