Sedang Membaca
Pameran Foto dan Manuskrip Islam Nusantara di Belanda Jadi Refleksi Bersama
Penulis Kolom

Redaksi Alif.ID - Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pameran Foto dan Manuskrip Islam Nusantara di Belanda Jadi Refleksi Bersama

20220602 163241

Sebanyak 30 foto dan manuskrip yang dipamerkan di Universitas Vrije Amsterdam Belanda dengan tema “The Traversing of Islam Nusantara in the Netherlands” dapat menjadi refleksi bersama Indonesia dan Belanda dalam konteks Islam Nusantara. Teks-teks tersebut membangun narasi adanya sejarah masa lalu yang sangat beririsan meski menyisakan banyak misteri yang untuk dikuak.

Img 20220601 Wa0023

Demikian dikatakan Dekan Fakultas Teologi Universitas Vrije Amsterdam Ruard Ganzefoort dalam pembukaan pameran yang dihelat PCI NU Belanda, Alif.id, dan Nahdlatut Turots, Kamis (2/6/2022).

20220602 163357
Suasana pembukaan pameran

Hadir dalam pembukaan pameran, Koordinator Seksi Informasi Sosial dan Budaya Kedutaan Besar Republik Indonesia di Belanda Puji Lestari; Ketua PBNU Fahrizal Yusuf Affandi; dosen sejarah Universitas Vrije Prof Wim Manuhutu, keturunan Maluku pertama yang datang ke Belanda; serta mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam PPI Belanda.

20220602 162925

 

20220602 162443
Wim Manuhutu (kiri) berbincang dengan kurator pameran, Adrian Perkasa (kanan)

“Kita saling berbagi sejarah masa lalu, kombinasi dua bangsa. Teks-teks terebut membangun narasi yang pada akhirnya menjadi dasar Islam Nusantara. Teks tradisi dalam masa kolonial diambil dari Indonesia ke Belanda, dan itu adalah bagian dari sejarah bahwa kita pernah berbagi masa lalu,” tutur Ganzefoort dalam sambutan pameran yang juga didukung Djarum Foundation dan SPC Indonesia ini.

Screenshot 20220605 091411 Drive

Ganzefoort mengatakan bahwa dalam konteks kolonial, sejarah masa lalu makin butuh banyak refleksi, yang hasil akhirnya adalah untuk mencari titik temu dan kebersamaan. Ia merasa masih ada misteri, sejak awal mula orang Maluku datang ke Belanda yang tentunya melibatkan melibatkan unsur budaya dan politik.

20220602 162345

“Bagian kuat dalam pameran ini,  ini menjadi cermin bahwa Indonesia khususnya Maluku dan Belanda berbagi masa lalu. Apakah saat ini kita masih bersama dan bagaimana nanti di masa depan. Saya mengapresiasi penyelenggaraan pameran ini,” imbuh Ganzefoort.

20220602 154251
Alila dan Ginanjar Sya’ban

Pameran foto dan manuskrip yang dikomandoi Nur Ahmad, kandidat doktor Universitas Leiden, digelar dari tanggal 2–14 Juni 2022. Setelah itu, menurut rencana pameran akan dilanjutkan di beberapa masjid Indonesia di Amstersdam. Pameran dikuratori oleh kandidat doktor Universitas Leiden Adrian Perkasa dan dosen Unusia Jakarta A Ginanjar Sya’ban.

20220602 140055

Pada sambutan kedua, Puji Lestari menggarisbawahi tiga tujuan dari pameran ini, pertama untuk mengungkapkan kehidupan dan proses integrasi dari masyarakat Islam pertama dari Nusantara yang datang ke Belanda.

Screenshot 20220605 091355 Drive

Kedua, untuk mengampanyekan kesalingan dan kesepahaman yang lebih luas mengenai tingginya toleransi dan adaptasi muslim Nusantara yang hidup di Belanda.

Ketiga, mengeksplorasi diskusi yang terus berkelanjutan mengenai bagaimana masyarakat Indonesia di Belanda, terutama Maluku, dapat menawarkan upaya harmoni dalam masyarakat multikultural tidak hanya di Belanda namun di seluruh dunia.

Baca juga:  Ritme Politik dalam Peradaban Islam Jawa

20220602 140015

“Ketika bicara mengenai korelasi antara Islam dan Indonesia, kita semua kerap mendengar kalimat bahwa Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar yang paling toleran dan moderat di dunia,” kata Puji.

Puji menegaskan, moderasi dan toleransi tersebut telah teruji sekian abad meski banyak rintangan. Dengan jumlah penduduk 230 juta orang, rakyat Indonesia disatukan dan dilindungi oleh dasar negara Pancasila. Menurut Economist Intelligence Unit’s Democracy Index 2020, Indonesia mendapat skor 7,9 dari 10 dalam proses pemilihan umum dan pluralisme.

