Redaksi
Penulis Kolom

Redaksi Alif.ID - Berkeislaman dalam Kebudayaan

Gus Yahya: Presiden Emmanuel Macron Tidak Sepenuhnya Salah

Katib Am PBNU Yahya Cholil Staquf punya pandangan yang berbeda terkait pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang membuat situasi dunia Islam memanas. Yahya menilai Presiden Macron tidak sepenuhnya salah.

Dia menyatakan dengan jelas bahwa dunia Islam sedang mengalami krisis. “Macron tidak sepenuhnya salah ketika menyatakan bahwa Dunia Islam sedang dalam krisis, karena memang ada krisis. Yaitu bahwa Dunia Islam belum sampai pada konstruksi keagamaan dan konstruksi sosial-politik yang dibutuhkan untuk berintegrasi secara damai dan harmonis dengan dunia seluruhnya (the rest of the world),” demikian tulisnya dalam rilis yang kami terima.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Namun, Gus Yahya –demikian Yahya Cholil Staquf– juga menilai bahwa Presiden Macron hanya memandang Islam secara sepihak, yaitu “dari sudut pandang ideologi sekularisme ‘ektrem’ Prancis yang cenderung memandang agama hanya sebagai sumber masalah dan agama sebagai tantangan ideologis yang harus dikalahkan.”

Dalam rilisnya, Gus Yahya menyampaikan empat poin, yakni tentang Presiden Macron, tentang kebebesan ekspresi, tentang Nabi Muhammad yang tidak boleh digambar, dan himbauan umat Islam agar bersikap tenang. Secara lengkap, pendapat pribadi Gus Yahya bisa dibaca di bawah ini:

  1. 1. Di satu sisi, Macron tidak sepenuhnya salah ketika menyatakan bahwa Dunia Islam sedang dalam krisis, karena memang ada krisis. Yaitu bahwa Dunia Islam belum sampai pada konstruksi keagamaan dan konstruksi sosial-politik yang dibutuhkan untuk berintegrasi secara damai dan harmonis dengan dunia seluruhnya (the rest of the world). Di sisi lain, Macron menyikapi masalah secara sepihak, yaitu dari sudut pandang ideologi sekularisme “ektrem” Perancis yang cenderung memandang agama hanya sebagai sumber masalah dan agama sebagai tantangan ideologis yang harus dikalahkan. Pandangan sepihak semacam ini dikeluhkan bukan hanya oleh kalangan Muslim, tapi juga umat Kristen dan Yahudi. Dalam penilaian yang seimbang, sesungguhnya seluruh masyarakat dunia sedang dalam krisis di tengah pertentangan berbagai ideologi dan worldviews. Dunia membutuhkan platform dialog yang didasarkan atas kejujuran untuk membangun konsensus mengenai nilai-nilai keadaban yang disepakati bersama (shared civilizational values);
  2. 2. Saya pribadi berpendapat bahwa freedom of expression harus ditetapkan sebagai prinsip dalam hukum, sedangkan penghormatan pada agama atau keyakinan yang berbeda diletakkan dalam domain budaya dan dikampanyekan sebagai nilai budaya.
  3. 3. Karena Nabi Muhammad SAW adalah subyek suci dalam agama Islam dan merupakan simbol utama Islam, merendahkan kehormatan Nabi Muhammad SAW dapat dianggap sebagai penghinaan terhadap Islam. Disamping itu, pandangan dominan dalam Islam menggagap bahwa menggambar sosok Nabi Muhammad SAW adalah terlarang. Namun, menanggapi “penghinaan terhadap Nabi” dengan membunuh pelakunya adalah tindakan biadab yang berpotensi memicu instabilitas yang meluas tanpa kendali. Umat Islam harus bertindak dengan mematuhi hukum dan menyatakan sikap dengan cara-cara yang dilindungi hukum.
  4. 4. Umat Islam harus menyikapi masalah ini dengan tenang dan tidak memperturutkan emosi. Karena yang dihadapi sesungguhnya bukan hanya pihak yang menghina Islam, melainkan kebutuhan seluruh umat manusia dari latar belakang dan keyakinan yang beragam untuk menemukan landasan bagi integrasi global yang harmonis. Hal itu hanya dapat dicapai melalui dialog yang tenang. Umat Islam tidak boleh mengikuti mereka yang memperalat Islam dan isu kartun Nabi ini sebagai senjata politik untuk mendapatkan keuntungan politik eksklusif dan sepihak atau dengan sengaja memicu konflik untuk menghancurkan lawan politik.
Baca juga:  Kemnaker Bakal Pulangkan Ribuan Pekerja Ilegal di Malaysia
Pesan Kerudung Bergo
Apa Reaksi Anda?
Bangga
2
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top