Sedang Membaca
Menyandingkan Perpustakaan dengan Pasar: Sebuah Refleksi Peringatan Hari Buku Nasional
Zaimatus Sa’diyah
Penulis Kolom

Dosen IAIN Kudus, sedang menyelesaikan studi doktoral di Radboud University, Belanda dan aktif di PCI NU Belanda.

Menyandingkan Perpustakaan dengan Pasar: Sebuah Refleksi Peringatan Hari Buku Nasional

Whatsapp Image 2020 05 18 At 12.19.41 Am

Sabtu kemarin menjadi hari yang istimewa karena ini adalah pertama kalinya saya ke pasar tradisional Grote Markt di Nijmegen sejak badai Covid-19 menyerang dan mengharuskan semua orang untuk beraktifitas di rumah alias stay at and work from home. Saya menyebutnya pasar tradisional karena di pasar yang buka setiap Sabtu ini banyak stand-stand yang menyediakan berbagai kebutuhan harian dengan harga yang lebih murah di bandingkan super market.

Tradisional karena di momen ini petani-petani dari berbagai sudut kota Nijmegen di Belanda bertemu langsung dengan konsumennya dan menawarkan berbagai hasil bumi dan hasil ternaknya termasuk juga hasil tangkapan laut baik yang masih segar ataupun yang sudah diasap dan digoreng tepung khas Belanda, mereka menyebut menu ini dengan Kibbeling.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Ada juga “haring”, yaitu sejenis ikan yang disajikan mentah dengan taburan bawang bombay dan acar timun, salah satu kuliner khas Belanda yang saya sendiri belum berani mencobanya.

Whatsapp Image 2020 05 18 At 12.14.02 Am
Suasana pasar sebelum pandemi (Foto: penulis)

Suasana pasar yang juga punya sebutan Nijmegen farmers market ini hampir sama dengan Sunday Morning Market yang ada di sekitar kampus UGM Yogyakarta di mana produsen dan konsumen bertemu dan bertransaksi sehingga semakin lama pasar ini juga semakin berkembang dan menjadi alternatif tempat bercengkerama bersama keluarga atau teman dan kolega sambil menikmati beraneka ragam makanan untuk sarapan.

Saat tinggal di Yogyakarta, saya hampir tidak pernah absen berkunjung ke pasar dadakan yang buka setiap Minggu pagi di UGM ini untuk sekedar berjalan-jalan menghibur anak-anak yang saat itu masih balita sambil cuci mata melihat-lihat barang-barang yang dipajang di rak-rak pedagang dan ditutup dengan mampir di salah satu warung untuk sarapan.

Dalam situasi normal, kami sekeluarga biasanya ke Grote Markt dua minggu sekali sambil bersepeda sepanjang 5 km dari tempat tinggal kami, lumayan lah sambil olah raga dan menghirup udara segar. Posisi pasar yang berada di pusat kota dan dekat dengan Bibliotheek (perpustakaan), mendorong kami untuk sekaligus memanfaatkan kegiatan belanja ini untuk mengajak anak-anak meminjam beberapa buku bacaan.

Baca juga:  Sabilus Salikin (117): Tarekat Syadziliyah

Alhamdulillah mereka sangat senang karena kejenuhan mengikuti rutinitas belanja terbayar dengan hiburan di perpustakaan. Namun sejak kasus Covid-19 ini semua harus terhenti sementara waktu. Meski pemerintah Belanda sudah melonggarkan aturan lockdown, tapi kami sekeluarga memilih untuk tetap berhati-hati dan tidak keluar rumah kecuali untuk kebutuhan mendesak, dan anak-anak hanya keluar rumah untuk sekolah dua hari dalam seminggu. Terlihat jelas kegembiraan di wajah mereka saat bersiap untuk berangkat sekolah, wajar saja karena hampir dua bulan mereka tidak berjumpa dengan teman-teman sekolah meskipun selama masa lockdown mereka masih bisa bertatap muka dalam kelas-kelas daring. Bagaimanapun juga, pertemuan fisik tentu lebih berkesan dan menyenangkan.

Masih teringat saat pertama kali mengajak anak-anak ke Bibliotheek di pusat kota Nijmegen, mereka terlihat sangat antusias karena ribuan koleksi bacaan menanti mereka. Ditambah lagi keramahan petugas yang dengan penuh kesabaran menunjukkan mereka koleksi buku yang tepat sesuai dengan usia dan kemampuan bahasa Belanda mereka. Hal lain yang menarik dari perpustakaan ini adalah tata ruang yang membuat semua pengunjungnya betah untuk berlama-lama menghabiskan waktu membaca.

Whatsapp Image 2020 05 17 At 11.54.36 Pm
Suasana pasar (foto: penulis)

Di pojok khusus balita misalnya, tersedia ayunan, ranjang kecil, dan kursi-kursi mungil yang menjadikan mereka feel at home. Selain itu, di sepanjang lorong menuju ruang baca anak-anak, lantai-lantai dipersiapkan sebagai media bermain. Dengan bantuan teknologi pencahayaan, anak-anak diajak untuk berlatih ketangkasan menginjak lantai yang sedang menyala, persis seperti permainan Dance revolution yang ada di mal-mal di Indonesia. Bayangkan saja, siapa yang tidak kerasan tinggal di perpustakaan dengan tata ruang seperti ini?

