Sedang Membaca
Menjadi Hamba dengan Kebaikan yang Lebih Tinggi
Penulis Kolom

Mahasantri Mahad Aly Sa'iidusshiddiqiyah Jakarta; alumnus pesantren Al-Isti'anah Plangitan Pati.

Menjadi Hamba dengan Kebaikan yang Lebih Tinggi

286213820 10209698271609264 5170033230912393422 N

Orang yang tersenyum, sejatinya dia tak hanya membahagiakan orang lain, tapi juga membahagiakan Allah. Dan barangsiapa membahagiakan Allah, tentu hidupnya akan baik-baik saja, di dunia maupun di akhirat. (hlm. 29) 

Buku seni merayu Tuhan pertama kali aku buka dan baca ketika tengah dalam perjalanan menggunakan kereta rel listrik (KRL) menuju ke suatu tempat.

Pada sebuah kursi duduk fasilitas kereta aku berjejeran dengan seorang perempuan yang kurasa adalah seorang mahasiswi. Dan benar saja, saat kutanya ia mengaku tengah menempuh pendidikan S1 pada sebuah perguruan tinggi. Sedang perjalannya tersebut ia bercerita akan bertemu dengan dosen pembimbing karena tengah melangsungkan bimbingan atas skripsi yang digarapnya.

Selepasnya ia turun dari kereta, aku lanjutkan kembali membaca buku Seni Merayu Tuhan ini. Tak henti-hentinya aku terbujuk rayu oleh buku karangan Habib Husein Ja’far Al-Hadar untuk terus merampungkannya sampai tuntas. Setiap argumen-argumen yang dituliskannya menyatakan betapa kayanya imajinasi yang dibangun. Seperti karya yang sudah-sudah, Bib Husein selalu memikat pembacanya dengan bahasa kekhasannya yang milenialis banget.

Rayuan-rayuan yang disebut merupakan trik yang secara strategis digunakannnya untuk menghamba kepada Tuhan. Seperti terang Bib Husein, bahwa ibadah itu rayuan, seperti kita ke kekasih: tulus. Karena ketika kita tidak mampu merayu dan dengan secara tulus kepada Tuhan, maka ibadah kita bakalan hampa tanpa bisa teresapi dengan baik.

Mengenai rayuan kepada Tuhan, maka inti daripada merayu adalah ekspresi cinta yang kita tumbuhkan dalam jiwa kita. Maka output dari pada segala ibadah yang kita kerjakan adalah akhlak yang baik dan pikiran yang bijak.

Baca juga:  Novel Kubah dan Ronggeng Dukuh Paruk dalam Kacamata Gus Dur

Maka terang Bib Husein, ibadah semisal shalat yang dikerjakan itu hanya karena takut akan sebuah siksaan bila tak melaksanakannya, efeknya hanyalah membuat kita tak sadar bahwa ada pelajaran berharga dari ritual sholat itu bagi setiap fase kehidupan kita ini. Sah-sah saja bila Allah tak menyiksa hambanya sementara ia tidak melaksanakan shalat. Karena semua kehendak Allah, dan itu juga karena rahmat dari Allah.

Justru Allah bisa murka bila kita tak mampu menghayati setiap ibadah yang diperintahkan-Nya kepada kita. Ibarat kita memiliki kekasih, terus kekasih kita meminta untuk dipahami apa yang diinginkan namun kita tak mampu mengindahkannnya, maka rusak sudah hubungan antar keduanya.

Begitupula ritual ibadah Haji. Jika rangkaian ibadah itu tidak bisa berimplikasi baik pada kehidupan kita, maka sia-sia apa yang telah kita lakukan. Tidak lebihnya hal itu dari travelling karena pergi ke Makkah pada musim haji. Alih-alih mendapatkan predikat mabrur, malah haji yang dikerjakan membuat kita takabbur dan ajang kesombongan terhadap yang lain.

