Humor Gus Dur: Doa Harimau

Redaksi

Gedung Kesenian Jakarta menggelar acara baca puisi oleh beberapa seniman. Sebagai petinggi negara yang dianggap pendukung kegiatan kesenian, Presiden Gus Dur diundang panitia. Salah satu penyair yang hadir di situ adalah Taufiq Ismail, yang membacakan puisi berjudul “Kucing”.

Dengan gayanya yang khas, salah seorang penyair terbaik Indonesia itu membaca puisinya dengan penuh penghayatan. Penonton pun terhanyut dalam suasana puisi Taufiq.

Setelah Taufiq selesai, panitia meminta sang presiden untuk unjuk gaya membaca puisi juga. Gus Dur oke saja, lalu dituntun ajudannya menuju mimbar.

“Saya akan membaca puisi berjudul ‘Harimau’,” ucap Gus Dur memulai. Hadirin pun penasaran, seperti apa kira-kira puisi karya Gus Durn itu. Yang jelas, “Harimau”-nya tentu jauh lebih besar ketimbang “Kucing”-nya Taufiq.

Alkisah, cerita Gus Dur, ada seorang pemburu yang sedang bersiap-siap pergi mencari mangsa. Hari itu ia merencanakan mencari harimau. Dan betul. Ketika tiba di hutan ia pun segera berjumpa dengan raja hutan itu. Ia tak menyia-nyiakan waktu. Senapan pun segera dikokangnya. Ia ambil posisi yang tepat.

Tak disangka, sang harimau rupanya sadar bahwa ia sedang dibidik. Tahu kalau nyawanya terancam, harimau itu mengejar-ngejar sang pemburu. Ia lari sekencang-kencangnya. Tanpa disadarinya, ia sampai di pinggir jurang yang sangat dalam. Segera ia menghentikan larinya. Maju kena, mundur apalagi. Ia pun hanya bisa pasrah.

Baca juga:  Seminar Ilmu Sosial, Gus Dur Malah Tidur

Tapi harimau ternyata tidak langsung menerkamnya. Si pemburu berdoa minta keselamatan pada Yang Maha Kuasa. Berbagai macam doa ia panjatkan.

Setelah sekian lama, ia agak heran, kok harimau itu belum menerkamnya. Jangan-jangan raja hutan itu malah sudah pergi. Sambil terus berdoa, ia membuka matanya pelan-pelan, mengintip sang harimau, apakah ia sudah pergi atau masih ada di situ. Ia kaget setengah mati. Ternyata harimau itu juga sedang berdoa.

“Hai, harimau, sedang apa kamu?” tanya si pemburu.

Si raja hutan itu tak menyahut, dan terus saja memanjatkan doanya.

“Hai, harimau, kok kamu tidak menerkam saya?”

“Ya, saya sedang berdoa,” akhirnya raja hutan itu menjawab.

Baca Juga

“Untuk apa kamu berdoa?” tanya pemburu itu lagi, dengan perasaan lebih tenteram.

“Saya memang biasa berdoa sebelum menerkam mangsa saya,” jawab harimau itu sambil bersiap-siap menerkam.

Mendengar jawaban itu, si pemburu pun kembali lari tunggang langgang.

Begitulah puisi karya Gus Dur.

(SumberGer-Geran Bersama Gus Dur, Penyunting Hamid Basyaib dan Fajar W. Hermawan, Pustaka Alvabet, 2010)

Lihat Komentar (0)

Komentari