Sedang Membaca
Berdirinya Masjid Kami: Muslim Indonesia di Philadelphia, AS
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Berdirinya Masjid Kami: Muslim Indonesia di Philadelphia, AS

Achmad Munjid

Al Falah, masjid kami, Komunitas Muslim Indonesia di Philadelphia, AS, berdiri secara hampir begitu saja. Ia ditopang oleh empat pilar utama: kerinduan, kebersamaan, kehendak kuat serta kerja keras dan, tentu saja, susunan tatal doa-doa. Kami pun terus berupaya agar bisa memasang kubah mahkota paling berharga di atasnya: ikhlas. Mudah-mudahan Allah senantiasa membimbing kami untuk terus merawatnya, sebagai tempat bernaung bagi kehidupan lahir maupun batin kami semua.

Jauh dalam lubuk hati kami yang hidup di negeri sejauh ini, ditambah pengalaman sebagai bagian dari kaum minoritas yang cuma kira-kira 1% populasi penduduk Amerika (keseluruhan ummat Islam di AS diperkirakan sekitar 3-5 juta jiwa), kerinduan itu selalu menyala sejak semula.

Kerinduan akan kampung halaman dan masa kecil, kerinduan akan keluarga dan sanak saudara, dan tentu saja kerinduan akan Yang Maha Mulia, membuat hati kami selalu gelisah ketika kebutuhan jasmani dan ruhani tak tertunaikan sebagaimana mestinya.

Bertahun-tahun, sejak awal 1990-an, pada masa Alwi Shihab, Yusni Sabi dll. masih menjadi mahasiswa, atau bahkan jauh sebelumnya, komunitas Muslim Indonesia di Philadelphia pun membentuk jama’ah pengajian. Ketika kesibukan dan cuaca memungkinkan, secara berpindah-pindah, kami mengadakan pertemuan setiap bulan, di suatu akhir pekan.

Anggota yang kebetulan punya tempat lebih luas, tengah punya hajat atau rizqi yang lebih, atau karena alasan lain, bergilir menjadi tuan rumah. Kadang kami meminjam ruang di masjid-masjid yang sudah ada, paling sering di Makkah Masjid, dekat kampus Temple University di sisi utara kota.

Selama bulan puasa, kerinduan itu mendorong kami untuk bertemu setiap minggu. Di sanalah, kami punya kesempatan untuk bersembahyang, mengaji dan berdoa bersama, bercengkerama serta menikmati aneka masakan ala Indonesia.

Di negeri asing, di tengah penat kerja dan hingar-bingar dunia yang tak selalu bisa kami ikuti jalan ceritanya, kesempatan dan suasana demikian sungguh tak ternilai harganya. Dalam kebersamaan seperti itulah, kami bisa saling meneguhkan, saling menopang, dalam suka maupun duka.

Setiap Lebaran tiba, terutama ketika keadaan mengijinkan, kami pun selalu berusaha untuk menggelar shalat jama’ah ‘Id bersama di tempat yang luas atau terbuka.

Bahkan berkali-kali, kami meminjam aula gereja, terutama Gereja St. Thomas Aquinas dan Philadelphia Praise Center (PPC) yang memiliki gedung dan perlengkapan memadai serta lokasi yang sangat strategis di lingkungan tempat tinggal warga Indonesia, di sisi selatan kota.

Di kota Philadelphia, ada lebih dari dua ribu warga Indonesia yang rata-rata datang sebagai pekerja. Sebagian besar mereka beragama Kristen dan cukup banyak yang merupakan keturunan Tionghoa. Kurang lebih ada tiga belas gereja yang khotbahnya disampaikan dalam bahasa Indonesia. AlhamdulilLah, kami selalu rukun sebagai tetangga dan saudara.

Baca Juga:  Masjid Agung Taipei, Warisan Chiang Kai-shek yang Jadi Monumen

Kami saling mengundang ketika ada perayaan hari-hari besar agama atau acara syukuran, bahkan tak jarang kami mengadakan berbagai acara bersama, entah peringatan 17 Agustusan, penggalangan dana untuk para keluarga korban bencana ataupun lainnya.

Kerinduan akan Sang Pencipta yang maha melimpah cintaNya mendorong kami, ummat Islam Indonesia di Philadelphia, untuk senantiasa bersaudara dengan siapa saja. AlhamdulilLah, mereka pun selalu menyambut dengan sukacita dan riang gembira.