Allah pasti mengenali hambanya serta memahami setiap kebutuhan hidup mereka. Lantas bagaimana kita bisa mendapat rahmat Allah, sementara kita saja kadang belum sepenuhnya mengenali-Nya. Oleh karenanya, perlu kiat-kiat khusus agar kita berasa dekat dan mengenal Tuhan secara sublim.

Baca juga:  “Tafsir Al-Qur’an Suci Basa Jawi” Karya Muhammad Adnan

Diantara kiat yang direkomendasikan Bib Husein untuk merayu Tuhan sekurang-kurangnya adalah ada sembilan. Pertama, berbuat baik sehingga orang-orang disekitar kita merasa senang atas kinerja dan keberadaan kita di tengah-tengah mereka. Kedua, mengikuti sunnah Nabi, terutama akhlak dan cara berfikirnya. Ketiga, senantiasa bertakwa kepada Allah Swt. Keempat, bersabar dan terus bersabar dengan segala takdir-Nya. Kelima, bertawakkal setelah usaha yang maksimal. Keenam, bersikap adil atas segala sesuatu. Ketujuh, gemar persatuan dan merajut silaturrahmi. Kedelapan, menjaga kebersihan, baik kebersihan lahir maupun batin kita. Dan kesembilan adalah bertobat.

Bila kesembilan ini kita benar-benar malakukannya, maka tidak terperikan lagi kita akan lebih dekat dan dicintai Allah Swt. bila kita sudah dicintai dan dikenali-Nya maka kebahagiaan akan senantiasa terkucur dalam kehidupan kita ini. Rahmat dan karunia-Nya tak kunjung habis diturunkan. Dengan sisa kesempatan yang ada, maka jangan pernah berhenti untuk berusaha menjadi hamba-Nya dengan kebaikan yang lebih tinggi lagi.

Salah satu tulisan bertajuk Pelacur, Anjing, dan Rayuan untuk Tuhan adalah sebuah perenungan dan autokritik terhadap kita semua. Apa yang telah masyhur terkisahkan bahwa seorang pelacur yang diampuni dosanya lantaran memberikan air minum kepada anjing yang hampir mati kehausan. Pelacur yang selama ini kita anggap sebagai pelaku zina dan anjing yang disebut-sebut sebagai makhluk najis dan haram dagingnya itu justru mendapat rahmat dari Allah.

Baca juga:  Tentang al-Ghazali dan Pelajaran Filsafat di Pesantren

Apa yang membuat rahmat turun itu sesungguhnya karena sikap kerendah hatian yang senantiasa kita pupuk. Cerita pelacur yang masuk surga tersebut adalah karena kerendah hatian dan kerinduannya kepada sebuah jalan tobat. Bisa saja dia terpaksa melakukan dosa, lantaran tidak ada jalan lain yang bisa ia tempuh selain menjadi pelacur. Menyadari akan dosa yang ia lakukan itu, Allah memberikan jalan keluar berupa kesempatan untuk ia berbuat sebuah kebaikan. Atas kebaikan yang ditunaikannya Allah meridhoinya dan dihapuskanlah dosa-dosa yang diperbuat karena telah memberi minum anjing.

Maka bisa berbanding terbalik bila ada seorang yang gemar ibadah justru amalnya terhapuskan karena satu keburukan yang ia lakukan, semisal menghina pelacur atau menyakiti anjing. Dan itu mungkin terjadi karena orang yang ahli ibadah bisa bangkrut diakhiratnya bila menganiaya makhluk lain. Mereka yang mulanya terlihat rajin beribadah di dunianya, jika tidak berhati-hati maka ganjarannya akan habis dibagi-bagikan kepada makhluk yang telah disakitinya ketika di akhirat.

Maka, jangan bosan-bosan untuk terus merayu Tuhanmu. Dengan penuh kerendahan hatian dan tulus.

Identitas Buku

Judul: Seni Merayu Tuhan

Penulis: Husein Ja’far Al-Hadar

Tebal: 228 halaman

Terbit: Cetakan ketiga, April 2022

Penerbit: PT Mizan Pustaka

ISBN: 978-602-441-225-5

 

 

 

 

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
0
Senang
1
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top