Perpustakaan ini juga dilengkapi dengan kafe yang menyediakan makanan dan minuman ringan. Meski demikian, pengunjung juga diperbolehkan membawa bekalnya sendiri dan memakannya di ruangan yang telah disediakan. Kami lebih memilih untuk membawa bekal sendiri selain karena alasan ekonomis, alasan yang paling mendasar adalah kekhawatiran kami atas status kehalalan makanan-makanan yang disediakan.

Baca juga:  Pulang Haji: Jubah dan Ilmu

Ya, sebagai minoritas muslim, kami harus berhati-hati dengan urusan yang satu ini. Meski saat ini sudah sangat mudah menemukan gerai-gerai makanan halal di Belanda, tapi kami mencoba untuk mengajarkan pada anak-anak membawa bekal sendiri ke manapun kami pergi. Persis seperti tradisi keluarga-keluarga tradisional Indonesia yang selalu membawa bekal makanan ke manapun mereka pergi lalu disantap beramai-ramai. Sungguh kenikmatan yang luar biasa, tidak hanya menyajikan makanan yang dijamin lebih sehat dibandingkan makanan cepat saji namun juga menghangatkan hubungan keluarga.

Selain interior yang membuat setiap pengunjungnya betah, hal lain yang menarik bagi saya adalah tata kota yang memadukan pasar sebagai pusat kegiatan ekonomi dan perpustakaan sebagai pusat literasi. Ekonomi dan literasi merupakan dua pilar penting dalam membangun peradaban sebuah bangsa.

Jika kita merujuk pada sirah nabi, Rasulullah saw menjadikan masjid beliau sebagai pusat kegiatan masyarakat. Tidak hanya kegiatan yang bersifat ruhani atau spiritual seperti shalat, membaca alquran dan i’tikaf namun juga kegiatan lain yang berhubungan dengan pendidikan, budaya, politik serta kesejahteraan masyarakat. Meski saat itu belum ada perpustakaan, masjid sebagai tempat berkumpulnya Rasulullah saw bersama para sahabat beliau juga dimanfaatkan sebagai tempat berdakwah dan penyebaran ilmu pengetahuan. Selain itu, tidak jarang masjid juga dijadikan sebagai tempat untuk bertukar pikiran guna menyelesaikan berbagai permasalahan yang sedang dihadapi.

Pasca hijrah ke Madinah, salah satu agenda yang menjadi perhatian Rasulullah saw adalah menghidupkan ekonomi umat melalui pendirian pasar. Salah satu pasar peninggalan Rasulullah saw yang masih bisa disaksikan hingga saat ini adalah pasar al-Manakhah di Madinah yang letaknya kurang lebih 1,7 km dari Masjid Nabawi, jarak yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 5 hingga 10 menit. Pemilihan lokasi ini tentu membawa pesan bahwa masjid dan pasar mempunyai peran yang sama-sama penting dalam membangun peradaban sebuah bangsa.

Baca juga:  Merasakan Denyut Muslim Beijing

Masjid yang identik dengan kegiatan ukhrawi berdampingan dengan pasar yang merupakan pusat kegiatan ekonomi untuk pemenuhan kebutuhan duniawi masyarakat. Hal ini sejalan dengan salah satu ajaran Islam yaitu memenuhi kebutuhan duniawi dan ukhrawi secara seimbang. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Qashash ayat 77 yang artinya:

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Setiap kali berkunjung ke Grote Markt dan Bibliotheek di pusat kota Nijmegen, romantisme kejayaan Islam masa Rasul SAW selalu terbayang di pelupuk mata. Ada keharuan sekaligus harapan. Haru membayangkan betapa indahnya kehidupan masyarakat di masa Rasulullah SAW, sekaligus harapan yang senantiasa terpatri untuk terus menumbuh-kembangkan semangat menata hari ke depan agar menjadi lebih baik. Meski tidak sama persis dengan yang diajarkan Rasulullah dengan menyandingkan masjid dan pasar, keberadaan Bibliotheek dan Grote Markt di tengah kota ini sudah mewakili pesan akan pentingnya memperhatikan literasi dan ekonomi.

Saat ini tugas berat menanti kita semua untuk bisa menjadikan kekuatan literasi dan ekonomi sebagai lahan garapan utama dalam mempersiapkan generasi mendatang. Andai tidak bisa berharap pada pemangku kebijakan, tidak ada salahnya jika kita mulai dari diri kita sendiri. Rasanya bukan sesuatu yang mustahil jika kita menjadikan rumah kita sebagai sentra penggemblengan ruhani dan kekuatan mental melalui literasi serta kemandirian ekonomi sebagaimana yang diajarkan Rasulullah SAW. Semoga setiap harapan baik kita diamini oleh semesta. Selamat hari buku nasional!!!

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
1
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top