Alif.Id Gelar Pameran Foto Masjid di Nijmegen Belanda

Redaksi
  • Sebagian dari foto-foto yang dipamerkan termuat di dalam buku berjudul "25 Masjid Nusantara: Seribu Kisah" yang diterbitkan Bank Muamalat (2017). Foto-foto masjid-masjid tua itu hasil bidikan Elik Ragil, Andi Erik, dan fotografer-fotografer di sejumlah daerah.

Alif.id bersama PCI Nahdlatul Ulama Belanda dan Museum Bronbeek Belanda menggelar pameran foto masjid Nusantara dengan tema “The Face of Islam in Indonesia” di Universitas Radboud Nijmegen Belanda pada tanggal 12-21 Juni 2019. Pameran foto yang didukung oleh Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Ditjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Djarum Foundation ini menjadi bagian dari konferensi dua tahunan kedua yang diselenggarakan PCI NU Belanda dan Universitas Radboud Nijmegen bertema “Rethinking Indonesia Islam Nusantara: from Local Relevance to Global Significance”.

Pameran foto ini relevan dengan salah satu tujuan konferensi internasional yakni mengampanyekan Islam Nusantara serta menebarkan Islam wasathiyyah (moderat) melalui dialog dan upaya-upaya kultural.  Foto-foto yang ditampilkan di antaranya Masjid Baiturrahman Aceh,  Masjid Menara Kudus,  Masjid Agung Banten,  Masjid Rambitan Lombok,  Masjid Wapauwe Ambon,  Masjid Mantingan Jepara,  Masjid Sultan Suriansyah Banjarmasin, dan Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon.  Total 25 masjid.

Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya Kemendikbud Najamudin Ramly mengatakan,  pameran masjid Nusantara tersebut bisa menjadi satu upaya diplomasi budaya antara Indonesia dan Belanda yang selama ini juga sebenarnya sudah terjalin baik.  Berbicara mengenai masjid tidak melulu berbicara mengenai fungsinya sebagai rumah ibadah umat Islam.  Masjid, apalagi masjid tua di Indonesia menjadi saksi bisu perkembangan kebudayaan dan peradaban Nusantara.

Baca Juga:  Direktur Universitas Radboud: Penting untuk Saling Memahami Antaragama

“Masjid-masjid itu menceritakan dirinya sendiri melalui catatan sejarahnya,  arsitekturnya,  keindahannya,  orang-orang yang membangunnya,  dan banyak hal.  Di sana ada toleransi dan harmoni antarmanusia, antaretnik,  bahkan antarkepercayaan.  Indahnya,  masjid-masjid tua itu tegar melampaui zaman dan masih dimanfaatkan hingga sekarang,” kata Najamudin.

Masjid Darul Muttaqin Lombok

Budi Darmawan dari Djarum Foundation mendukung pameran foto ini karena sejalan dengan visi dan misi Djarum Foundation yang selama ini menaruh perhatian besar pada kebudayaan Indonesia.  Tradisi lisan,  arsitektur, kearifan lokal,  kesenian,  hingga busana Nusantara adalah kekayaan kebudayaan bangsa yang tidak saja harus dirawat namun juga dikembangkan.

Banyak masjid Nusantara yang dibangun pada abad ke-19 bahkan sebelumnya telah ditetapkan menjadi cagar budaya, tidak hanya karena umurnya yang tua tapi juga kisah sejarah dalam pembangunannya serta nilai-nilai filosofis dalam setiap detail bangunan. “Saya melihat Islam Nusantara di masjid-masjid tua di Indonesia. Keindahan arsitekturnya juga khas, unik, dan berbeda di setiap daerah.  Ada akulturasi budaya yang diterima dengan gembira dan damai waktu itu, bahkan untuk sebuah rumah ibadah agama tertentu. Masjid-masjid itu menjadi simbol. Kami berharap nilai-nilai harmoni dan toleransi ini tidak hilang,” papar Budi.

Baca Juga:  NU Belanda ke Maroko, dari Ziarah Ibnu Batutah hingga Jalin Kerja dengan Kampus

Masjid Menara Kudus

Baca Juga

Sebagian dari foto-foto yang dipamerkan tersebut termuat di dalam buku berjudul “25 Masjid Nusantara: Seribu Kisah” yang diterbitkan Bank Muamalat (2017). Foto-foto masjid-masjid tua itu hasil bidikan Elik Ragil, Andi Erik, dan fotografer-fotografer di sejumlah daerah. Foto-foto yang juga akan dipamerkan adalah foto-foto koleksi Museum Bronbeek mulai kopiah, rehat, bakiak, hingga kota lama Banda Aceh.

Lihat Komentar (0)

Komentari