Sedang Membaca
20.868 Halaman Manuskrip Sijunjung Sumbar Berhasil Didigitalisasi
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pendaftaran Workshop Menulis

20.868 Halaman Manuskrip Sijunjung Sumbar Berhasil Didigitalisasi

Redaksi

Di Jorong Tapian Diaro Nagari Sijunjung, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat terdapat sebuah surau yang cukup unik. Surau Simaung namanya. Ia merupakan surau tarekat Syattariyah yang hingga kini masih dikunjungi oleh ribuan penziarah setiap tahunnya.

Surau ini juga menjadi salah satu tempat wisata religi ziarah. Sepanjang tahun, ribuan orang datang ke surau-surau tersebut untuk berbagai tujuan, baik membayar nazar, berziarah ke makam ulama, dan lain-lain.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Di samping itu, Surau Simaung ternyata juga menyimpan koleksi 88 naskah dengan jumlah total 20.868 halaman memuat lebih dari 200 teks (kandungan isi naskah) di dalamnya. Sayangnya, sebagian besar naskah tersebut sudah mendekati kerusakan. Padahal kekayaan kandungan naskahnya sangat menarik, ada sastra, sejarah, hagiografi, agama, pengobatan tradisional dan lain-lain dan juga keragaman iluminasi (hiasan di dalam naskah).

Melihat potensi yang begitu besar inilah para filolog Indonesia sejak 22 Maret sampai 19 April 2019 melakukan pelestarian melalui alih media digital serta memberikan pendampingan kepada pemilik naskah mengenai tata cara perawatan fisiknya.

Mereka adalah  Pramono, M. Yusuf, dan Yerri Satria Putra (Universitas Andalas), Ahmad Taufik Hidayat dan Chairullah (UIN Imam Bonjol), Yusri Akhimuddin (IAIN Batusangkar), serta dua orang dokumenter Surya Selfika dan Harry Sofyan.

Baca juga:  Lirboyo, Literasi dan Genealogi Intelektual Pesantren

Kegiatan tersebut dilaksanakan atas program Digital Repository of Endangered and Affected Manuscripts in Southeast Asia (DREAMSEA). Para filolog tersebut juga tergabung dalam organisasi profesi Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa).

Menurut Data Manager DREAMSEA, M. Nida’ Fadlan bahwa kegiatan di Surau Simaung merupakan misi ke-12 sejak diluncurkan pada 24 Januari 2018.

“Program ini bertujuan untuk melestarikan naskah Asia Tenggara yang berada dalam kondisi terancam rusak karena alasan apa pun (endangered) sekaligus memiliki nilai penting (affected) dalam konteks masyarakat Asia Tenggara,” tutur filolog muda yang juga dosen di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Melalui naskah-naskah koleksi Surau Simaung akan membuka penelitian-penelitian keagamaan, falsafah, kesejarahan, kesusastraan, kebahasaan, dan kajian-kajian dengan sudut pandang yang lain. Semoga digital naskah koleksi surau ini segera dapat diakses secara daring oleh khalayak luas.

Harapan besar ini sesuai dengan tujuan akhir dari program DREAMSEA, yakni terbentuknya sebuah repository naskah digital Asia Tenggara yang dapat dimanfaatkan secara luas untuk memperkuat persatuan dalam keragaman bangsa Asia Tenggara.

Rencananya, naskah-naskah yang sudah didigitalkan akan diolah dan diunggah dalam sebuah repositori (perpustakaan digital) yang dapat diakses lebih luas untuk kepentingan umum termasuk kepentingan akademik.

Langkah ini akan membuka peluang seluas-luasnya bagi masyarakat untuk mengeksplorasi kekayaan khazanah masyarakat Asia Tenggara di masa lampau tanpa menghilangkan jejak kepemilikannya. Adapun fisik naskah tetap disimpan oleh pemiliknya masing-masing. (ATK) 

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top