Sedang Membaca
Film Islam: Potret Anak-anak Penghafal Alquran dari Tiga Negara
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Film Islam: Potret Anak-anak Penghafal Alquran dari Tiga Negara

Mohammad Pandu

“Film dokumenter ini tidak berpusat pada laki-laki, tidak pada Timur Tengah, tidak pada internal Islam; Koran by Heart mencoba memberi keragaman dalam perspektif dan visual.”

Nabiyullah memasang ekspresi bingung tatkala para juri berbicara dengannya. Ia cuma bocah desa dari Tajikistan yang tidak mengerti bahasa Arab. Tapi Nabiyullah dipuji-puji, para juri juga menciumi pipinya. Mereka terkesima mendengar bacaan Alqurannya yang merdu seperti burung.

“Suaranya indah sekali. Ini anugerah dari Tuhan. Ini benar-benar mukjizat Alquran,” kata Syekh Ibrahim Syu’aisy. Syekh Ibrahim adalah satu di antara lima juri dalam perlombaan membaca dan menghafal Alqur’an tersebut.

Presiden Persatuan Qori’ yang disegani itu terlihat menangis saat mendengarkan suara Nabiyullah. “Kita harus memintanya membaca di depan presiden,” lanjutnya.

Adegan tersebut benar-benar terjadi. Greg Barker mendokumentasikannya dalam film Koran by Heart (2011). Banyak adegan-adegan menyentuh dalam film ini. Film bergenre dokumenter-religius ini memotret perjalanan Nabiyullah, Rifdha, dan Djamil ketika mengikuti salah satu kompetisi bergengsi di dunia Islam: Lomba Alquran Internasional.

Tiap tahun, Mesir menyelenggarakan perlombaan hafalan dan bacaan Alquran tersebut. Pesertanya adalah anak-anak dari seluruh dunia, termasuk dari negara-negara non-Arab. Ada 110 qori’-qori’ah dari lebih dari 70 negara datang ke Kairo untuk mengikuti perlombaan ini. Sebagian besar peserta berusia belasan tahun, sedangkan yang termuda berusia antara tujuh sampai sepuluh tahun.

Lomba ini diadakan pada bulan Ramadan, bulan di mana Alquran pertama kali diturunkan. Perlombaan digelar selama tiga hari, mulai siang sampai malam, dan dihentikan sejenak untuk berbuka puasa saat matahari terbenam.

Koran by Heart tidak hanya mengajak kita melihat jalannya perlombaan, tapi juga latar belakang anak-anak penghafal Alquran. Rifdha berasal dari Maladewa (negeri kepulauan yang cantik, yang berada di Samudera Hindia), sedangkan Djamil berasal dari Senegal (Afrika Barat).

Baca Juga:  Dinamika Kiai NU atas Tari Gandrung Banyuwangi

Ditambah Nabiyullah yang berasal dari wilayah Asia Tengah, ketiganya memiliki titik pijak yang sama sekali berbeda. Hanya sedikit yang membuat mereka sama, ketiganya adalah bocah sepuluh tahun yang tidak paham bahasa Arab tapi hafal keseluruhan isi Alquran.

“Alquran adalah satu-satunya buku (kitab) yang dapat dihafalkan seluruhnya. Ini mukjizat. Anak-anak pun bisa menghafalkannya, bahkan tanpa mengerti maknanya,” kata Dr. Salim Abdul Jalil, Wakil Menteri Wakaf dan Urusan Dakwah Mesir yang bertanggung jawab atas terselenggaranya perlombaan.

Nabiyullah belajar Alquran di sebuah madrasah kecil di kampungnya bersama sang guru, Qori Muhammad. Nabiyullah hampir buta huruf. Selama ini ia hanya fokus menghafal Alquran tanpa mendapat pelajaran membaca atau menulis.

Ketika ia akan berangkat ke Kairo, madrasahnya ditutup oleh pemerintah Tajikistan dengan alasan menghentikan penyebaran ajaran fundamentalis. Ayahnya kemudian menyekolahkannya ke madrasah baru di ibukota. Madrasah yang juga menyediakan pelajaran umum serta memiliki izin dari pemerintah. Nabiyullah disarankan untuk mengikuti tes ujian masuk sepulang dari Mesir.

Salah sate adegan Djamil

Djamil tidak jauh beda. Ia belajar Alquran secara “privat” kepada Abu Bakar, gurunya. Pelajaran ini ditunjang oleh ayahnya yang selalu memeriksa hafalan Djamil, mengingat ayahnya juga seorang imam lokal di kampungnya. Praktis, Djamil tidak banyak mengonsumsi pelajaran umum di sekolah. Orangtua Djamil menyuruhnya untuk mengutamakan mempelajari Alquran dibanding apapun yang lain.