Screenshot 20220605 091334 Drive

Kemegahan Tradisi Intelektual Pesantren 

Selain foto-foto mengenai muslim Maluku yang pertama kali datang ke Belanda, beberapa materi berupa fragmen manuskrip-manuskrip tua ulama Nusantara yang berasal dari abad ke-19 dan awal abad ke-20 M.

Manuskrip tersebut tersimpan di Perpustakaan Pesantren al-Akhyar Tambakagung (Bangkalan) dan Pesantren Tawangsari (Sidoarjo), Jawa Timur.

Koleksi-koleksi tersebut dikurasi oleh filolog santri Dr. A. Ginanjar Sya’ban, dosen Unusia Jakarta.

Img 20220601 Wa0030

Di antara fragmen manuskrip tersebut adalah khat kaligrafi yang ditulis oleh Syaikhona KH. Muhammad Kholil b. Abdul Lathif dari Bangkalan, Madura (w. 1925), yang dikenal dengan nama “Syaikhona Kholil Bangkalan”, salah satu tokoh sentral yang sangat menentukan dalam sejarah perkembangan agama Islam di Hindia Belanda, khususnya di wilayah Sunda-Jawa-Madura pada peralihan abad ke-19 dan ke-20.

Syaikhona Kholil Bangkalan juga tercatat sebagai mahaguru para ulama pendiri Nahdlatul Ulama seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Abdul Wahhab Chasbullah, KH. Bisyri Syansuri, KH. Ma’shum Lasem dan lain-lain.

Img 20220601 Wa0024

Fragmen manuskrip lainnya adalah catatan Syaikh Abdul Mannan Dipomenggolo Tremas, Pacitan, Jawa Timur (w. 1282 Hijri/1865 Masehi).

Abdul Mannan Dipomenggolo adalah kakek dari Syaikh Mahfuzh Tremas (w. 1920), atau Muhammad Mahfuzh b. ‘Abdullah b. ‘Abd al-Mannan al-Tarmasi al-Jawi al-Makki, seorang ulama besar Nusantara yang mengajar di Masjidil Haram dan menulis sejumlah karya penting.

Catatan tersebut berisi keterangan yang menjelaskan posisi pengambilan pendapat ulama Syafi’iyyah ketika didapati perbedaan di antara mereka. Paragraf pertama ditulis dalam Bahasa Arab, sementara paragraf kedua dalam Bahasa Jawa aksara Arab (Pegon).

Abdul Mannan Dipomenggolo juga mengutip pendapat gurunya, yaitu Syaikh Muhammad Umar Syatha yang menjabat sebagai mufti Syafi’iyyah di Makkah. Tertulis di sana:

كتبه الشيخ محمد عبد المنان في ترمس في فاجيتن

(Ditulis oleh Syaikh Muhammad Abdul Mannan di Tremas di Pacitan)

Baca juga:  Menelisik Hubungan Sunan Ampel dengan Wali-Wali Lain di Jawa

Salam dan Doa

Selain itu, terdapat juga fragmen manuskrip berisi ungkapan salam dan do’a dari KH. Ismail Tambakagung kepada Syaikhona Kholil Bangkalan yang tak lain adalah gurunya.

Dalam manuskrip tersebut juga didapati kutipan pernyataan dari Syaikhona Kholil Bangkalan yang berisi pentingnya beragama secara moderat dan proporsional, yaitu seimbangnya ilmu syari’at dan hakikat. Tertulis di sana:

كل حقيقة لا شريعة لها فهي عاطلة

وكل شريعة لا حقيقة لها فهي باطلة

(Setiap syari’at yang tidak dibersamai dengan hakikat adalah sia-sia

Dan setiap hakikat yang tidak dibersamai oleh syari’at adalah batil adanya)

Terdapat pula fragmen manuskrip berisi sertifikat haji yang diberikan oleh mufti Syafi’iyyah di Makkah, Sayyid Ahmad b. Zainî Dahlân (w. 1886) kepada KH. Sholeh Tambakagung Bangkalan (Madura), dengan titimangsa 1285 Hijri (1868 Masehi).

Terdapat pula manuskrip sertifikat ziarah Masjid Nabawi di Madinah yang diberikan oleh ulama Syafi’iyyah di Masjid Nabawi di Madinah, Syaikh Khalîl Tâyib kepada KH. Sholeh Tambakagung dengan titimangsa yang sama. Tertulis di sana:

من إمام شافعي وخطيب ومفتي الشافعية

قد حضر في هذا العام سنة 1285 بيت الله الحرام وزيارة قبر النبي عليه أفضل الصلاة وأزكى السلام

الحاج محمد صالح من بلاد مندورة

….

أمر برقمه المرتجي من ربه الغفران السيد أحمد بن السيد زيني دحلان

المدرس الخطيب الإمام بالمسجد الحرام ومفتي الشافعية بمكة المحمية

(Dari Imam [Madzhab] Syafi’i dan Khatib dan Mufti Syafi’iyyah …

Telah hadir pada tahun ini sanat 1285 ke Baitullah al-Haram, juga berziarah ke kubur Nabi, semoga doa terbaik dan salam terindah senantiasa tercurah kepadanya, Haji Muhammad Shaleh dari negeri Madura.

