Sedang Membaca
Menilik Masa Pra-Islam di Bumi Blambangan
Penulis Kolom

Penulis artikel ringan dan jurnal ilmiah. Saat ini sedang menempuh pendidikan di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Menilik Masa Pra-Islam di Bumi Blambangan

Tradisi Gedhogan Suku Osing Desa Wisata Banyuwangi

Sebagai negara yang identik multietnis, kaya budaya dan agama, menjadikan Indonesia disorot masyarakat dunia karena keragamannya. Terlebih masyarakat Jawa pada masa dinasti Kerajaan Majapahit memiliki berbagai kebudayaan, begitupun dengan agama yang di anut, layaknya Hindu yang merupakan agama yang terbesar di Jawa kala itu.

Sejak abad 15-M, saat Majapahit runtuh, Blambangan yang kala itu satu-satunya kerajaan di Jawa, menganut Hindu sebagai agama resmi kerajaan. Akan tetapi, perlu diketahui bahwa sebelum datangnya pengaruh dari Majapahit di Blambangan, wilayah Blambangan terlebih dahulu memiliki peradaban besar.

Masyarakat Blambangan sebelumnya membentuk koloni-koloni kecil seperti kerajaan setelah adanya pengaruh Hindu dan Budha di Nusantara, demikian dikenal dengan Maharaj. Bentuk dari kedaulatan jepemimpinan masyarakat Jawa Kuno familiar dijuluki Datu atau Ratu, sedangkan satu tingkat di bawahnya akrab disebut Rakai atau Raka. Lalu kasta yang paling rendah/kecil pemimpinnya disebut dengan Rama.

Bentuk keperintahannya dengan kedaulatan tersebut dibilang memiliki jangka waktu yang panjang, berkisar sampai abad ke-9 M. Agama masyarakat Blambangan kuno sebelum Majapahit dan Hindu-Budda datang, kepercayaan sebelumnya yang kental dipegang teguh adalah Kapitayan yang familiar di kalangan sejarawan disebut sebagai salah satu kepercayaan tertua di Jawa.

Dalam segi regional/letak geografis, wilayah yang termasuk dalam Kerajaan Blambangan meliputi beberapa kawasan bagian Timur Jawa, meliputi Banyuwangi, Pasuruan, Jember, Bondowoso, Situbondo, Lumajang. Terutama di kawasan Banyuwangi, menjadi faksi politik yang berbeda yaitu dari Hindu Bali dan dari Barat dipengaruhi Islam Mataram. Kedua wilayah tersebut memperebutkan wilayah Blambangan tersebut kala itu.

Dengan segala potensi dan masa kejayaan di masa lampau, sayangnya jejak eksistensi pada lembar catatan sejarah Hosteriografi Indonesia, negeri Blambangan jarang sekali dikaji dan didiskusikan. Bahkan karya dari Santono Kartodirjo yang berjilid-jilid berjudul Sejarah Nasional Indonesia dan Pengantar Sejarah Indonesia, ia sama sekali tidak menyebutkan kalimat yang berhubungan dengan kawasan Blambangan.

Baca juga:  Menelisik Hubungan Kiai Hasyim Asy’ari dengan Kiai As’ad

Namun pada tahun 1935, sebuah novel berjudul Digdaja yang berbicara tentang Blambangan, mulai diterbitkan dalam sebuah majalah sastra dengan nama pengarang Tan Boen Swie. Ia berusaha menjawab teka-teki tentang bagaimana asal mula sejarah dari Wong Pinggir atau Tiyang Pinggir. Wong pinggir atau Tiyang Pinggir adalah  mereka yang berasal dari pinggiran atau ujung paling Timur pulau Jawa, seperti yang kita kenal sebagai Blambangan.

Ketika masa Mataram, ada seorang lelaki yang digunakan sebagai percobaan berasal dari Blambangan untuk menguji kekuatan bahkan kesakralan senjata dari kerajaan Mataram. Jikalau dalam percobaan tersebut lelaki itu mati, maka senjata tersebut layak dibawa ke medan perang.  Ketika kerajaan Mataram mengalahkan kerajaan Blambangan yang mayoritas beragama Hindu, maka sebagain penduduk wong pinggir atau tiyang pinggir tersebut dipindahkan ke Mataram untuk dijadikan anggota pasukan dari kerajaan Mataram yang mana mereka disebut prajurit Blambangan.

Seiring berjalannya waktu, wilayah Blambangan mulai tergerus akibat adanya pengaruh kerajaan Islam dari wilayah Barat. Hingga pada akhirnya pusat kerajaan Blambangan tersisa di wilayah paling ujung (Banyuwangi saat ini). Terlepas dari konflik dengan kerajaan Mataram, Blambangan jika dilihat dari dinamika sosial kebudayaannya bisa dinyatakan bahwa kawasan Banyuwangi sendiri merupakan kawasan yang menjadi penghubung antara dua ibu kota dari propinsi yang ada di Indonesia, yaitu Denpasar (Bali) dan Surabaya (Jawa Timur).