Sedangkan Rifdha bisa dibilang lebih beruntung dalam hal pendidikan. Ia adalah siswi berprestasi. Ia selalu unggul dalam pelajaran IPA dan matematika. Mimpinya menjadi seorang penjelajah. Namun tampaknya ia tidak bisa menghindari benturan keinginannya dengan sang ayah. Ayah Rifdha berpikir bahwa anaknya harus mendapat pendidikan tinggi, tapi bagaimanapun kelak tetap harus menjadi ibu rumah tangga.

Baca Juga:  Sekedup, Budaya Haji yang Dianggap Bid'ah

Melihat ketiga anak yang datang dari tiga negara, Maladewa, Sinegal, dan Tajikistan, seperti melihat anak-anak kita dari Indonesia, dengan latar belakang sosial ekonomi yang sederhana, latar belakang sosiologis pedesaan, dan yang lebih penting lagi dicatat adalah, sikap keberagamaan mereka tumbuh secara kultural dan orientasi spiritual, seperti kebanyakan kampung-kampung Islam di Indonesia. Mereka jauh dari diskursus Islam yang haus kekuasaaan, meskipun ada catatan konservatifisme, seperti yang diperlihatkan ayah Rifdha.

Di Kairo, ketiga anak cerdas ini bertemu. Rifdha dan Nabiyullah tampil mengesankan, meski ada beberapa kesalahan tajwid pada Nabiyullah dan ketidakfokusan pada Rifdha. Keduanya lolos dalam babak final bersama sepuluh anak lainnya. Sedangkan Djamil kurang beruntung, meski bacaannya tak kalah indah.

Lebih dari sekadar urusan menang-kalah, perlombaan menghafal dan membaca Alquran yang dianggap sebagian orang hanya akan menimbulkan sikap sombong dan pamer sebenarnya bisa kita pandang secara positif dan lebih terbuka.

Film ini tidak luput memberi substansi dari apa yang ia liput. Saya sepakat dengan apa yang dikatakan Mehdi, seorang Australia yang mendampingi anaknya untuk ikut kompetisi.

Baca Juga

“Kita di sini bukan untuk menang. Kita di sini hanya untuk melihat sampai di mana level kamu. Menantang dirimu sendiri dan melihat seberapa bagus kamu,” ungkapnya lugas.

Sang Sutradara, Greg Barker juga menampilkan kegelisahan umat Islam di negara-negara yang ia datangi dalam filmnya, yaitu terkait gerakan fundamentalis yang masif.

Baca Juga:  Memadukan Alquran dan Kitab Kuning

Tindakan antisipatif yang terjadi pada madrasah Nabiyullah di Tajikistan adalah salah satunya. Pun dengan potret ayah Rifdha yang kaku terhadap ajaran agamanya. Ia berpikir bahwa di Mesir banyak orang yang tidak baik, mereka tidak menjalankan ajaran agama sebagaimana mestinya. Sebab ayah Rifdha percaya bahwa laki-laki harus memelihara jenggot dan ujung celananya harus di atas mata kaki.

Dr. Salim Abdul Jalil, selain sebagai penanggungjawab perlombaan, ia juga salah satu figur Islam moderat ternama di Mesir. Ia punya peran penting dalam menyebarkan pemahaman moderat, baik di media atau di masjid-masjid yang ia kunjungi.

Dr. Salim menganggap bahwa gerakan fundamental tidak baik untuk masyarakat. Mereka ingin mengembalikan masyarakat kepada keadaan masa lalu. Mereka mencoba mengharamkan televisi, telepon gengam; apa saja. Gerakan fundamentalis mengira bahwa itu semua adalah kerja setan.

“Sayangnya, mereka yang mempromosikan paham ekstrim memiliki saluran-saluran TV dengan banyak penonton. Mereka mendapatkan banyak uang dan menyatakan diri sebagai suara Islam yang resmi. Maka, suara mereka lebih terdengar daripada suara kami, padahal kami adalah yang moderat. Ini sangat berbahaya,” kata Dr. Salim.

Koran by Heart cukup mendapat sambutan hangat dari para penonton dan kritikus. Di IMDb ia mendapat rating 7,3/10. Sedangkan Rotten Tomatoes mencatat 4,2/5 atau 82% orang menyukainya. Saya pribadi mengapresiasi “keseimbangan” yang diberikan oleh film produksi HBO (Home Box Office) ini.

Film ini tidak berpusat pada laki-laki, tidak pada Timur Tengah, tidak pada internal Islam; Koran by Heart mencoba memberi keragaman dalam perspektif dan visual.

Nabiyullah dikelilingi orang yang ingin mendengar bacaannya
Lihat Komentar (0)

Komentari