Sedang Membaca
Cak Nur Terlampau Serius
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Cak Nur Terlampau Serius

Rahmat Kamaruddin
Cak Nur Terlampau Serius

Maklum, anak baru lahir kemarin sore. Kenal Cak Nur saat namanya telah masyhur. Tugasnya sebagai manusia telah paripurna. Untungnya, Cak Nur dulu bukan saja rutin berceramah dan mendiskusikan gagasannya. Ia pun menuliskannya, mengabadikannya, sehingga saya bisa meraba-rabanya.

Sesungguhnya, Cak Nur punya banyak karya tulis yang semoga dengan membacanya, kita dapat memahaminya. Kukira, cara terbaik untuk memahami pokok-pokok pikiran Cak Nur itu sendiri, ya, dengan membaca buku-bukunya.

Pemikiran Cak Nur begitu menggoda diperbincangkan. Luas, dinamis, dan sarat permenungan. Itulah mengapa buku-buku mengenai pemikiran dan biografi Cak Nur tidaklah tunggal. Memang perlu upaya sistematis untuk memahami cakrawala pemikiran Cak Nur.

Kita sangat beruntung karena beberapa orang yang mendaku sebagai murid Cak Nur menulis ulang tentang Cak Nur berikut pemikirannya.

Ini buku yang ringan untuk memahami garis besar pemikiran utama Cak Nur. Hal tersebut tiada lain karena selain rutin menghadiri pengajian yang diisi Cak Nur, penulis buku ini juga banyak menyunting tulisan-tulisan Cak Nur menjadi buku. Secara agak jenaka, Wahyu Nafis menuliskan kenangan pertamanya kala berhasil masuk ke dalam ring satu zona Cak Nur.

“Saya buat surat permohonan kepada pengelola pengajian Paramadina untuk mendapatkan beasiswa mengikuti kelas-kelas pengajian. Dan, yes…permohonan saya diterima. Sejak itulah saya aktif mengikuti pengajian-pengajian di Paramadina yang narasumbernya sebagian besar Cak Nur, tanpa keluar biaya sepeser pun,” kenang penulis (h. xxv).

Buku ini membahas kisah Cak Nur sejak kecil. Rupanya Cak Nur kecil memang dikondisikan orang tuanya supaya giat belajar. Bila mana tampak kecenderungan Cak Nur untuk bekerja, orang tuanya segera menghalau dengan berkata, “Kamu nggak usah kerja. Pokoknya, mau sekolah di mana pun Bapak akan biayai” (h.8).

Baca juga:  Sabilus Salikin (114): Tarekat Alawiyah

Lahir dari keluarga Masyumi, menimba ilmu di lingkungan NU, akrab dengan tokoh Muhammadiyah. Cak Nur bertransformasi dari santri desa menjadi insan kosmopolitan. Yang tak kehilangan identitas, yang tak inferior di hadapan negara maju.

Meski buku ini tentang Cak Nur, paparan penulis mengenai situasi sosial-politik tahun 70 hingga 80-an turut serta tersaji dengan baik. Mulai dari ketegangan lintas ormas Islam dan pemerintah Orba, hingga gairah aktivisme mahasiswa yang kini hanya tinggal nostalgia.

Pada 1970-an, Cak Nur meracik serum intelektual bagi umat Islam. Mengingat kondisi yang belum memungkinkan, serum tersebut hanya dinikmati kalangan tertentu saja. Serum itu berupa gagasan agar umat Islam bersiap menyongsong kebangkitan Islam di Indonesia.

Melalui proses pemahaman komparatif mengenai sejarah perkembangan Islam di India dan Indonesia, Cak Nur menegaskan Islam di Indonesia tidak punya masa lalu seperti di India. Islam di Indonesia punya masa depan (h.228).

Serum itulah, yang agaknya menjadi, ruh bagi buku setebal 370 ini. Ada pada bab III dan IV. Bab III mengenai strategi pemikiran Cak Nur, bab IV trilogi pemikiran Cak Nur. Dibandingkan membaca langsung karya Cak Nur yang banyak menjadi sumber dari kedua bab ini, penulis secara terampil menyuguhkannya dengan bahasa yang membumi dan bernuansa personal, sehingga nikmat dipahami.