Karena kawasan tersebut merupakan sebagai penghubung, tentunya banyak pendatang yang datang dari latar belakang yang berbeda dan meninggalkan sebuah jejak di sana. Pada akhirnya kawasan Banyuwangi dikenal sebagai wilayah seni budaya atau culture area dan menjadi sebuah identitas. Salah satu icon Banyuwangi sendiri yang paling dikenal adalah Tari Gandrung. Tari ini merupakan transformasi dari unsur budaya, yaitu dari unsur Bali-Jawa yang mana kemudian melahirkan suatu bentuk budaya baru dan menjadi ciri khas tersendiri.

Baca juga:  Pendokumentasian Haji: Agama dan Politik

Hal tersebut menunjukkan sejak awal masyarakat Banyuwangi yang beragama Hindu memiliki sifat dasar terbuka (open society) terhadap unsur-unsur budaya dari luar. Dari adanya sifat budaya Banyuwangi yang akomodatif dan juga asimilatif inilah yang menjadi penyebab tidak hanya dari hal kesenian saja yang berkembang pesat di sana, melainkan hal-hal lain pun berkembang seiring berjalannya waktu.

Kondisi masyarakat Banyuwangi sangatlah beragam. Penduduk asli Banyuwangi sendiri dikenal dengan suku Osing, sedang di beberapa wilayah juga terdapat etnis Jawa, Madura dan pendatang sebagian dari Bali. Adanya banyak macam suku tersebut karena tidak lepas dari sejarah Blambangan terdahulu yang dinilai sebagai kawasan yang hasil alamnya melimpah dan pelabuhannya yang ramai.

Tidak hanya pelaut asli Indonesia yang singgah di tanah Banyuwangi, melainkan pelaut dari luar Nusantara pun turut berlabuh, diantaranya Arab, Eropa dan Cina. Sementara itu ada pendapat tentang catatan sejarah dan penelusuran tradisi oral yang dilakukan oleh Margana, ia mengungkapkan bahwa bagaimana dari luar mendominasi hingga membentuk stigma dan imaji tentang penduduk Banyuwangi selama berabad-abad.

Ketika kolonial Belanda, setidaknya ada beberapa stigma yakni dari Jawa, Bali dan Cina terhadap masyarakat Banyuwangi, ketiganya merujuk pada pernyataan dan stereotip bahwa Masyarakat Blambangan merupakan pemberontak, tidak bersahabat, dan tidak setia. Namun ketika tahun 1966 pasca kerusakan politik, akademisi lokal dan juga pemerintah berusaha merekonstruksi identitas masyarakat dengan yang hal baru.

Baca juga:  Kepemimpinan Dana Mbojo dalam Jawharatul Ma’arif

Akan tetapi, masuknya berbagai etnis di Blambangan sendiri tidak lepas dari peristiwa perang besar-besaran oleh pasukan Blambangan atas kendali Rempeg Jogopati dan pasukan kompeni penjajah dari negeri Belanda yang familiar dikenal dengan  perang Puputan Bayu. Akibat perang tersbut, banyak korban jiwa hingga mencapi ratusan ribu penduduk Blambangan.

Seiring berjalannya waktu, terdapat interaksi umat Hindu Banyuwangi dengan Islam yang menjadi pintu gerbang utama masuknya Islam di Banyuwangi dan memunculkan konvensi Agama dari Hindu ke Islam. Dalam Babad Tanah Jawi dalam Soekmono (1981:75), ketika Islam mulai masuk ke tanah Jawa, kerajaan terbesar di Majapahit sudah mulai mengalami kelemahan dan pada akhirnya runtuh pada tahun 1478 M.

Penelusuran tentang jejak peradaban dari kerajaan Blambangan pada masa keruntuhan Majapahit banyak mengalami kesulitan, salah satunya yaitu terbatasnya sumber sejarah yang mengkaji hal tersebut. Hal demikian yang menyebabkan hingga saat ini masih mengalami sisi gelap dalam pemahamnannya, apakah kerajaan Blambangan terdiri beberapa dinasti atau satu dinasti.

Sejarah membuktikan bahwa terdapat tiga dinasti yang berkuasa kala itu yaitu: 1). Dinasti Arya Wiraja, 2). Dang Hyang Kepakisan, 3). Bre Wirabumi. Islam yang datang di Indonesia tidak lepas dari peran Walisongo yang menyebarkan Islam di Kawasan, Lamongan, Jepara, Gresik, Cirebon, Surabaya, Banyuwangi, Tuban dan daerah lainnya. Para Walisongo tersebut memiliki kelebihan daripada masyarakat awam yang kala itu masih memeluk Agama lama yaitu Hindu.

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top