Telah memerintahkan untuk membuatnya, seorang yang mengharapkan ampunan dari Tuhannya, Sayyid Ahmad b. Sayyid Zaini Dahlan, seorang pengajar, khatib, dan imam di Masjidil Haram, serta mufti Syafi’iyyah di negeri Makkah Mahmiyyah 

Doa Wabah

Fragmen manuskrip lainnya yang dipamerkan adalah “Do’a Agar Dijauhkan dari Wabah” yang terdapat dalam manuskrip kitab “Habl al-Mukhtashar” yang ditulis oleh Muhammad Abdul Hadi Madura. Ijazah do’a tersebut didapatkan dari Syaikh Abdul Ghafur di Makkah, yang kemudian diriwayatkan oleh Kiyai Haji Muhammad Thayyib al-Din Pertapan, Madura.

Selain itu, terdapat pula fragmen halaman akhir dari manuskrip kitab “Habl al-Mukhtashar” dalam ilmu Ballaghah, yang ditulis oleh Muhammad Abdul Hadi Madura pada tahun 1278 Hijri (1861 Masehi). Tertulis di sana:

تمت هذا الكتاب المسمى بحبل المختصر في ليل السبت في وقت العشاء في شهر الصفر هلال خمسة وعشرين سنة الزا سنة 1278 من هجرة النبي ص م

Baca juga:  Kapan Sumber Ortodoksi Islam Masuk di Jawa?

وابنتداء سطور هذا الكتاب يوم الخميس وقت العصر

الفقير وصاحب السطر محمد عبد الهادي

(Telah selesai menulis kitab ini yang dinamakan “Habl al-Mukhtashar” pada malam Sabtu pada waktu Isya, pada bulan Safar tanggal 25 tahun Ze, sanat 1278 Hijrah Nabi SAW. 

Adapun bermula menulis kitab ini adalah pada hari Kamis waktu asar oleh al-Faqir, pemilik tulisan Muhammad Abdul Hadi)

Fragmen lainnya adalah naskah kitab cetak tua kategori cetak huruf baris (tipograf) karya Syaikh Nawawi Banten (w. 1897) berjudul “Tuhfah al-Ikhwân fî Syarh Manzhûmah Sya’b al-Îmân”.

Kitab tersebut dicetak oleh al-Mathba’ah al-Wahbiyyah di Kairo, Mesir, pada tahun 1296 Hijri (1879 Masehi) dan termasuk salah satu karya ulama Nusantara yang awal-awal dicetak di Timur Tengah pada pertengahan abad ke-19 M.

Selain itu, terdapat pula fragmen naskah kitab cetak tua kategori cetak batu (litograf) karya KH. Muhammad Shiddiq Jember, berjudul “Fath al-Rahmân fî Tajwîd al-Qur’ân”. Kitab tersebut dicetak oleh Percetakan al-Karimi yang berbasis di Bombai, India, tahun 1328 Hijri (1910 Masehi).

Terdapat pula fragmen kitab “Sullam al-Taufîq” milik KH. Hasan Bisri b. Ali Tawangsari Sidoarjo, yang terdapat terjemah interlinear (makna gandul) yang ia riwayatkan dari KH. Abdul Karim Lirboyo (w. 1954).

Terdapat titimangsa selesainya mengaji kitab tersebut kepada KH. Abdul Karim Lirboyo pada Malam Sabtu, Tanggal 24 Zulkaedah tahun 1934. 

Keterangan tersebut ditulis oleh Hasan Bisri, putra dari KH.R. Ali b. Abdul Wahhab Tawangsari. Sementara KH. Abdul Wahhab Tawangsari adalah ayah dari Nyai Nafisah, yang juga ibu dari KH. Abdul Wahhab Hasbullah Jombang (w. 1971), salah satu tokoh pendiri NU.

Abdul Karim Manaf (1856-1954 M) adalah pendiri pesantren agung Lirboyo Kediri, salah satu pesantren terpenting dalam sejarah tradisi keilmuan NU.

Dari Lirboyo banyak lahir ulama-ulama besar sepanjang zaman. KH. Abdul Karim adalah murid dari Syaikhona Kholil Bangkalan, juga kawan dekat dari KH. Hasyim Asy’ari.

Sungguh kaya khazanah manuskrip Indonesia ini. Ketua Panitia Pameran Nur Ahmad berharap, pameran berharga seperti ini dapat digelar pada konferensi-konferensi berikutnya. “Pameran foto, manuskrip, lalu nanti apa lagi, kaligrafi misalnya, akan menjadi kegiatan pendukungan konferensi agar makin greget dan lebih bermanfaat,” katanya. (A Ginanjar Sya’ban dan Susi Ivvaty)

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Scroll To Top