Sedang Membaca
Perempuan Berjilbab, Anjing, dan Beberapa Pembacaan 

Perempuan Berjilbab, Anjing, dan Beberapa Pembacaan 

Hairus Salim HS

Catatan: Catatan lama yang belum pernah dimunculkan, tentang sebuah foto perempuan berjilbab dan seekor anjing, yang meski sudah lama, mungkin masih relevan.

Sebuah foto atau gambar memiliki banyak penafsiran. Betapa berbahayanya jika penafsiran hanya boleh dan harus satu saja. Teks menjadi sesuatu yang mati dan bisa jadi ‘mematikan’. Inilah yang ingin saya ‘bagikan’ mengenai gambar cover Post Event Catalogue Parallel Events & Festival Uquator: Biennale Jogja XI Equator #1. Cover itu menampilkan foto seorang gadis remaja berjilbab yang diapit dua ekor anjing!    

Post Event Catalohue Parallel Events & Festival Uquator: Biennale Jogja XI Equator #1 bersama buku lain Biennale Jogja XI – Equator #1: Shadow Lines: Indonesia Meets India, 26.11.2011 – 8.1.2012 pada dasarnya sudah saya terima pada pertengahan Oktober 2012, melalui kiriman pos dari panitia. Sudah cukup lama sekali. Kedua buku yang dipenuhi foto-foto ini adalah laporan dan dokumentasi Bienalle Jogja XI yang konsep penyelenggaraannya sangat unik dan menarik.

Ketika kedua buku itu tiba, saya langsung membukanya, melihat foto-fotonya dan membaca-baca sebagian dari artikelnya yang menarik minat saya. Setelah itu, kedua buku jenis coffeetable itu saya letakkan di atas meja kerja.

Perhatian saya muncul lagi ketika awal Maret 2013 lalu menghadiri diskusi sosialisasi program parallel events untuk Bienalle XII 2013 yang bertopik Indonesia bertemu Negara semenanjung Arab. Tanpa saya sadari saya ternyata mendapat lagi buku yang pertama itu ketika mendaftarkan nama di dalam daftar hadir peserta. 

Sambil menunggu diskusi yang molor setengah jam lebih itu saya melihat-lihat kembali buku tersebut. Tiba-tiba saja perhatian saya tersedot pada cover buku Post Events Catalogue Parallel Events & Festival Equator: Biennale Jogja XI Equator #1 sesuatu yang dulu tidak saya perhatikan dan sadari daya tariknya. Cover itu, seperti saya kemukakan di atas, menampilkan foto seorang gadis remaja berjilbab yang duduk bersila, dengan mata memandang ke arah kamera, diapit dua ekor anjing jenis golden retriever.

Tangan kanan gadis dengan sekolah kelas menengah itu merangkul anjing di sebelah kanannya, yang duduk dengan menjulurkan lidah dan mata memandang kamera. Sedangkan anjing di sebelah kiri duduk tiarap dengan wajah yang tidak terlalu jelas. Si Gadis duduk berhimpitan dengan kedua anjing, dengan senyum kecil. Foto pose yang kemudian dikasih pigura dengan asesoris kupu-kupu warna-warni ini jelas menunjukkan keakraban antara gadis tersebut dan kedua anjingnya. 

Foto ini bukan foto berita, yang memiliki caption, sebagai bangunan struktural lain untuk memahami foto ini dengan mudah. Teks di bawahnya adalah judul buku, bukan penjelasan foto cover tersebut. 

Saya menjadi penasaran dan ingin lebih tahu asal-usul foto cover ini dan hubungannya dengan Bienalle XI dengan menelusuri bagian dalam buku (ini hanya bisa diakses mereka yang memegang buku ini dan mau menelusurinya). Baru di halaman 111 saya bertemu penjelasan: “Image cover Karya Dewayanti Kartika Sari (17), SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta, judul Untitle. Salah satu karya hasil Workshop “Aku, Kamu, dan Kita” yang diselenggarakan Ruang MES 56 & Kampung Halaman dalam rangka Parallel Event Bienalle Yogyakarta XI.” 

Terang sudah bahwa foto yang dijadikan cover ini awalnya merupakan salah satu foto hasil workshop dengan anak-anak SMU di Yogyakarta. Workshop dan pameran foto hasil workshop itu sendiri merupakan bagian dari acara Bienalle XI. Pada halaman 47-54 dari buku tersebut, kita akan memperoleh informasi mengenai workshop & pameran ini. Tetapi penjelasan tentang foto ini secara khusus sama sekali tidak ada. Bahkan judulnya mengundang tanya: Untitle (tak berjudul). 

Kendati demikian, ‘dipilihnya’ (siapa yang memilih, mengapa dipilih?) foto ini sebagai cover buku, telah memisahkan dan mencabutnya dari konteks pembuatannya. Ia telah berdiri sebagai karya tersendiri dan akan dibaca secara tersendiri pula. Ia adalah sebuah cover buku. Ia adalah sebuah karya yang telah ‘dipublikkan’. Titik!   