Beberapa pertanyaan yang coba dijawab buku ini di antara: Apa arti menjadi manusia yang beragama Islam? Bagaimana hubungan Islam dan politik? Bagaimana Islam memaknai modernisasi? dan, ini yang terpenting bagi generasi muda, “Apa landasan teologis-historis menjadi Muslim yang berkewarganegaraan Indonesia?”

Baca juga:  Perintah Bercita-cita dalam Syi’ir Ngudi Susila Karya Kiai Bisri

Di tengah kontestasi pemikiran keislaman di Indonesia yang hari ini mewarnai negeri kita, pemikiran Cak Nur menjadi amat penting dikaji. Terutama dalam menghadapi pemikiran keislaman yang kadar fanatisme-ahistorisitas-anakronismenya cukup akut.

Dulu, gagasan Cak Nur amatlah elit. Terkaget-kaget orang dibuatnya. Tidak sembarang orang dapat ikut dan sanggup memahaminya ketika Cak Nur mempresentasikannya. Gagasannya melampaui zamannya.

Baca Juga

Zaman untuk mengumandangkan lebih keras pemikiran Cak Nur telah tiba. Kini ia telah betul-betul siap menjadi konsumsi publik, terutama bagi generasi muda yang kerap kebingungan diombang-ambing kekoprolan elite Muslim dalam berbangsa, bernegara, dan beragama.

Agaknya, pemikiran Cak Nur, melalui buku ini, akan mudah dinikmati oleh generasi muda penikmat kajian Islam. Kompleksitas tulisan Cak Nur menjadi bersahaja oleh sentuhan penulis. Harusnya, pemahaman seorang Muslim mengenai keindonesiaan, keislaman, dan kemodernan itu harus tuntas sejak dini. Buku ciamik ini hadir untuk memenuhi keharusan itu.

Dalam pengantar buku ‘Menembus Batas Waktu: Panorama Filsafat Islam’ (2002), Haidar Bagir juga menyebut Cak Nur sebagai Guru Bangsa, seperti judul buku yang ditulis Muhamad Wahyu Nafis (2014) ini, yang karena itulah berlepas diri dari menjadi seorang spesialis di bidangnya.

Cakrawala pengetahuan Cak Nur yang sedemikan luas juga diamini Ahmad Syafii Maarif ketika ia menulis pengantar buku ini. “Penampilan fisiknya yang selalu sederhana, tetapi otak besarnya telah lama menggeluti masalah-masalah besar yang menyangkut keislaman, kemodernan, keindonesiaan, dan kemanusiaan universal,” tulis Syafii (xix).

Baca juga:  Terbius Gus Mus

Beberapa informasi mengenai Cak Nur dalam buku ini, agaknya, tak sepenuhnya dapat kita temukan di buku lain. Ada beberapa peristiwa yang tak banyak terungkap di hadapan publik. Misalnya, saat kuliah di Chicago, Cak Nur merasa jengah terhadap seorang profesor Yahudi, Prof. Leonard Binder. Alhasil, Cak Nur memutuskan pindah dari jurusan politik, ke filsafat dan pemikiran Islam di bawah bimbingan Prof. Fazlur Rahman.

“Tapi setelah cukup lama saya di Chicago, saya mulai mengetahui siapa sebenarnya masing-masing professor itu, kadang-kadang lengkap dengan latar belakangnya. Nah, singkat cerita, saya jadi tahu bahwa Binder itu mempunyai latar belakang yang agak mengerikan untuk telinga kita kaum Muslimin. Semasa mudanya ia adalah aktivis ‘Haganah’, itu organisasi teror yang membunuhi dan mengusir orang-orang Palestina menjelang berdirinya Israel dulu. Kata orang, pengalaman Binder selagi di bumi Palestina itulah yang mendorongnya mempelajari Timur Tengah dan Islam,” tulis Cak Nur, (h.99).

Kekurangan buku ini cuma satu. Sosok Cak Nur ditampilkan sebagai intelektual yang sama sekali tidak lucu. Dalam buku ini, Cak Nur terlampau serius. Entah, memang Cak Nur sosok yang konsisten menjaga sikap prihatin ataukah penulis buku ini memang tidak memasukkan unsur humoris pribadi Cak Nur?

 

Lihat Komentar (0)

Komentari