Sedang Membaca
Di Vrije Universitait Amsterdam, Ada Manuskrip Berisi Ijazah Wirid dari Kiai Abdul Mannan Dipomenggolo Tremas dan Kiai Imam Puro Purworejo
Penulis Kolom

Redaksi Alif.ID - Berkeislaman dalam Kebudayaan

Di Vrije Universitait Amsterdam, Ada Manuskrip Berisi Ijazah Wirid dari Kiai Abdul Mannan Dipomenggolo Tremas dan Kiai Imam Puro Purworejo

Whatsapp Image 2022 06 09 At 10.55.07 Am

Selama dua pekan lamanya, dari tanggal 3 hingga 14 Juni 2022, Vrije Universitait Amsterdam di Belanda menggelar pameran fragmen peradaban Islam Nusantara bertajuk “The Traversing of Islam Nusantara in the Netherlands”.

Pameran tersebut terselenggara atas kerjasama beberapa pihak, antara Lembaga di Belanda dan Indonesia, seperti Vrije Universiteit Amsterdam, PCINU Belanda, Alif.id, dan Nahdlatut Turots.

Di antara koleksi yang menjadi konten dalam kegiatan pameran tersebut adalah beberapa fragmen manuskrip ulama Nusantara yang berasal dari kurun masa abad ke-19 dan awal abad ke-20 M. Manuskrip-manuskrip tersebut berhubungan dengan tokoh-tokoh ulama besar Nusantara seperti Kiai Abdul Mannan Dipomenggolo (Tremas), Kiai Imam Puro Hasan Benawi (Purworejo), Kiai Abdul Hadi Petapan (Madura), Kiai Kholil Bangkalan (Madura), Kiyai Sholeh Tambakagung (Madura), Kiyai Abdul Karim Lirboyo (Kediri), Kiyai Muhammad Shiddiq Jember. Nama-nama tersebut memiliki hubungan erat dengan sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama.

Segmen pameran manuskrip ulama Nusantara ini dikurasi oleh Dr. A. Ginanjar Sya’ban (filolog santri, penulis Alif.id, co-founder Nahdlatut Turots dan juga Dosen Pascasarjana Fakultas Islam Nusantara (FIN) UNUSIA Jakarta).

Salah satu fragmen manuskrip yang dipamerkan dalam pameran tersebut adalah manuskrip berisi amalan wirid yang diijazahkan dan berasal dari dua ulama besar Jawa masa Perang Dipenogoro, yaitu Kiai Abdul Mannan Dipomenggolo (w. 1865) dan Kiai Imam Puro Hasan Benawi Purworejo (w. 1880).

Baca juga:  Kebijakan Umar Saat Menjadi Amirul Mukminin

Amalan tersebut diijazahkan oleh dua ulama di atas kepada salah satu murid mereka yang berasal dari Madura, yaitu Kiai Sholeh Tambakagung (Bangkalan). Kiyai Sholeh Tambakagung sendiri adalah kawan satu generasi Syaikhona Kholil Demangan Bangkalan, seorang ulama besar yang menjadi mahaguru para ulama Nusantara yang hidup pada peralihan abad ke-19 dan 20 M.

Kiai Abdul Mannan Dipomenggolo adalah kakek dari Syaikh Muhammad Mahfuzh Tremas (w. 1920), ulama besar Nusantara yang mengajar dan berkarir di Masjidil Haram, Makkah, pada awal abad ke-20 M, sekaligus salah satu guru utama dari Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari.

Adapun amalan wirid yang diamalkan dan diijazahkan oleh Kiai Abdul Mannan Dipomenggolo adalah mendawamkan pembacaan ayat kursi dan surat al-Quraisy, masing-masing dibaca tiga kali setiap selesai shalat maghrib dan subuh. Amanal tersebut didapatkan oleh Kiai Abdul Mannan Dipomenggolo dari salah satu gurunya yang Bernama Syaikh Muhammad Umar Syatho, ulama besar madzhab Syafi’i di Makkah.

Tertulis di sana:

فقال إمام الشافعي محمد عمر مكة سوف2 يون سلامت سكع بلاهي دنيا أخرة مك نتفنا مجا أية كرسي فع تلو لن لإيلا في قريش فع تلو سبن2 بعد مغرب بعد صبح

(Faqâla Imâm al-Syâfi’î Muhammad ‘Umar Makkah sapa-sapa nyuwun selamet saking belahi dunya akherat maka netepana maca ayat kursi ping telu, lan li-îlâ fî quraysy ping telu saban-saban bakda magrib bakda subuh [Berkata imam madzhab Syafi’i Muhammad ‘Umar /Syathâ/ Makkah: siapa-siapa menghendaki keselamatan dari bala di dunia dan akhirat, maka hendaklah ia mendawamkan membaca ayat kursi tiga kali dan surat al-quraisy tiga kali setiap selesai maghrib dan subuh])

Baca juga:  Konferensi Internasional PCI NU Belanda Dibuka Wapres Ma'ruf Amin

Wirid lainnya yang diamalkan dan diijazahkan oleh Kiyai Imam Puro Hasan Benawi adalah mendawamkan pembacaan mu’awwidzatain (surat al-Falaq dan al-Nâs), surat al-Ikhlâsh dan surat al-Fâtihah setiap selesai shalat maghrib dan shubuh.

Tertulis di sana:

وقال شيخنا إمام فور سوف مجا سورة إخلاص سورة فلق سورة بناس سورة فاتحة تلو2 سبن2 بعد صبح سبن2 بعد مغرب مك سلامة دنيا آخرة

(Wa qâla Syaikhunâ Imâm Pûra: sapa maca surat ikhlash, surat falaq, surat binnas, surat fatihah, telu-telu saban-saban bakda subuh saban-sahan bakda magrib, maka selamet dunia akherat [Dan berkata guru kita Imam Pura, barangsiapa yang membaca surat al-ikhlash, surat al-falaq, surat al-nas, dan surat al-fatihah masing-masing tiga kali setiap selesai subuh dan magrib, maka ia akan selamat di dunia dan akhirat])

Pada bagian akhir lembar manuskrip, terdapat keterangan jika amalan tersebut diijazahkan oleh Kiai Abdul Mannan Dipomenggolo kepada Kiyai Sholeh Tambak Agung Madura, juga kepada Kiai Muhammad Salim yang merupakan murid dari Kiai Sholeh Tambak Agung.

* * *

Adapun fisik manuskrip asli dari fragmen di atas saat ini tersimpan sebagai koleksi privat perpustakaan Pesantren al-Akhyar, Tambak Agung, Bangkalan (Madura), yang dirawat dan dilestarikan oleh KH. Usman b. Hasan b. Ismail b. Sholeh, generasi cicit daripada Kiai Sholeh Tambak Agung Bangkalan Madura.

Baca juga:  Kamus Melayu Islami Pertama (4): Seksualitas dalam Kamus Raja Ali Haji
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
2
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top