***

Membaca di sini berarti memperlihatkan suatu proses konsumsi sekaligus produksi. Konsumsi terjadi jika pembacaan yang dominan yang diikuti. Produksi berlangsung jika foto cover itu melahirkan pembacaan-pembacaan lain.

Foto cover itu memperlihatkan apa disebut oleh Roland Barthes sebagai hubungan sintagmatik.  Yakni hubungan tanda dengan tanda lain dari sistem yang berbeda: “perempuan berjilbab” dan “anjing.” Jilbab adalah suatu tanda yang menunjuk pada “Islam” dan ‘anjing’ sebagai binatang yang ‘diharamkan’ dalam Islam. Kombinasi dua tanda ini hampir-hampir menjadi alasan mengapa foto ini bisa menarik perhatian saya. Mungkin juga bagi banyak orang yang melihatnya. 

Lalu, apa artinya foto tersebut? Pada pengertian yang awal sekali, foto ini jelas ingin menunjukkan bahwa Islam itu tidak bermusuhan dengan binatang anjing. Islam bisa bersahabat dengan anjing. Foto ini seperti ingin membantah pandangan teologis yang dominan bahwa orang Islam dilarang memelihara anjing. Foto ini menjadi bukti yang akurat dan kuat. 

Namun, serentak dengan itu, sebenarnya foto ini ‘membenarkan’ bahwa Islam memusuhi dan tidak akan bisa bersahabat dengan anjing. Bahwa ada ‘masalah serius’ dalam pandangan Islam terhadap anjing. Inilah alasan mengapa pentingnya foto ini dan mengapa ‘dipilih’ sebagai cover buku di antara banyak foto (bienalle) lainnya. Ia ingin membantah dengan cara membenarkannya, dan ingin membenarkan dengan cara membantahnya.

Baca Juga
Lima Panduan Berhijrah

Antara ‘membantah’ dan ‘menolak’ pandangan teologis ini berlangsung dalam pembacaan foto ini. Tarik-menarik pembacaan keduanya hampir-hampir tidak bisa ditolak karena foto ini di dalam dirinya mengandung ketegangan dua pembacaan tersebut. Dari realitas foto itu meleleh realitas sehari-hari dan gagasan teologi. Apakah foto itu menunjukkan sesuatu yang ada dan nyata sehari-hari? Apakah pandangan teologis sesuatu yang sudah tidak menentukan dan tidak relevan.

Tetapi kedua pembacaan ini pada dasarnya adalah pembacaan dominan. Ia betul-betul berhenti di halte pertama dari sebuah makna. Ini terutama karena ‘anjing” hampir-hampir menduduki status ‘simbol’ dalam hubungannya dengan Islam. Namun ketika berhubungan dengan ‘perempuan (muda) berjilbab’ status simbolnya jadi bisa digoyang. Goyangan ini akan memberikan ceruk pembacaan yang lebih luas lagi. Tentu jika kita sudi memperluas gelanggang maknanya. 

Salah satunya adalah bahwa yang ditunjukkan foto itu adalah sifat toleran dan kasih dari Islam.  Islam agama yang penuh kemanusiaan. Perempuan berjilbab menunjukkan pada agama “Islam”. Islam apa dan bagaimana? Islam yang ramah, seperti yang ditampilkan oleh senyum gadis itu dan kesediaan merangkul kedua anjing tersebut.

Sedangkan anjing di sini menandai “yang bukan Islam”: Kristen, Tionghoa, Hindu, “agama-agama suku” dan lainnya, tersebab di lingkungan ‘bukan Islam’ ini anjing biasa dipelihara dan menjadi bagian dari keluarga. Dan anjing selama ini hampir-hampir menjadi marka pembeda yang menunjuk antara yang muslim dan bukan. Ajaran teologis yang membatasi (anjing adalah binatang yang haram) hendak dilampaui oleh sifat hakiki Islam seperti yang ditampilkan remaja berjilbab yang merangkul mesra anjing di sini. 

Kemungkinan makna lain adalah bahwa Islam sangat ‘berperikebinatangan’. Islam melindungi dan menyantuni hewan. Islam bagaimana yang bisa sampai seperti ini? Ia adalah Islam yang berpandangan baru, terpelajar dan terbuka (pelajar muslimah berjilbab). Anjing di sini menandai ‘pet’, binatang piaraan umumnya, baik yang bisa menjadi sababat maupun tidak.

Bukan kebetulan kalau jenis anjingnya golden retriever, jenis anjing yang bersahabat, sabar, dan selalu ingin menyenangkan hati pemiliknya. Golden retriever merupakan salah satu anjing keluarga yang paling populer di dunia.  Jika dengan hewan anjing saja, Islam bisa kasih, tentu juga dengan binatang-binatang lain.        

Bisa jadi ada makna lain lagi. Singkatnya cover ini mengundang banyak tanya, dan mungkin karena itu judulnya ‘tak berjudul’. Mengapa tak berjudul, padahal fotonya demikian nyata? Orang tak memberi judul biasanya karena merasa ‘luas’nya makna yang dirangkum sebuah karya dan judul dikhawatirkan justru akan membatasi keluasan makna yang dirangkumnya tersebut.

 

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top