Kami pun bersyukur, berkat kebijakan yan adil dari pemerintah dan kedewasaan toleransi masyarakat Amerika, selama puluhan tahun, kami tak pernah mengalami masalah apa-apa sebagai ummat beragama, meskipun umumnya kami bukan warga negara AS.

Pada musim gugur tahun 2007 ketika lebaran jatuh di akhir pekan, kami menggelar jama’ah shalat Idul Fitri sendiri. Lima ratusan warga Muslim Indonesia datang memenuhi gedung olah raga yang kami sewa. Meski kami tahu ada cukup banyak warga Muslim Indonesia di Philadelphia (di kota New York, LA dan Washington DC lebih banyak lagi orang-orang kita), jumlah hadirin hingga lima ratus itu sungguh tak pernah kami kira sebelumnya.

Melihat itu, beberapa orang segera bertekad mendirikan masjid Indonesia, suatu rencana yang sejak bertahun-tahun hanya timbul-tenggelam diantara beberapa orang saja.

Maka segera dibentuklah panitia dan proposal. Pro dan kontra pun muncul seperti bisa kita duga. Tapi Panitia terus melangkah mengumpulkan dana, mencari lokasi bangunan yang kira-kira terjangkau harganya.

AlhamdulilLah, setelah melalui liku-liku tantangan, hampir-hampir secara ‘ajaib’ banyak orang segera bergandengan tangan mengerahkan tenaga dan sumbangan, hingga terkumpullah dana. Sebuah apartemen sederhana berlantai dua seharga $105 ribu yang beralamat di 1603 S. 17th St. Philadelphia, PA 19145, kami beli secara cicilan, hingga 30 tahun mendatang.

Lantai pertama, kami gunakan sebagai ruang utama masjid, basement-nya sebagai ruang makan sekaligus ruang kelas TPA, kadang juga tempat latihan kesenian dan olah raga. Sedangkan lantai dua kami fungsikan sebagai kamar-kamar sewa untuk para bujangan. Hasilnya lumayan, sangat membantu untuk membayar biaya listrik dan berbagai kebutuhan serta cicilan mortgage setiap bulan.

Setelah secara gotong-royong kami rombak sendiri di sana-sini, itulah yang kini menjadi masjid kebanggaan kami. Masjid al-Falah yang berdiri sejak bulan Mei 2008. “Al-Falah”, bagi kami adalah simbol, upaya, sekaligus cita-cita tentang “kemenangan”, baik dalam hidup sementara di dunia ini, maupun dalam kehidupan abadi di akhirat nanti.

Inilah masjid Indonesia kedua di Amerika, setelah al-Hikmah di kota New York. Ia juga menjadi bagian dari sekitar 40an masjid di kota Philadelphia yang berpenduduk sekitar 1.5 juta. Yang sangat membuat kami bangga, al-Falah berdiri berkat kehendak yang kuat dan kerja keras segenap anggota jama’ah dan para simpatisan secara hampir sepenuhnya.

Tentu tak tersebutkan entah berapa ribu tangan, pikiran dan nama-nama serta aneka bantuan yang datang tercurah dari mana-mana, dari barat dan timur, dari langit dan dari bumi.

Baca Juga:  Magrib di Surau Kecil Ajibarang

Sudah tiga tahun ini, kami pun bisa menikmati ‘mesranya kebersamaan’ di tengah hiruk pikuk tantangan hidup yang tak selalu mudah untuk ditundukkan. Setiap Kamis malam, kami rutin mengadakan Yasinan dan tahlilan serta mendendangkan nyanyian salawat kerinduan.

Di akhir pekan, menjelang petang, kami berkumpul, berbagi suka dan duka, dengan mengaji dan bersembahyang bersama, menelaah kembali ayat-ayat Alquran, sabda Rasulullah dan kisah hikmah para Nabi serta cerita indah orang-orang saleh dan para wali. Juga ketetapan hukum fiqih dan makna di baliknya sembari memahami bermacam-macam soal nyata sehari-hari yang tak selalu membuat kami tahu pasti harus bagaimana. Anak-anak kami pun belajar mengeja “alif-ba-ta”, mengaji doa-doa dan menyerap ajaran-ajaran agama, juga bermain bersama.

Setiap minggu, kami berdoa bersama, entah ketika ada teman yang sakit atau tertimpa musibah, ketika ada sanak keluarga yang meninggal, ketika ada yang punya hajat apa saja, ketika ada yang berulang tahun atau baru memperoleh keturunan, atau ketika ada yang saling jatuh hati dan memutuskan untuk menikah.

Baca Juga

Doa menjadi salah satu pilar utama masjid kami. Selain selama bulan Ramadan yang selalu semarak dengan berbagai kegiatan, kam biasanya menyelenggarakan shalat Idul Adha dan penyembelihan hewan kurban (terutama melalui pengiriman uang ke Tanah Air), peringatan Maulid, Isra’ Mi’raj dan berbagai perayaan hari besar.

Di saat tertentu, kami mengadakan wisata bersama teman-teman dan keluarga, entah tamasya ke suatu pantai atau mengarungi sungai dalam kegiatan air jeram di musim Panas, bermain ski ketka musim dingin, atau menikmati indahnya warna-warni bunga di Kebun Raya Longwood Garden ketika Musim Semi tiba. Dengan begini, kami bersyukur bisa menemukan dan mempererat tali silaturahmi banyak saudara. Tentu, masalah-masalah internal, entah yang menyangkut pribadi, persoalan keluarga, dll. bukan tidak ada. Tapi, bukankah di situlah peran agama dan fungsi komunitas untuk mengelolalnya? Maka kami bertekad untuk memandang segala masalah dan persoalan sebagai tantangan bersama, sebagai sarana buat menempa diri agar lebih dewasa.

Baca Juga:  Apa yang Dikisahkan Soekarno tentang Masjid Indonesia?

Jika ada tokoh, cendekiawan atau ulama dari Tanah Air yang tengah berkunjung, kami pun selalu berusaha untuk memanfaatkan kehadiran mereka. Alwi Shihab, KH Mustafa Ya’qub, dll, pernah singgah dan menyampaikan pengajian di masjid kami.

Alhamdulilah, Gus Mus pun berkenan hadir di tengah-tengah kami. Syafii Antonio, Habib Ismail Fajri Alatas, dan lain-lain juga datang dengan antusias. Alhamdulillah.

Beberapa mahasiswa asal Indonesia maupun Amerika, juga wartawan TV dan media massa lainnya, pernah datang berkunjung dan merekam kisah kami, baik untuk keperluan penelitian akademis maupun berita.

Pada tahun 2009, bekerja sama dengan Komunitas Nahdlatul Ulama AS-Kanada yang menyelenggarakan Muktamar I di Philadelphia, kami menggelar Kemah Musim Panas bersama. Tak jarang kami pun diundang dan menghadiri kegiatan antar umat beragama.

Pada 11 September 2010, misalnya, kami turut menghadiri pertemuan antar-umat beragama yang diprakarsai Ed Randell, Gubernur Pennsylvania, buat mengecam sikap anti-Islam dan diskriminasi agama apa saja seperti dipicu rencana pembakaran Alquran oleh seorang pastur di Florida.

Sebagai komunitas, meski dalam skala yang mungkin tak seberapa, kami pun kini memiliki kemampuan untuk membantu saudara yang mengalami kesulitan, orang Indonesia atau bukan, Muslim ataupun ummat agama yang berbeda, untuk memperteguh doa-doa yang kami panjatkan. Setiap tahun, kami mengumpulkan zakat Fitrah dan zakat mal untuk disalurkan ke Indonesia.

Ketika ada saudara kita yang tertimpa musibah, entah di Indonesia atau di Amerika, terutama seperti ketika bencana menimpa saudara-saudara kita di Aceh, di Padang, di Jogja dsb, kami berdoa dan bergandengan tangan semampunya buat meringankan penderitaan mereka.

Kami pun menyantuni saudara-saudara muslim yang datang ke Amerika sebagai pengungsi dari Burma. Selain buat mengelola diri sendiri, akhirnya kami belajar bahwa dengan membentuk jama’ah, alhamdulilLah, kami punya kesempatan untuk turut memberi warna.

Buat kami, di sinilah agama terasa menghadirkan peran yang hakiki sifatnya: menopang dan menyantuni kehidupan batin, memberikan orientasi makna yang membebaskan bagi para pemeluknya di manapun mereka berada, baik dalam tawa gembira maupun titikan air mata.

Lihat Komentar (0)

Komentari